- Antara
Ali Masykur Musa: Meneguhkan Komitmen Wathaniyah NU
tvOnenews.com - Jelang memperingati HUT RI ke-81 dan jelang Muktamar NU ke 35, Ali Masykur Musa mengajak keluarga besar NU untuk memperkokoh pondasi bangsa yaitu meneguhkan Amanatul Wathaniyah.
Semangat kebangsaan, menurutnya, tidak boleh luntur dalam perjalanan NU memasuki abad kedua. Pergantian kepemimpinan dan dinamika organisasi tidak boleh menggeser orientasi dasar NU sebagai organisasi yang mengabdi kepada umat dan bangsa Indonesia.
“Semangat kebangsaan tidak boleh luntur, siapapun ketua umumnya,” tegas Ali Masykur Musa, Mudir Aly Idarah Aliyah JATMAN.
Ia kemudian menyampaikan prinsip yang menurutnya harus menjadi pegangan dalam membaca masa depan NU. "NU tidak boleh dijual, NU adalah untuk umat, NU untuk bangsa, bukan NU untuk kepentingan diri sendiri.”
Pernyataan tersebut menempatkan kepemimpinan NU dalam kerangka amanah. Jabatan dalam organisasi tidak semestinya menjadi tujuan bagi kepentingan personal, melainkan untuk berkhidmah. NU harus tetap berdiri sebagai kekuatan yang orientasinya melampaui kepentingan individu maupun kelompok.
Menurut Ali Masykur Musa, semangat tersebut memiliki akar sejarah yang panjang. Ia mengajak berkomitmen pentingnya Amanatul Wathaniuah Wathan atau semangat kebangsaan sebagai komitmen NU dalam seluruh rentang sejarahnya.
Karena itu, ia mengajak agar sejarah hubungan NU dengan perjalanan bangsa tidak sekadar dikenang, tetapi kembali diukir melalui kontribusi nyata.
“Saat ada masalah bangsa, di situlah NU harus menjadi 'part of solution-nya', ujarnya.
Dengan demikian, kebesaran NU tidak diukur hanya dari jumlah warga, luas struktur organisasi, atau kekuatan politik dan sosial yang dimilikinya. Ukuran yang lebih mendasar adalah seberapa jauh NU mampu memberikan jawaban terhadap persoalan bangsa.
Dalam pandangan Ali Masykur Musa, semangat kebangsaan itu memiliki akar yang sangat dalam dalam tradisi NU. Ia menyebut Ahlul Wathan sebagai salah satu ruh yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Nahdlatul Ulama.
Karena itu, hubungan antara Islam dan Indonesia, Islam dan negara, menurutnya, harus ditempatkan dalam satu tarikan napas. "NU dan negara, Islam dan negara, harus ditarik satu nafas. Ya Indonesia, ya Islam, ya Islam, ya Indonesia", tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pandangan bahwa keislaman dan kebangsaan tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan dalam satu orientasi pengabdian kepada masyarakat dan negara. Ali Masykur Musa sendiri memperkokoh sikapnya sejak menjadi Ketua Umum PB PMII pada kurun 1991 - 1994.
Dalam konteks Muktamar NU ke-35, gagasan memperkokoh 'Amanatul Wathaniyah' tersebut memberikan pesan penting tentang arah kepemimpinan organisasi. Siapa pun yang kelak menerima amanah kepemimpinan NU harus mampu menjaga agar NU tetap menjadi kekuatan keumatan sekaligus kekuatan kebangsaan.
NU hadir untuk umat, berkhidmat untuk bangsa, dan mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan negara.
Dari sini, gagasan kepemimpinan NU memasuki wilayah yang lebih luas: menjaga keseimbangan antara identitas keislaman, komitmen kebangsaan, dan tanggung jawab kenegaraan.
Amanatul Wathaniyah, dalam perspektif tersebut, bukan sekadar slogan kebangsaan. Ia menjadi bagian dari ruh perjuangan NU, sebuah kesadaran bahwa ketika Indonesia menghadapi persoalan, NU semestinya hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari solusi, ujarnya (chm)