news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Rano Karno: PDIP Kehilangan Pejuang Partai, Indonesia Kehilangan Maestro Budaya.
Sumber :
  • tvOnenews - adinda

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Rano Karno: PDIP Kehilangan Pejuang Partai, Indonesia Kehilangan Maestro Budaya

Ketua DPP PDIP Rano Karno melepas kepergian Almarhum Guruh Soekarnoputra, atau Putra Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada
Sabtu, 26 September 2026 - 17:49 WIB
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Ketua DPP PDIP Rano Karno melepas kepergian Almarhum Guruh Soekarnoputra, atau Putra Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Sabtu (26/9/2026).

“Dengan segala kerendahan hati, kami juga memohonkan maaf atas segala kekhilafan almarhum. Jika pernah ada kata yang kurang berkenan, sikap yang melukai, ataupun sesuatu yang belum selesai, kami mohon agar semuanya dimaafkan dan diikhlaskan,” kata Rano Karno, kepada wartawan, Sabtu (26/9/2026).

Pria yang merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini mengatakan, bahwa kehilangan Guruh bukan merupakan kehilangan seseorang manusia biasa. Indonesia telah kehilangan seniman besar dan PDIP telah kehilangan pejuang partai.

“Hari ini Indonesia kehilangan seorang seniman besar. Indonesia kehilangan seorang maestro budaya. Keluarga besar PDI Perjuangan kehilangan seorang pejuang partai, dan kaum Marhaenis kehilangan salah seorang yang sepanjang hidupnya tetap membawa keyakinan tentang keberpihakan kepada rakyat,” ungkap Rano Karno.

Rano Karno menyebutkan, Almarhum Guruh adalah putra Bung Karno dan Ibu Fatmawati. Namun almarhum tidak memilih hanya hidup di bawah kebesaran nama orang tuanya. 

“Dia memilih menciptakan jalannya sendiri, dan jalan itu bernama kebudayaan. Mas Guruh mencintai Indonesia dengan cara yang sangat indah. Dia tidak hanya berbicara tentang Indonesia, ia menyanyikannya, ia menciptakan panggung untuknya, ia menggali kekayaan tradisinya, dan dia mempersembahkan hidupnya untuk kebudayaan Indonesia,” jelasnya.

“Dengarkan kembali "Melati Suci". Ada kelembutan di sana, tetapi sekaligus ada kedalaman rasa yang membuat kita seperti disentuh oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar sebuah lagu. Lalu dengarkan "Untukmu, Indonesiaku". Karya itu seperti sebuah sumpah cinta kepada tanah air, tentang jiwa, raga, dan karya yang dipersembahkan untuk Indonesia,” sambungnya.

Lebih lanjut, Rano Karno menuturkan, ketika mendengarnya hari ini, seakan-akan Mas Guruh hendak mengatakan kepada kita semua, "Indonesia terlalu indah untuk tidak dicintai, terlalu berharga untuk tidak dijaga, dan terlalu besar untuk tidak diperjuangkan." (ars/aag)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

24:16
05:21
01:14
02:09
04:33
05:19

Viral