- A24/Google
AI di Industri Hiburan Makin Masif, Hak Cipta dan Masa Depan Kreator Dipertanyakan
Jakarta, tvOnenews.com - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) generatif semakin mengubah cara industri hiburan memproduksi karya.
Jika sebelumnya AI hanya digunakan untuk membuat gambar atau teks sederhana, kini teknologi tersebut mulai dimanfaatkan dalam pembuatan storyboard, efek visual (VFX), penyuntingan video, ilustrasi, hingga proses praproduksi film.
Perkembangan ini membuat AI tak lagi dipandang sebagai teknologi eksperimental, melainkan mulai menjadi bagian dari ekosistem industri kreatif.
Di sisi lain, semakin luasnya penggunaan AI juga memicu perdebatan mengenai hak cipta, etika, dan masa depan profesi kreatif.
Sejumlah sengketa hukum masih berlangsung terkait dugaan penggunaan karya berhak cipta sebagai data pelatihan model AI.
Beberapa perusahaan teknologi, seperti Stability AI, OpenAI, Midjourney, hingga Suno, menghadapi gugatan dari ilustrator, penulis, media, maupun perusahaan musik yang menilai karya mereka digunakan tanpa izin atau kompensasi.
Perkara-perkara tersebut menjadi salah satu ujian terbesar dalam menentukan batas hukum penggunaan AI generatif di industri kreatif.
Di tengah kontroversi tersebut, sejumlah studio besar justru mulai berinvestasi pada AI.
Salah satu langkah paling mencolok dilakukan Lionsgate, studio di balik waralaba John Wick dan The Hunger Games.
Pada September 2024, Lionsgate mengumumkan kerja sama dengan perusahaan AI Runway untuk mengembangkan model AI video yang dilatih menggunakan katalog film milik studio tersebut.
Menurut pihak Lionsgate, teknologi itu akan digunakan untuk membantu proses praproduksi dan pascaproduksi, seperti pembuatan storyboard, visualisasi adegan, hingga efek visual, dengan tujuan mempercepat pekerjaan para sineas, bukan menggantikan mereka.
Kerja sama serupa mulai bermunculan di industri. AMC Networks, misalnya, juga menggandeng Runway untuk mengeksplorasi penggunaan AI dalam produksi konten. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa AI mulai dipandang sebagai alat produksi yang dapat menekan biaya sekaligus mempercepat alur kerja di studio.
Sementara itu, tidak semua sineas memandang AI sebagai ancaman. Sutradara Titanic dan Avatar, James Cameron, bahkan bergabung sebagai anggota dewan direksi perusahaan AI Stability AI pada 2024.
Dalam pernyataannya, Cameron mengatakan ketertarikannya bukan untuk menciptakan film sepenuhnya dengan AI, melainkan memahami bagaimana teknologi tersebut dapat mempercepat proses efek visual dan produksi film berskala besar.