- ist
Ada Perubahan Besar dalam Cara Cegah Kecelakaan Kerja, Begini Ubah Strategi K3 dari Reaktif Jadi Prediktif
“Keselamatan tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab satu departemen. Setiap orang, baik pekerja maupun kontraktor, memiliki peran dalam mengenali bahaya, mengendalikan risiko, dan menghentikan pekerjaan apabila kondisi tidak aman. Inilah yang kami dorong menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari,” kata Deputy CEO PT DSSP Power Sumsel Awaludin Latif Shaubari.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip leading indicators yang dikembangkan OSHA. Lembaga tersebut memasukkan partisipasi pekerja, laporan bahaya dan near miss, inspeksi, pelatihan, serta penyelesaian tindakan korektif sebagai contoh indikator yang dapat digunakan untuk menilai efektivitas pencegahan.
Dengan demikian, budaya keselamatan bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan. Pekerja juga menjadi sumber informasi penting untuk membantu organisasi memahami kondisi lapangan sebelum risiko berkembang menjadi kecelakaan.
Kepemimpinan Menentukan Apakah Sistem Benar-Benar Berjalan
Teknologi dan data tidak otomatis membuat sebuah sistem keselamatan menjadi prediktif. Ada faktor lain yang menentukan, yakni bagaimana manajemen merespons informasi yang muncul dari lapangan.
Jika laporan bahaya hanya berhenti sebagai dokumen, sistem tidak akan menghasilkan perubahan. Sebaliknya, jika informasi tersebut digunakan untuk memperbaiki prosedur, pelatihan, pengawasan, pemeliharaan, dan cara kerja, maka data dapat menjadi alat pencegahan.
Karena itu, kepemimpinan menjadi salah satu elemen penting dalam strategi perusahaan. Manajemen harus memberikan contoh melalui keputusan dan perilaku sehari-hari.
“Leadership in safety means leading by example. Apa yang dilakukan oleh manajemen akan menjadi pesan yang dilihat dan diikuti oleh seluruh organisasi. Karena itu, kami harus konsisten menunjukkan bahwa tidak ada target operasional yang lebih penting daripada keselamatan,” ujarnya.
Komitmen tersebut juga sebelumnya ditunjukkan dalam proses penjurian Indonesia Fire Safety Excellence Award (IFSEA) 2026 melalui pemaparan mengenai sistem keselamatan kebakaran, kesiapsiagaan keadaan darurat, dan inovasi keselamatan operasional.
Bagi perusahaan, penghargaan yang diterima bukan akhir dari proses. Kompleksitas operasi pembangkit, penggunaan teknologi, dan keterlibatan berbagai pihak membuat risiko keselamatan terus berubah.
Karena itu, Awaludin menegaskan arah yang ingin dibangun perusahaan.
“Kami ingin terus bergerak dari reactive safety menuju predictive safety. Artinya, kita tidak menunggu sampai terjadi insiden untuk belajar. Data, temuan, observasi, teknologi, dan pengalaman di lapangan harus digunakan untuk memprediksi risiko dan melakukan perbaikan lebih awal,” tutur Awaludin.