Review Trailer Film Conjurig: Bercerita tentang Patah Hati di Balik Kostum Hantu
Bukan Horor, Melainkan Drama Komedi dengan Wajah Bandung
Salah satu daya tarik utama Conjurig adalah cara film ini memanfaatkan komunitas cosplayer hantu sebagai pintu masuk cerita.
Film ini terinspirasi dari Comjurig, komunitas cosplayer yang mengenakan kostum hantu atau “jurig” dalam bahasa Sunda. Mereka dikenal beraktivitas di kawasan seperti Asia Afrika dan Braga, menghibur wisatawan sekaligus mendapatkan penghasilan.
Fenomena tersebut memberikan konteks yang cukup menarik bagi film. Kostum hantu tidak semata-mata menjadi elemen visual untuk membuat karakter terlihat menyeramkan, tetapi juga berkaitan dengan pekerjaan, ruang publik, dan cara seseorang mencari penghasilan.
Sutradara Tubagus Deddy melihat sisi tersebut sebagai ironi yang ingin diangkat melalui film.
“Alun-Alun Bandung punya energi yang unik, ramai, hangat, dan penuh kejutan kecil di setiap sudutnya. Kami ingin Conjurig menangkap energi itu sekaligus memperkenalkan Piit dan Tamy sebagai dua orang yang mencoba sembunyi dari masalah, tapi justru menemukan diri mereka sendiri di tengah keramaian,” kata Tubagus Deddy.
“Cosplayer-cosplayer ini jujur soal apa yang mereka lakukan, mencari uang dengan cara yang mereka pilih sendiri. Justru banyak orang di luar sana yang nggak pakai topeng secara fisik, tapi malah menyembunyikan kejujuran mereka. Itu yang ingin Conjurig angkat,” ujar Tubagus.
Dari pernyataan tersebut, terlihat bahwa kostum dalam Conjurig berfungsi lebih dari sekadar properti. Kostum menjadi simbol tentang bagaimana seseorang bisa terlihat berbeda di depan orang lain, sementara persoalan sebenarnya justru disimpan di balik penampilannya.
Premis tersebut juga memberikan tantangan tersendiri bagi Dito Darmawan. Memerankan Piit berarti ia harus menyampaikan emosi karakter melalui kostum dan riasan pocong yang membatasi ekspresi tubuh maupun wajah.
Dito mengakui proses tersebut tidak mudah, terutama karena proses syuting tidak selalu dilakukan dalam kondisi malam hari.
“Ternyata jadi pocong itu nggak semudah kelihatannya. Riasannya tebal, apalagi syutingnya juga tidak hanya di malam hari, jadi makin menantang. Padahal Piit ini karakter yang emosinya kompleks, ada sedih, ada usaha buat nutupin luka, jadi saya harus cari cara sendiri buat tetap nyampein itu di tengah keterbatasan kostum dan riasan,” kata Dito Darmawan.