- Universal Pictures
Review Film The Odyssey, Epik Secara Visual, tapi Belum Menangkap Jiwa Mitologi Homer
Jakarta, tvOnenews.com - Setelah sukses besar lewat Oppenheimer yang memenangkan tujuh Academy Awards, Christopher Nolan kembali dengan proyek ambisiusnya, The Odyssey.
Film ini mengadaptasi epos klasik karya Homer yang telah menjadi fondasi sastra Barat selama hampir tiga ribu tahun, mengisahkan perjalanan panjang Raja Ithaca, Odysseus, untuk kembali ke rumah usai Perang Troya.
Dibintangi Matt Damon sebagai Odysseus, film ini mengikuti perjalanan sang pahlawan menghadapi berbagai rintangan selama sepuluh tahun pelayarannya. Mulai dari berhadapan dengan Cyclops Polyphemus, bangsa raksasa Laestrygonian, penyihir Circe, Sirens, Scylla dan Charybdis, hingga terjebak di pulau Calypso sebelum akhirnya kembali ke Ithaca untuk merebut kembali kerajaannya dan bertemu sang istri, Penelope.
Seperti karya-karya Nolan sebelumnya, The Odyssey tampil sebagai tontonan berskala besar. Sinematografi garapan Hoyte van Hoytema memaksimalkan lanskap alam dengan komposisi visual yang megah, sementara penggunaan kamera IMAX membuat setiap adegan terasa monumental. Sejumlah kritikus bahkan menyebut film ini sebagai salah satu pencapaian visual terbaik Nolan sepanjang kariernya.
Namun di balik pencapaian teknis tersebut, The Odyssey justru meninggalkan kesan yang sedikit berbeda.
Film ini memang mengagumkan untuk dilihat, tetapi tidak sepenuhnya memberikan pengalaman emosional maupun atmosfer mitologis yang diharapkan dari kisah sebesar The Odyssey.
Sebagai salah satu epos paling berpengaruh dalam sejarah, kisah Odysseus identik dengan dunia yang penuh misteri, campur tangan para dewa, dan perjalanan spiritual seorang manusia melawan takdir.
Dalam adaptasi Nolan, unsur-unsur tersebut terasa lebih membumi dan realistis. Beberapa adegan bahkan cenderung dibalut humor sehingga mengurangi kesan sakral maupun rasa takjub yang biasanya melekat pada mitologi Yunani.
Perasaan tersebut mengingatkan pada perbedaan pendekatan antara The Odyssey dan The Green Knight (2021). Sama-sama diangkat dari karya sastra kuno, The Green Knight membangun dunia yang terasa asing, sunyi, sekaligus menghantui.
Film garapan David Lowery itu membiarkan mitologi tampil sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan. Sebaliknya, The Odyssey lebih memilih menjadi petualangan epik yang mudah diikuti daripada pengalaman yang benar-benar terasa mistis.
Pandangan serupa juga muncul dari sejumlah media internasional. Richard Brody dari The New Yorker menilai Nolan mengurangi dimensi ritual dan keasingan yang menjadi ciri khas dunia Homer, sehingga film lebih menyerupai drama petualangan modern daripada pengalaman mitologis.
Sementara itu, ABC News Australia menyebut film ini bergerak sangat cepat dari satu peristiwa ke peristiwa lain sehingga beberapa momen kehilangan ruang untuk meninggalkan kesan mendalam.
Dalam epos Homer, Odysseus bukanlah pahlawan yang dikenang karena kekuatan fisiknya. Berbeda dengan Achilles yang identik dengan kemampuan bertempur, Odysseus dikenal sebagai polymetis atau man of many wiles, sosok yang selalu mengandalkan kecerdikan dan strategi.
Dialah otak di balik Kuda Troya, orang yang berhasil memperdaya Cyclops Polyphemus dengan menyebut dirinya "Nobody", serta berkali-kali selamat bukan karena mampu mengalahkan musuhnya, melainkan karena mampu berpikir beberapa langkah di depan mereka.
Dalam film Nolan, karakter tersebut terasa sedikit bergeser. Odysseus memang tampil sebagai pemimpin yang tangguh dan petarung yang sangat kompeten.
Namun kecerdikannya tidak pernah benar-benar menjadi pusat narasi. Ia lebih sering menyelesaikan konflik melalui kemampuan bertarung daripada strategi yang rumit maupun tipu muslihat yang menjadi ciri khasnya dalam mitologi Yunani.
Padahal, justru kecerdikan itulah yang selama ini membedakan Odysseus dari para pahlawan Yunani lainnya.
Di sisi lain, jajaran pemain tetap tampil solid. Matt Damon mampu membawa sisi manusiawi Odysseus sebagai sosok yang kelelahan oleh perang sekaligus dipenuhi kerinduan untuk pulang. Penampilan para pemeran pendukung juga memperkuat skala epik yang dibangun Nolan.
Hal yang sedikit mengejutkan justru datang dari musik garapan Ludwig Göransson.
Secara teknis, komposisinya tetap kuat dan mendukung visual film. Namun dibandingkan kolaborasinya bersama Nolan di Oppenheimer, scoring kali ini terasa kurang memiliki daya dorong emosional yang sama.
Musik memang hadir untuk mengiringi perjalanan Odysseus, tetapi jarang mencapai titik yang benar-benar mengangkat emosi penonton sebagaimana yang berhasil dilakukan dalam Oppenheimer maupun Dunkirk sehingga dampak emosionalnya belum mampu menyamai karya-karya terbaik Nolan sebelumnya.
Pada akhirnya, The Odyssey tetap merupakan film yang sangat layak ditonton. Dari sisi produksi, sinematografi, dan skala penceritaan, Nolan kembali menunjukkan mengapa ia masih menjadi salah satu sutradara paling ambisius di industri perfilman saat ini.
Meski demikian, bagi sebuah adaptasi dari salah satu kisah terbesar dalam sejarah sastra, film ini terasa belum sepenuhnya menangkap hal yang membuat legenda Odysseus bertahan selama ribuan tahun.
Hal yang paling membekas setelah menonton bukanlah kecerdikan sang pahlawan atau atmosfer mitologinya, melainkan kemegahan visual yang ditampilkan di layar.
Sebagai sebuah tontonan epik, The Odyssey berhasil memukau. Namun sebagai pengalaman sinematik yang mampu membangkitkan rasa takjub, misteri, dan keagungan sebuah mitologi, film ini terasa belum mencapai puncak yang pernah ditunjukkan Nolan melalui karya-karya seperti Oppenheimer dan Dunkirk.