news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Arnold Böcklin - Odysseus und Polyphemus (1896).
Sumber :
  • Wikimedia

Sebelum Nonton Filmnya, Kenalan Dulu dengan Kisah The Odyssey karya Homer

Film The Odyssey garapan Christopher Nolan kembali menghidupkan salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam sejarah dunia. 
Jumat, 17 Juli 2026 - 15:26 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Film The Odyssey garapan Christopher Nolan kembali menghidupkan salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam sejarah dunia. 

Ditulis oleh penyair Yunani kuno Homer sekitar abad ke-8 SM, The Odyssey bukan sekadar kisah petualangan, melainkan cerita tentang kecerdikan, ketahanan, dan kerinduan seseorang untuk kembali ke rumah.

Bagi penonton yang baru mengenal kisah ini melalui film, The Odyssey sebenarnya merupakan kelanjutan dari peristiwa dalam The Iliad, epos lain karya Homer yang berfokus pada Perang Troya.

Perjalanan pulang yang memakan waktu 10 tahun
Setelah Perang Troya berakhir, Raja Ithaca, Odysseus, memimpin pasukannya pulang ke kerajaan. Namun perjalanan yang seharusnya hanya berlangsung singkat berubah menjadi petualangan selama sepuluh tahun akibat murka dewa laut Poseidon.

Kutukan itu bermula ketika Odysseus berhasil mengalahkan Cyclops Polyphemus dengan tipu muslihat. Setelah membutakan mata sang raksasa, Odysseus mengungkap identitasnya saat meninggalkan pulau tersebut. Polyphemus yang merupakan putra Poseidon kemudian memohon balas dendam kepada ayahnya.

Sejak saat itu, perjalanan pulang Odysseus dipenuhi berbagai rintangan yang menguji bukan hanya kekuatan fisiknya, tetapi juga kecerdikannya.

Sepanjang pelayaran, Odysseus dan para awak kapalnya menghadapi berbagai makhluk legendaris dalam mitologi Yunani.

Mereka sempat singgah di negeri Lotus Eaters, tempat bunga lotus membuat siapa pun yang memakannya melupakan keinginan untuk pulang.

Mereka kemudian bertemu Cyclops Polyphemus, raksasa bermata satu yang memakan sebagian awak kapal Odysseus. 

Alih-alih melawannya secara langsung, Odysseus berhasil meloloskan diri dengan berpura-pura bernama "Nobody" sehingga Polyphemus tidak dapat meminta pertolongan saat matanya dibutakan.

Petualangan berlanjut ke negeri bangsa raksasa Laestrygonian yang menghancurkan hampir seluruh armada Odysseus, sebelum akhirnya ia bertemu penyihir Circe yang mengubah para awak kapalnya menjadi babi.

Atas petunjuk Circe, Odysseus bahkan melakukan perjalanan ke dunia orang mati untuk meminta nasihat dari peramal Tiresias mengenai cara pulang ke Ithaca.

Di perjalanan berikutnya, Odysseus juga harus melewati Sirens yang memikat pelaut melalui nyanyian mereka, monster laut Scylla dan pusaran air Charybdis, hingga akhirnya seluruh awak kapalnya tewas setelah melanggar larangan memakan sapi suci milik dewa matahari Helios. Odysseus pun menjadi satu-satunya yang selamat.

Ditahan Calypso selama tujuh tahun
Setelah kapalnya hancur, Odysseus terdampar di pulau Ogygia dan ditahan oleh nimfa Calypso selama tujuh tahun.

Calypso bahkan menawarkan keabadian apabila Odysseus bersedia tinggal bersamanya. Namun Odysseus menolak karena hanya memiliki satu tujuan yaitu kembali kepada istrinya, Penelope, dan putranya, Telemachus.

Atas campur tangan para dewa, Calypso akhirnya melepaskan Odysseus sehingga ia dapat melanjutkan perjalanan pulang.

Bukan pahlawan terkuat, tetapi paling cerdik
Berbeda dengan banyak tokoh dalam mitologi Yunani, Odysseus tidak dikenal karena kekuatan fisiknya. Jika Achilles merupakan simbol keberanian dan kemampuan bertarung, maka Odysseus dikenang sebagai sosok yang mengandalkan kecerdikan.

Dalam bahasa Yunani, Homer menyebutnya sebagai polymetis, yang berarti memiliki banyak akal atau penuh siasat. Kecerdikan itulah yang membuat Odysseus berhasil menyusun strategi Kuda Troya, memperdaya Cyclops Polyphemus, hingga berkali-kali lolos dari berbagai ancaman yang tidak mungkin dihadapi hanya dengan kekuatan.

Karena itulah banyak akademisi menganggap The Odyssey bukan sekadar kisah tentang perjalanan pulang, tetapi juga tentang bagaimana kecerdasan, kesabaran, dan kemampuan beradaptasi mampu mengalahkan kekuatan semata.

Akhir perjalanan Odysseus
Setelah dua puluh tahun meninggalkan Ithaca, sepuluh tahun berperang dan sepuluh tahun mengembara, Odysseus akhirnya berhasil pulang.

Namun rumahnya telah dikuasai para bangsawan yang berusaha mempersunting Penelope karena mengira Odysseus telah meninggal dunia.

Dengan bantuan dewi Athena, Odysseus menyamar sebagai pengemis untuk mengamati keadaan istananya. Saat Penelope mengadakan sayembara memanah menggunakan busur milik Odysseus, tidak ada satu pun pelamar yang berhasil melakukannya.

Odysseus kemudian membuka penyamarannya, memasang busurnya sendiri, dan bersama putranya membunuh seluruh pelamar yang telah menguasai istana.

Kisah ditutup dengan pertemuan kembali Odysseus dan Penelope, menandai akhir perjalanan panjang yang telah berlangsung selama dua dekade.

Mengapa The Odyssey masih relevan?
Selama hampir tiga ribu tahun, The Odyssey terus diadaptasi dalam berbagai bentuk, mulai dari novel, teater, opera, hingga film.

Meski dipenuhi dengan kisah monster, dewa, dan makhluk mitologi, inti cerita ini tetap terasa dekat dengan kehidupan manusia. 

The Odyssey tidak hanya menceritakan tentang petualangan melawan monster, melainkan tentang kerinduan akan rumah, kesetiaan keluarga, harga yang harus dibayar akibat kesombongan dan penentangan terhadap dewa-dewi, serta keyakinan bahwa kecerdikan sering kali lebih berharga daripada kekuatan.

Tak heran jika epos karya Homer ini masih dianggap sebagai salah satu kisah paling berpengaruh dalam sejarah sastra dan terus menginspirasi berbagai adaptasi, termasuk film terbaru garapan Christopher Nolan.

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:00
04:23
02:55
01:22
01:15
02:16

Viral