news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ralph Fiennes sebagai Odysseus di Film The Return (2024).
Sumber :
  • Prime Video

Review The Return (2024), Ketika Odysseus Pulang sebagai Pria yang Patah, Bukan Pahlawan

Selama tiga ribu tahun, kisah The Odyssey karya Homer hampir selalu dikenang lewat petualangan spektakulernya seperti menghadapi Cyclops, godaan Siren, murka Poseidon, hingga tipu daya Kuda Troya. 
Senin, 20 Juli 2026 - 16:54 WIB
Reporter:
Editor :

Kepulangan yang selama ini menjadi tujuan hidupnya ternyata tidak serta-merta menghapus jarak emosional yang tercipta selama bertahun-tahun.

Hal yang membuat The Return terasa berbeda dibanding adaptasi The Odyssey lainnya adalah sudut pandangnya. 

Pasolini nyaris menghapus seluruh elemen fantasi yang identik dengan kisah Homer. Tidak ada Cyclops, Siren, dewi Athena yang turun tangan, ataupun monster-monster mitologi. 

Sebagai gantinya, film ini memusatkan perhatian pada trauma seorang veteran perang yang pulang setelah dua dekade dan mendapati bahwa waktu tidak pernah berhenti menunggunya. 

Pendekatan realistis ini menjadikan psikologi para karakter sebagai pusat cerita, meski konsekuensinya ritme film terasa jauh lebih lambat dan minim aksi dibanding adaptasi epik lainnya.

Namun kekuatan terbesar film ini bukan sekadar menggambarkan trauma perang, melainkan memperlihatkan dilema Odysseus sebagai manusia. 

Selama ini, ia selalu dipandang sebagai pahlawan yang tak terkalahkan, ahli strategi yang mampu mengakali dewa maupun manusia. 

Akan tetapi, saat akhirnya berhasil pulang, ia justru dihadapkan pada musuh yang tak bisa dikalahkan dengan kecerdikan atau pedang yaitu rasa bersalah dan waktu yang telah merenggut dua puluh tahun kehidupannya.

Ralph Fiennes menangkap konflik batin itu dengan luar biasa. Hampir seluruh emosinya disampaikan melalui tatapan, bahasa tubuh, dan keheningan. 

Ia memerankan Odysseus bukan sebagai sosok yang ingin merebut kembali kekuasaan, melainkan seseorang yang takut ditolak oleh keluarga yang selama ini menjadi alasan ia bertahan hidup.

Perang memang telah selesai, tetapi perang di dalam dirinya baru benar-benar dimulai ketika ia menginjakkan kaki di Ithaca.

Juliette Binoche juga tampil memikat sebagai Penelope. Selama ini Penelope sering dipandang hanya sebagai simbol kesetiaan dalam The Odyssey. 

Di tangan Binoche, ia menjadi karakter yang jauh lebih kompleks, perempuan yang lelah menunggu, tetapi tetap memilih bertahan bukan semata karena cinta, melainkan karena keyakinannya terhadap identitas dan martabatnya sebagai ratu Ithaca. 

Hubungan Penelope dan Odysseus terasa begitu emosional karena keduanya sama-sama berubah oleh waktu. 

Berita Terkait

1
2
3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:09
00:49
01:16
05:05
05:32
05:41

Viral