- Antara
Kemenkes: Anak Usia Sekolah Sumbang 41 Persen Kematian Akibat DBD, Pencegahan Harus Dimulai dari Rumah
Jakarta, tvOnenews.com - Pencegahan demam berdarah dengue (DBD) dinilai tidak bisa hanya mengandalkan peran sekolah atau pemerintah. Rumah menjadi benteng pertama, sementara keluarga merupakan garda terdepan dalam melindungi anak-anak dari ancaman nyamuk Aedes aegypti.
Menurut data Kementerian Kesehatan, kelompok usia 5–14 tahun menyumbang 41 persen dari total kematian akibat DBD. Fakta ini menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti.
Genangan air di bak mandi, tempat penampungan air yang tidak tertutup, maupun barang bekas yang dapat menampung air hujan masih menjadi faktor risiko utama berkembangnya jentik nyamuk di lingkungan rumah.
Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan yang diwakili oleh Dr. Agus Handito menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif berbasis bukti menjadi kunci dalam menekan angka kematian akibat dengue.
“Pendekatan kolaboratif berbasis bukti harus menjadi landasan dalam setiap implementasi program menuju target Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030,” ujar Dr Agus dalam keterangannya, dikutip Jumat (31/7/2026).
- Enesis Group.
Artis Ririn Ekawati, yang dikenal sebagai ibu dari dua anak, menekankan bahwa kebiasaan sederhana di rumah memiliki dampak besar. Ia mengajak keluarga Indonesia untuk mulai menerapkan 3M+ secara konsisten.
"Seperti menguras tempat penampungan air minimal seminggu sekali, menutup rapat wadah penyimpanan air, dan memanfaatkan barang bekas yang berpotensi menampung air hujan," bebernya.
Menurutnya, perlindungan dari gigitan nyamuk dengan penggunaan lotion anti nyamuk juga menjadi langkah penting.
Sementara itu, RM Ardiantara, Head of Human Resources, Services and Public Relations Enesis Group, mengatakan pihaknya melibatkan figur publik agar pesan kesehatan lebih mudah diterima masyarakat.
“Kami berharap Gerakan 3M+ tidak hanya menjadi jargon, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakat,” ujar RM Ardiantara.
Ia menambahkan bahwa peran keluarga menjadi faktor yang sangat menentukan karena anak-anak cenderung meniru kebiasaan orang tua.
“Peran keluarga sangat krusial karena anak-anak meniru apa yang dilakukan orang tua di rumah. Jika orang tua rutin menguras bak mandi dan menjaga kebersihan lingkungan, anak-anak akan menganggap itu sebagai kebiasaan wajib, bukan sekadar perintah," katanya.
Rangkaian kegiatan ASEAN Dengue Day 2026 mengusung tema “Indonesia Pionir Gerakan Bebas Dengue di ASEAN”. Program ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dinas Pendidikan Jakarta, dan Enesis Group melalui Soffell, dengan fokus pada edukasi pencegahan DBD di lingkungan sekolah dan keluarga.
Sebagai bagian dari program tersebut, edukasi dilakukan melalui roadshow di sejumlah sekolah dasar di Jakarta, yakni SDN 03 dan 05 Tanah Tinggi, SDN 20 Utan Kayu Selatan, serta SDN 02 Mampang Prapatan. Para siswa mendapatkan edukasi interaktif mengenai Gerakan 3M+, yaitu Menguras, Menutup, Mendaur Ulang, serta pentingnya perlindungan diri dari gigitan nyamuk sebagai bagian dari upaya pencegahan DBD.
Kegiatan ini juga dikaitkan dengan target nasional Indonesia Zero Dengue Death 2030, yang menekankan pentingnya langkah promotif dan preventif secara berkelanjutan.
Gerakan 3M+ selama ini menjadi salah satu strategi utama pencegahan DBD di Indonesia. Praktik sederhana seperti menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, mendaur ulang barang bekas, serta melindungi diri dari gigitan nyamuk dinilai dapat menurunkan risiko penularan jika dilakukan secara konsisten oleh masyarakat. (cmi)