news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Koleksi wastra nusantara di IFW 2026..
Sumber :
  • tvOnenews/Sumiyati.

IFW 2026 Tunjukkan Batik dan Wastra Nusantara Bisa Tampil Sangat Kontemporer

Di panggung IFW 2026, batik dan kain tradisi tampil bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai bagian dari percakapan mode yang relevan untuk generasi sekarang.
Kamis, 6 Agustus 2026 - 00:54 WIB
Reporter:
Editor :

 

Jakarta, tvOnenews.com - Mencari titik temu antara tradisi dan inovasi selalu menjadi tantangan dalam dunia mode. Pakem budaya yang kuat sering dianggap berseberangan dengan kebutuhan akan kebaruan desain. Namun, panggung LUMINARA pada hari ketiga Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 memperlihatkan bahwa keduanya justru dapat berjalan beriringan.

Deretan koleksi dari Lia Afif X Dekranasda Kabupaten Jombang, Nobby X Biyantie, Duai Fav, House of Syaira, Ayesha by MNO, Indah Darry X Lutsaf, Arinna Premium Hijab, Jiamila, dan Zahira by Kyoko menghadirkan wastra Nusantara dalam bahasa desain yang lebih segar. Batik pewarna alam, motif kuliner tradisional, hingga identitas budaya Betawi diterjemahkan ke dalam siluet kontemporer yang dekat dengan gaya hidup generasi muda.

Salah satu sorotan datang dari kolaborasi Lia Afif bersama Dekranasda Kabupaten Jombang melalui koleksi Akasa Dharani. Koleksi ini mengangkat Batik Tulis Jombang berpewarna alam sebagai medium untuk menggambarkan relasi antara langit dan bumi.

"Kata Akasa berarti langit, direpresentasikan melalui keindahan gradasi warna biru pada kain batik. Sementara Dharani berarti bumi, dilambangkan oleh kehangatan nada warna cokelat dan hijau zaitun yang mencerminkan warna tanah. Seluruh elemen ini menyatu dalam satu kesatuan koleksi utuh dan menawan bersama Batik Jombang," kata Lia Afif.

Sebanyak 12 tampilan dihadirkan, terdiri atas 11 busana perempuan dan satu busana pria, dengan eksplorasi siluet A-line dan I-line, permainan drapery, potongan asimetris, serta konstruksi modern. Menariknya, seluruh kain batik dikerjakan menggunakan pewarna alam, dengan proses pembuatan yang dapat memakan waktu lebih dari satu bulan untuk selembar kain.

Eksplorasi budaya juga hadir melalui DUAI FAV yang mengangkat identitas Saroja, kudapan khas Priangan yang selama ini menjadi bagian dari identitas label tersebut. Untuk pertama kalinya, bentuk Saroja diterjemahkan ke dalam motif batik tulis melalui koleksi Marcapada.

"Marcapada itu merupakan alam semesta, jadi keindahan alam semesta seperti busana dikenakan model," kata desainer sekaligus pemilik Duai Fav, Bunna Ila.

Koleksi ini menghadirkan 12 tampilan yang menjangkau berbagai segmen, termasuk rancangan untuk Gen Z melalui perpaduan batik tulis dan brokat dengan siluet yang lebih ringan. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana batik dapat tampil modern tanpa kehilangan akar budayanya.

Interpretasi baru terhadap budaya lokal juga ditampilkan Indah Darry X Lutsaf. Alih-alih menggunakan simbol Betawi yang lazim, koleksi ini memilih motif kembang kelapa dengan pendekatan tribal dan palet warna yang lebih dekat dengan preferensi anak muda.

"Visi besarnya adalah menghadirkan desainer Betawi yang mampu membawa kekayaan budaya lokal menuju panggung internasional sekaligus memperkenalkan wastra Betawi dalam bahasa desain yang lebih kontemporer", kata owner Lutsaf, Luthfiah.

Sementara itu, Zahira by Kyoko memadukan elemen wastra sebagai aksen dengan potongan modern yang diperkaya sentuhan blazer.

"Pendekatan desain difokuskan pada siluet dekat dengan preferensi generasi muda sehingga elemen budaya dapat dikenakan secara lebih kasual tanpa kehilangan nilai estetikanya," kata Koyko

Di sisi lain, House of Syaira menghadirkan koleksi busana muslim bertema Blossomsy yang menonjolkan karakter perempuan lembut, tenang, dan elegan. Material satin dan embroidery dipadukan dengan siluet ringan sehingga koleksi terasa mudah dikenakan untuk berbagai kesempatan.

Melalui LUMINARA, para desainer menunjukkan bahwa masa depan wastra Nusantara tidak hanya bergantung pada upaya pelestarian, tetapi juga pada keberanian menghadirkan interpretasi baru. Di panggung IFW 2026, batik dan kain tradisi tampil bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai bagian dari percakapan mode yang relevan untuk generasi sekarang. (cmi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:14
02:20
02:18
05:03
02:41
01:41

Viral