- Istimewa
Perumnas Jawab Tantangan Hunian Subsidi
Jakarta, tvOnenews.com - Perum Perumnas terus memperkuat perannya dalam menghadirkan hunian berkualitas dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), khususnya di kawasan perkotaan.
Tidak hanya berorientasi pada penyediaan rumah dengan harga terjangkau, Perumnas mengembangkan konsep hunian yang mempertimbangkan aspek aksesibilitas, konektivitas transportasi, kedekatan dengan pusat aktivitas, serta efisiensi biaya dan waktu mobilitas masyarakat.
Hal tersebut menjadi bagian dari upaya Perumnas menjawab tantangan penyediaan hunian bagi masyarakat perkotaan.
Keterjangkauan hunian, biaya dan waktu mobilitas, konektivitas transportasi publik, serta akses terhadap pusat aktivitas menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam penyediaan hunian bagi MBR.
“Hunian yang terjangkau bagi MBR tidak cukup hanya diukur dari harga rumah. Lokasi, akses terhadap transportasi publik, serta biaya dan waktu perjalanan sehari-hari juga menentukan keterjangkauan yang sesungguhnya. Karena itu, Perumnas terus mendorong penyediaan hunian subsidi yang lebih dekat dengan pusat aktivitas dan terintegrasi dengan transportasi publik,” ujar Plt. Direktur Utama Perum Perumnas, Imelda Alini Pohan.
Penyediaan hunian MBR membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif.
Keterjangkauan harus dilihat sebagai total cost of living, termasuk biaya transportasi, waktu perjalanan, serta akses masyarakat terhadap fasilitas dan pusat kegiatan.
Karena itu, pengembangan hunian di kawasan perkotaan menjadi salah satu strategi Perumnas untuk mendukung penyediaan hunian yang lebih inklusif.
Melalui pengembangan kawasan Transit-Oriented Development (TOD), Perum Perumnas berkolaborasi dengan PT Kereta Api Indonesia mengintegrasikan kawasan hunian dengan sistem transportasi publik sehingga masyarakat dapat memiliki akses mobilitas yang lebih mudah menuju pusat bisnis, pendidikan, perdagangan, maupun fasilitas perkotaan lainnya.
Pada tiga kawasan TOD, Perumnas menyediakan alokasi hunian subsidi sebanyak 768 unit bagi MBR, terdiri atas 256 unit di Samesta Mahata Tanjung Barat, 182 unit di Samesta Mahata Margonda, dan 330 unit di Samesta Mahata Serpong.
Tingginya antusiasme masyarakat terhadap hunian yang disediakan Perumnas turut tercermin dari telah terserap habisnya unit subsidi di hunian TOD tersebut, khususnya di Margonda dan Tanjung Barat.
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan hunian MBR yang masih tinggi, Perumnas akan segera membangun kembali tower hunian subsidi di Samesta Mahata Serpong.
Integrasi hunian dengan transportasi publik di kawasan tersebut memberikan alternatif bagi MBR untuk tinggal di lokasi yang mendukung efisiensi biaya dan waktu mobilitas sehari-hari.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pengembangan hunian subsidi di berbagai wilayah yang berlokasi di area strategis dengan pusat aktivitas masyarakat.
Termasuk melalui pengembangan hunian perkotaan pada Samesta Sentraland Cengkareng, Samesta Grand Sentraland Karawang, Samesta Jakabaring Palembang, Proyek Jatim II Pasuruan dan Proyek Cirebon, yang menyediakan hunian subsidi dengan akses terhadap berbagai fasilitas serta aktivitas masyarakat.
Sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memperluas akses kepemilikan hunian bagi MBR, penyesuaian kriteria dan batasan harga satuan rumah susun melalui kebijakan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman juga membuka peluang bagi lebih banyak hunian yang dikembangkan Perumnas untuk dapat diakses melalui skema pembiayaan bersubsidi.
Hal ini semakin memperluas pilihan hunian terjangkau bagi masyarakat, khususnya MBR, di berbagai kawasan strategis perkotaan.
Di sisi pembiayaan, pemerintah juga terus mendorong skema KPR FLPP dengan tenor hingga 40 tahun, sehingga memberikan kemudahan akses kepemilikan hunian pertama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Komitmen menghadirkan hunian MBR di kawasan perkotaan juga diwujudkan melalui Samesta Alonia Jakarta di Kemayoran.
Sebanyak 609 unit dikembangkan sebagai hunian subsidi vertikal untuk memberikan alternatif hunian yang lebih terjangkau dan dekat dengan pusat aktivitas perkotaan, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang semakin terbatas di Jakarta.
“Perumnas ingin agar MBR tidak selalu dihadapkan pada pilihan antara rumah yang terjangkau tetapi jauh dari pusat aktivitas, atau lokasi yang strategis tetapi tidak terjangkau. Melalui TOD, pengembangan hunian subsidi vertikal maupun landed, Perumnas berupaya menghadirkan alternatif hunian yang lebih dekat, terkoneksi dan sesuaibdengan kebutuhan masyarakat perkotaan,” ujar Imelda.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat kontribusi Perumnas dalam mendukung Program 3 Juta Rumah, khususnya pengembangan hunian subsidi bagi MBR, melalui pengembangan kawasan yang tidak hanya layak huni, tetapi juga terjangkau, terkoneksi, dan dekat dengan pusat aktivitas perkotaan.(raa)