- Prime Video
Review The Return (2024), Ketika Odysseus Pulang sebagai Pria yang Patah, Bukan Pahlawan
Mereka bukan lagi pasangan yang saling mengenal, melainkan dua orang asing yang berusaha menemukan kembali alasan untuk saling percaya.
Inilah pembacaan paling menarik yang ditawarkan The Return. Film ini mempertanyakan apakah kepulangan benar-benar dapat mengembalikan apa yang telah hilang.
Odysseus memang berhasil menaklukkan Troya, lolos dari murka Poseidon, dan bertahan menghadapi berbagai cobaan. Namun ia tidak pernah bisa mengalahkan satu musuh yang paling kejam yaitu waktu.
Dua puluh tahun bukan sekadar angka, melainkan kehidupan yang terlewat, tahun-tahun ketika putranya tumbuh tanpa ayah, ketika istrinya menanggung beban seorang diri, dan ketika kerajaannya belajar bertahan tanpa rajanya.
Pendekatan seperti ini mungkin mengecewakan penonton yang mengharapkan aksi heroik khas kisah Yunani kuno.
Tempo film sengaja dibuat tenang, bahkan nyaris kontemplatif, dengan lebih banyak ruang untuk tatapan, jeda, dan percakapan dibanding adegan peperangan.
Akan tetapi, justru dalam kesunyian itulah film menemukan kekuatannya. The Return mengubah The Odyssey dari kisah petualangan menjadi refleksi tentang trauma, penyesalan, kehilangan, dan harga yang harus dibayar seseorang demi sebuah kemenangan.
Film ini pun lebih mengingatkan bahwa inti The Odyssey mungkin memang bukan tentang mengalahkan monster, melainkan tentang pulang.
Dan kepulangan, seperti yang dialami Odysseus, tidak selalu membawa kebahagiaan. Kadang, pulang justru berarti menghadapi kenyataan bahwa rumah yang selama ini kita rindukan telah berubah, begitu pula diri kita sendiri.