- Gambar ilustrasi AI
Punya Modal Saja Tak Cukup! UMKM Perlu Pahami Cara Mengelola Keuangan dan Menghindari Penipuan di Era Digital
tvOnenews.com - Modal usaha kerap menjadi hal pertama yang dicari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ketika ingin mengembangkan bisnis.
Tambahan dana dapat digunakan untuk menambah stok, membeli peralatan, memperluas pemasaran, atau meningkatkan kapasitas produksi. Namun, suntikan modal belum tentu membuat usaha bertahan apabila tidak diiringi perencanaan keuangan yang matang.
Tantangan tersebut semakin kompleks ketika bisnis mulai bergantung pada teknologi digital. Pembayaran elektronik, layanan perbankan digital, hingga platform perdagangan daring memang mempermudah transaksi dan membuka akses pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi risiko penipuan, pencurian data, tautan palsu, serta tawaran pinjaman daring ilegal yang dapat mengganggu keuangan bisnis.
Karena itu, kemampuan mengelola uang dan menjaga keamanan transaksi menjadi bagian penting dari kesiapan UMKM menghadapi persaingan.
Pelaku usaha perlu memisahkan uang pribadi dari kas bisnis, mencatat pemasukan dan pengeluaran, menghitung biaya operasional, serta memastikan keuntungan tidak langsung dianggap sebagai uang yang bebas digunakan.
Pemahaman mengenai keamanan digital juga dibutuhkan agar kemudahan teknologi tidak justru menjadi celah kerugian finansial.
Literasi Keuangan dan Keamanan Digital Jadi Bekal UMKM
Literasi keuangan bukan sekadar kemampuan menghitung keuntungan. Pelaku UMKM perlu memahami arus kas, kewajiban pembayaran, kebutuhan modal kerja, hingga risiko ketika mengambil pinjaman atau menggunakan produk investasi.
Pencatatan keuangan yang konsisten membantu pemilik usaha mengetahui apakah bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan atau hanya mengalami peningkatan omzet tanpa memperhitungkan seluruh biaya.
Di ranah digital, kewaspadaan juga perlu menjadi kebiasaan. Pelaku usaha sebaiknya tidak membagikan PIN, kata sandi, kode OTP, maupun informasi sensitif kepada pihak lain. Mereka perlu memeriksa identitas pengirim pesan, memastikan alamat situs resmi, dan tidak sembarangan mengeklik tautan yang menjanjikan hadiah atau keuntungan besar.
Tawaran investasi dengan imbal hasil tidak masuk akal maupun pinjaman yang tidak jelas legalitasnya juga patut diwaspadai. Sebelum menggunakan layanan keuangan, pelaku usaha dapat memeriksa informasi penyedia melalui kanal resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Dyah Roro Esti Widya Putri, menekankan pentingnya pembelajaran dan kemampuan beradaptasi agar pelaku usaha lebih siap menghadapi perubahan digital.
“Marilah kita terus belajar dan berani beradaptasi. Pada awalnya, beradaptasi mungkin terasa tidak nyaman karena ada hal-hal yang belum kita pahami. Namun, melalui pendidikan dan sosialisasi, kita dapat meningkatkan pemahaman dan menjadi lebih siap menghadapi perubahan. Kelola keuangan usaha dengan bijak, serta jadilah pelaku usaha digital yang cerdas dan tetap waspada terhadap penipuan maupun berbagai risiko yang dapat merugikan kita secara finansial,” tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi pemerintah dan sektor swasta untuk memperluas edukasi serta pendampingan. Dengan bekal tersebut, pelaku UMKM diharapkan tidak hanya mampu memanfaatkan layanan digital, tetapi juga memahami cara mengurangi risiko yang menyertainya.
Mengembangkan Bisnis Perlu Strategi, Bukan Hanya Tambahan Modal
Setelah memahami dasar pengelolaan keuangan, pelaku UMKM perlu menghubungkannya dengan keputusan bisnis sehari-hari. Sebelum menggunakan tambahan modal, misalnya, pemilik usaha perlu menentukan kebutuhan paling mendesak, memperkirakan potensi pendapatan, dan menghitung kemampuan membayar kewajiban.
Pemisahan rekening pribadi dan bisnis dapat membantu memantau kondisi keuangan. Sementara itu, evaluasi berkala terhadap stok, biaya produksi, utang, dan penjualan membantu pemilik usaha menentukan langkah berikutnya berdasarkan kondisi nyata, bukan sekadar perkiraan.
Teknologi digital juga dapat digunakan untuk menciptakan nilai tambah, mulai dari memperluas pemasaran hingga mengembangkan produk dan layanan baru. Namun, pemanfaatannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan usaha dan kemampuan pengelolaan keuangan.
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Muhammad Neil El Himam, mendorong UMKM agar memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
“Kami mendorong para pelaku UMKM agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya sebagai sarana untuk menciptakan nilai tambah, membuka peluang usaha baru, dan meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan. Selain pemanfaatan teknologi digital, literasi keuangan juga menjadi aspek penting agar pelaku UMKM mampu mengelola keuntungan secara lebih produktif dan memperluas skala usaha,” ujarnya.
Pendampingan menjadi salah satu cara untuk membantu pelaku usaha menerapkan pengetahuan tersebut. Melalui diskusi dan mentoring, mereka dapat mempelajari cara mengelola keuangan, memahami perlindungan konsumen, serta mempertimbangkan keputusan bisnis dengan lebih terukur.
Pentingnya permodalan yang disertai pengetahuan bisnis menjadi salah satu isu yang diangkat dalam program Pelaku Usaha Jagoan Pencari Cuan (PUJAAN) Vol. 5. Program dari PT Bukalapak.com Tbk tersebut mencapai puncaknya melalui penganugerahan Kompetisi Modal PUJAAN Vol. 5 di Jakarta, dalam rangka Bulan Inklusi Keuangan 2026.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian modal, tetapi juga akses terhadap pengetahuan dan jejaring usaha. “Bagi kami, program ini bukan sekadar kompetisi untuk mendapatkan modal usaha. Ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk membuka akses yang lebih luas bagi para pelaku usaha agar dapat terus belajar, berkembang, dan menemukan peluang baru,” ungkap Plt. Direktur Utama PT Bukalapak.com Tbk, Natalia Firmansyah.
Rangkaian program mencakup webinar dan sesi mentoring dengan tiga topik, yakni literasi keuangan serta perlindungan konsumen bersama Kepala Divisi Perencanaan, Pengembangan, dan Evaluasi Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Naomi Triyuliani; pengelolaan keuangan usaha bersama Direktur NFC Revenu Charles Gultom dan Business Operation Manager Yonarisa Prahesti dari BUKA Group; serta kesehatan keluarga bersama dokter spesialis paru dan pernapasan dr. Salva Badjarad, Sp.P.
- ist
Tahun ini, kompetisi juga diperluas untuk pelaku UMKM perempuan Mitra serta pelaku usaha laki-laki dan perempuan di bawah binaan itemku. Pemenang juara pertama kategori Mitra adalah Fatmah dari Banjarmasin, disusul Lusi Widianingrum dari Kuningan dan Nazhikhatun dari Tegal. Ahmad Prasetio dari Jakarta meraih kategori Influencer. Sementara itu, kategori itemku dimenangkan William Fredick Wijaya dari Pekanbaru, diikuti Nenza Nurfirmansyah dari Cimahi dan Maulana Ibrahim Ramadhan dari Bekasi.
Para pemenang memperoleh dana usaha, produk investasi dari BMoney, serta voucher medis dari EMC Healthcare. Fatmah juga berencana menerapkan pengetahuan yang diperolehnya untuk pengelolaan usaha sehari-hari. Program yang digelar BUKA Group ini menunjukkan salah satu pendekatan pemberdayaan UMKM melalui kombinasi permodalan dan pembelajaran.
Peluang bisnis tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal, tetapi juga kemampuan mengelola keuangan, memanfaatkan teknologi secara tepat, dan melindungi usaha dari risiko digital. Ketiga aspek tersebut menjadi bekal penting agar pertumbuhan bisnis dapat berlangsung lebih terukur dan berkelanjutan. (udn)