news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Bukan Cuma Soal Kecelakaan Kerja, Mengapa Sistem HSSE Makin Penting di Lingkungan Perusahaan.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI / Gemini

Bukan Cuma Soal Kecelakaan Kerja, Mengapa Sistem HSSE Makin Penting di Lingkungan Perusahaan?

HSSE bukan sekadar aturan keselamatan kerja. Simak pentingnya kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan serta bagaimana teknologi membantu
Rabu, 2 September 2026 - 23:42 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Keselamatan di tempat kerja sering kali baru menjadi perhatian besar setelah terjadi kecelakaan. Padahal, konsep Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) dirancang untuk bekerja jauh sebelum sebuah insiden terjadi. 

Di dalamnya terdapat upaya menjaga kesehatan pekerja, mencegah kecelakaan, mengendalikan ancaman keamanan, sekaligus mengurangi dampak aktivitas perusahaan terhadap lingkungan.

Urgensi penerapan sistem tersebut terlihat dari data International Labour Organization (ILO). Organisasi tersebut memperkirakan hampir 3 juta pekerja meninggal setiap tahun akibat kecelakaan dan penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan, sementara sekitar 395 juta pekerja mengalami cedera kerja nonfatal. 

Dari jumlah kematian tersebut, sekitar 2,6 juta berkaitan dengan penyakit akibat kerja dan sekitar 330 ribu disebabkan kecelakaan kerja.

Artinya, persoalan keselamatan kerja tidak berhenti pada bagaimana perusahaan mencegah pekerja terjatuh, tertabrak, atau mengalami kecelakaan di lapangan. 

Risiko kesehatan jangka panjang, paparan lingkungan kerja, keamanan operasional, hingga dampak terhadap lingkungan juga menjadi bagian yang perlu dikelola. 

Di Indonesia, pendekatan sistematis terhadap keselamatan dan kesehatan kerja juga telah memiliki landasan melalui PP Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang hingga kini berstatus berlaku. 

HSSE Bekerja dari Pencegahan, Bukan Menunggu Insiden

Salah satu prinsip utama dalam pengelolaan HSSE adalah pencegahan. Perusahaan perlu mengidentifikasi potensi bahaya sebelum aktivitas dilakukan, menilai tingkat risikonya, menentukan langkah pengendalian, kemudian memastikan pengendalian tersebut benar-benar diterapkan.

Karena itu, pelatihan dan induksi pekerja menjadi bagian penting. Pekerja yang baru memasuki suatu lingkungan operasional perlu mengetahui prosedur keselamatan, potensi bahaya, penggunaan peralatan, jalur evakuasi, hingga tindakan yang harus dilakukan dalam kondisi darurat.

ILO sendiri menekankan pentingnya sistem keselamatan dan kesehatan kerja yang bersifat preventif, termasuk penguatan kerangka nasional, peningkatan kompetensi, pelaporan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, serta penerapan sistem manajemen keselamatan yang disesuaikan dengan karakteristik risiko setiap sektor.

Dalam praktiknya, perusahaan juga perlu melakukan pengawasan secara berkala. Temuan berupa unsafe act atau tindakan tidak aman dan unsafe condition atau kondisi tidak aman seharusnya tidak berhenti sebagai catatan. 

Keduanya perlu dilaporkan, dianalisis, dan ditindaklanjuti agar potensi insiden tidak berkembang menjadi kecelakaan.

Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa budaya keselamatan tidak hanya dibentuk melalui aturan tertulis. Perilaku pekerja, keterlibatan manajemen, komunikasi risiko, serta konsistensi dalam menindaklanjuti temuan memiliki peran yang sama pentingnya.

Ketika Teknologi Masuk ke Sistem Keselamatan

Perkembangan teknologi kemudian mengubah cara perusahaan mengelola data dan proses HSSE. Digitalisasi memungkinkan informasi yang sebelumnya tersimpan dalam dokumen fisik dikumpulkan, diperbarui, dan dipantau dalam satu sistem.

Salah satu manfaatnya adalah proses verifikasi pekerja. Data seperti pemeriksaan kesehatan, sertifikat pelatihan, hasil tes, dan status kelayakan bekerja dapat dikelola secara lebih terstruktur. 

Sistem digital juga memungkinkan proses induksi dilakukan secara bertahap, mulai dari registrasi, pemberian materi, simulasi atau *demo room*, ujian, hingga penerbitan identitas keselamatan secara digital.

Manfaat lainnya terletak pada pengawasan. Ketika data pekerja terhubung dengan sistem digital, petugas dapat melakukan verifikasi tanpa harus memeriksa dokumen fisik satu per satu. 

Informasi terkait status kesehatan dan riwayat pelatihan dapat ditampilkan melalui sistem atau pemindaian identitas digital.

Namun, digitalisasi bukan berarti otomatis membuat sistem keselamatan menjadi lebih baik. Teknologi tetap bergantung pada kualitas data, kedisiplinan pengguna, keamanan informasi, serta tindak lanjut manusia terhadap temuan yang muncul.

Hal serupa berlaku pada sistem pelaporan. Kanal digital dapat membuat pekerja lebih mudah melaporkan kondisi tidak aman maupun dugaan pelanggaran. 

Tantangannya kemudian adalah memastikan setiap laporan benar-benar diproses dan menghasilkan tindakan perbaikan.

Dari Kepatuhan Menuju Budaya Keselamatan

Pada tahap yang lebih matang, HSSE tidak lagi dipandang semata-mata sebagai kewajiban administratif. Tujuannya adalah membangun kebiasaan agar keselamatan menjadi bagian dari cara perusahaan menjalankan pekerjaan sehari-hari.

Keterlibatan pimpinan menjadi penting dalam tahap ini. Manajemen tidak cukup hanya menetapkan prosedur, tetapi juga perlu mengetahui bagaimana aturan tersebut diterapkan di lapangan. 

Salah satunya melalui inspeksi atau Management Walkthrough untuk melihat langsung kondisi operasional dan potensi risiko.

Budaya keselamatan juga membutuhkan komunikasi yang berulang. Apel keselamatan, pelatihan, simulasi keadaan darurat, evaluasi insiden, serta pembahasan temuan lapangan dapat menjadi sarana untuk menjaga kewaspadaan pekerja.

Konsep HSSE juga memperluas perhatian pada aspek lingkungan. Aktivitas operasional perlu memperhitungkan penggunaan sumber daya, limbah, emisi, potensi pencemaran, serta dampak lainnya. 

Dengan demikian, keberlanjutan tidak berdiri terpisah dari keselamatan, melainkan menjadi bagian dari pengelolaan operasional secara keseluruhan.

Penerapan pendekatan tersebut menjadi salah satu aspek yang terlihat dalam PT Pertamina Marine Solutions (PMSol). Dalam ajang Indonesia QHSE & Sustainability Awards (IQSA) 2026 yang diselenggarakan Indonesia Business Asia, perusahaan tersebut meraih empat penghargaan, yakni The Best QHSE Leadership 2026 untuk Manager HSSE Febry Donny, serta The Best QHSE Digital Innovation 2026, The Best QHSE Company Concerned 2026, dan The Best Safety Induction 2026.

Bukan Cuma Soal Kecelakaan Kerja, Mengapa Sistem HSSE Makin Penting di Lingkungan Perusahaan
Sumber :
  • ist

Penerapannya antara lain melalui digitalisasi HSSE Induction bagi kru kapal dan tenaga alih daya, Digital Medical Check Up (MCU), serta P-HORSE atau Pertamina HSSE Online Reporting System Excellence untuk pelaporan Unsafe Act dan Unsafe Condition. Sistem tersebut juga mencakup pemantauan tindak lanjut terhadap laporan yang masuk.

“Empat penghargaan yang kami raih dalam Indonesia QHSE & Sustainability Awards 2026 ini merupakan apresiasi sekaligus motivasi bagi kami untuk terus memperkuat implementasi HSSE di seluruh lini bisnis PMSol. Bagi kami, HSSE bukan hanya mengenai kepatuhan terhadap standar dan regulasi, tetapi harus menjadi budaya yang melekat dalam setiap proses dan aktivitas kerja,” ujar Direktur Utama PT Pertamina Marine Solutions Joko Pramono.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan HSSE bukan semata-mata jumlah penghargaan yang diterima perusahaan. Hal yang jauh lebih penting adalah apakah sistem tersebut mampu mencegah risiko, melindungi pekerja, memperbaiki kondisi yang tidak aman, serta mengurangi dampak operasional terhadap lingkungan.

Dengan pendekatan seperti itu, HSSE tidak lagi sekadar menjadi bagian dari dokumen kepatuhan, melainkan menjadi sistem yang bekerja setiap hari—sebelum, selama, dan setelah sebuah pekerjaan dilakukan. (udn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:28
02:43
05:51
04:43
02:08
01:14

Viral