- Ins
Siapa Wanita Berbaju Putih di Balik Challenge Surat Ad-Duha Berhadiah Miras? Ini Pengakuan MC Newport
“Saya Ega, selaku MC booth Newport pada Minggu, 9 Agustus 2026, memohon maaf atas kejadian yang terjadi saat acara berlangsung. Kejadian tersebut merupakan aksi spontan audiens dan tidak terkait dengan pihak Newport. Saya mengakui kelalaian dalam mengendalikan situasi dan menjadikannya pembelajaran untuk lebih sigap dan bertanggung jawab ke depannya. Mohon maaf atas kegaduhan yang terjadi,” tulis Ega melalui akun Threads @aqueer_.
MC Akui Lalai Mengambil Kembali Mikrofon
Dalam penjelasannya, Ega mengatakan awalnya dirinya sedang berinteraksi dengan pengunjung booth. Situasi kemudian berubah ketika seorang perempuan dengan atasan putih mengambil alih mikrofon.
“Pada saat jeda acara, saya melakukan interaksi dengan pengunjung. Lalu, ada audiens yang memakai atasan putih tiba-tiba mengambil alih mic saya,” jelas Ega.
Menurut dia, perempuan tersebut kemudian memberikan sayembara kepada pengunjung lain untuk melafalkan sebuah surat dengan imbalan yang ditawarkan oleh audiens tersebut.
“Audiens tersebut langsung memberikan sayembara melafalkan salah satu surat kepada pengunjung lain dengan imbalan yang ditawarkan oleh audience tersebut,” katanya.
Meski menyebut tindakan tersebut sebagai aksi spontan audiens, Ega tetap mengakui adanya kelalaian dari dirinya sebagai MC. Menurutnya, seorang MC memiliki tanggung jawab memastikan aktivitas di panggung tetap sesuai konsep yang telah ditentukan.
“Ketika mengetahui penyampaian sayembara tersebut, saya lalai untuk mengambil alih mic tersebut, karena pada dasarnya MC memiliki tugas dan kewajiban untuk memastikan acara berlangsung sesuai dengan konsep yang telah ditentukan oleh brand,” ujarnya.
Dengan demikian, keterangan Ega belum menjawab siapa sebenarnya perempuan tersebut. Identitasnya juga belum disampaikan secara terbuka dalam klarifikasi yang tersedia.
Penyelenggara Kecam dan Evaluasi Kejadian
Kontroversi tersebut kemudian mendapat respons dari penyelenggara The Sounds Project. Pihak promotor menyatakan marah dan kecewa serta menegaskan bahwa penggunaan agama sebagai bahan lelucon atau alat promosi bukan bagian dari arahan mereka.
“Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan lelucon atau alat promosi produk dalam bentuk apa pun,” tulis penyelenggara dalam pernyataannya, Selasa (11/8).