news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Bukan Sekadar Chatbot, AI Makin Buka Akses Pendidikan untuk 1500 Pelajar d Wilayah 3T.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi

Bukan Sekadar Chatbot, AI Makin Buka Akses Pendidikan untuk 1500 Pelajar d Wilayah 3T

Pemanfaatan AI dalam pendidikan bukan sekadar chatbot. Begini pendekatan pembelajaran personal dan akses teknologi bagi 1.500 pelajar di wilayah 3T membuka
Sabtu, 26 September 2026 - 23:43 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara siswa belajar. Teknologi ini tidak hanya bisa menjawab pertanyaan melalui chatbot, tetapi juga membantu mengenali kesulitan belajar, memberikan latihan sesuai kemampuan, hingga menyediakan umpan balik secara langsung. 

Dengan pendekatan tersebut, siswa berpeluang mendapatkan pengalaman belajar yang lebih personal.

Namun, manfaat AI dalam pendidikan tidak akan terasa merata jika akses terhadap teknologi masih terbatas. 

Bagi pelajar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), persoalannya bukan sekadar memiliki aplikasi pembelajaran, melainkan juga ketersediaan internet, perangkat, pendampingan, serta materi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Di tengah tantangan itu, muncul pertanyaan penting: bisakah AI membantu memperluas kesempatan belajar bagi siswa yang belum mendapatkan dukungan pendidikan secara optimal? 

Pengalaman dari sejumlah negara maju menunjukkan bahwa teknologi dapat membantu pembelajaran menjadi lebih adaptif. 

Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur, keterlibatan guru, dan kemampuan sistem pendidikan memastikan setiap siswa memperoleh manfaat.

AI Bukan Sekadar Chatbot, tetapi Bisa Menyesuaikan Pembelajaran

Laporan OECD Digital Education Outlook 2023 menjelaskan bahwa sistem pembelajaran adaptif dapat menyesuaikan materi dan latihan berdasarkan kemampuan siswa. 

Teknologi ini membantu mengidentifikasi kesenjangan pemahaman, memberikan umpan balik, serta merekomendasikan latihan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pelajar.

Di Belanda, misalnya, sejumlah sistem pembelajaran berbasis AI digunakan untuk membantu siswa mempelajari matematika dan bahasa. 

Salah satunya Snappet, yang menganalisis hasil pekerjaan siswa untuk menyediakan latihan dengan tingkat kesulitan berbeda. Guru juga dapat memantau perkembangan siswa dan memberikan bantuan ketika diperlukan.

Singapura turut mengembangkan pendekatan serupa melalui Adaptive Learning System dalam platform Student Learning Space. Sistem ini menyediakan jalur belajar personal, merekomendasikan sumber belajar dan latihan, serta memberikan umpan balik berdasarkan kesiapan siswa. 

Guru dapat menggunakan data perkembangan tersebut untuk mengidentifikasi kesulitan belajar dan menentukan intervensi yang tepat.

Meski demikian, OECD mengingatkan bahwa teknologi adaptif belum tersedia secara luas di banyak sistem pendidikan. AI juga tidak otomatis meningkatkan hasil belajar. 

Teknologi perlu digunakan dengan tujuan yang jelas, disertai pendampingan guru dan evaluasi terhadap manfaatnya.

Tantangan Pendidikan 3T Bukan Hanya Soal Teknologi

Kesenjangan pendidikan di wilayah 3T memperlihatkan bahwa akses terhadap materi belajar hanyalah salah satu bagian dari persoalan yang lebih besar. 

Ketersediaan jaringan internet, perangkat digital, kemampuan menggunakan teknologi, serta dukungan tenaga pendidik turut menentukan apakah siswa dapat memanfaatkan pembelajaran digital secara berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, AI berpotensi menjadi sarana tambahan untuk membantu siswa belajar secara mandiri. Pelajar dapat berlatih memahami materi, mengulang pembahasan yang belum dikuasai, atau memperoleh umpan balik tanpa harus selalu menunggu sesi belajar berikutnya.

Namun, teknologi tidak dapat menggantikan seluruh peran guru. AI dapat membantu menyediakan materi dan mengidentifikasi kesulitan, sementara guru tetap berperan dalam membimbing siswa, memahami kondisi mereka, serta memastikan proses belajar berjalan sesuai tujuan pendidikan.

Pendekatan yang menggabungkan teknologi dan pendampingan manusia juga menjadi perhatian dalam pengembangan AI pendidikan di negara maju. 

Karena itu, keberhasilan program pembelajaran digital tidak cukup diukur dari jumlah pengguna atau aplikasi yang tersedia. Perlu dilihat pula apakah siswa benar-benar mengalami peningkatan pemahaman, memperoleh dukungan yang memadai, dan dapat terus mengakses materi pembelajaran.

Dari Pengalaman Lokal Menuju Akses Belajar yang Lebih Luas

Persoalan akses pendidikan tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas dalam One Young World ASEAN Leadership Forum 2026 di Yogyakarta, pada Oktober 2026. Forum ini mempertemukan 350 pemuda dari 20 negara untuk bertukar gagasan mengenai berbagai tantangan di kawasan ASEAN.

Dalam sesi “Learning Together, Leading Together: Youth Shaping Education's Future”, Muhamad Fahriza Novriansyah, Co-Founder dan CEO Terang AI, membagikan pengalamannya mengembangkan solusi teknologi pendidikan berdasarkan tantangan yang ditemui di Indonesia.

“Bagi saya, kepemimpinan bukan sekadar memiliki sebuah ide. Kepemimpinan adalah bagaimana kita mempertemukan orang-orang untuk mengubah ide tersebut menjadi sebuah solusi, serta memiliki komitmen untuk terus menyempurnakannya.”

Terang AI mengembangkan platform pembelajaran mandiri berbasis web dengan asisten belajar AI, serta layanan persiapan wawancara yang memungkinkan pelajar berlatih melalui simulasi percakapan. Melalui program komunitas dan inisiatif berdampak, platform ini juga telah menyediakan akses pembelajaran gratis bagi lebih dari 1.500 pelajar di berbagai wilayah 3T di Indonesia.

Upaya tersebut melibatkan kolaborasi dengan komunitas dan mitra strategis untuk memperluas jangkauan sekaligus menyesuaikan solusi dengan kebutuhan lokal.

“Teknologi tanpa manusia di dalam sistemnya tidak akan memiliki makna. Karena itu, kami belajar untuk mengutamakan inklusivitas dengan meningkatkan empati, kolaborasi, dan keberlanjutan. Tanpa keberlanjutan, akses tidak akan menjadi kesetaraan yang bermakna.” ujarnya.

Fahriza juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan sekolah, institusi pendidikan, kementerian, organisasi beasiswa, dan mitra internasional. Pengembangan sistem pembelajaran multibahasa dan adaptif menjadi salah satu arah yang dijajaki untuk menjangkau kebutuhan pelajar di Asia Tenggara.

Pada akhirnya, pengalaman dari negara maju maupun inisiatif di Indonesia menunjukkan bahwa AI dapat membantu memperluas akses pendidikan, tetapi bukan solusi tunggal untuk ketimpangan belajar. 

Manfaatnya bergantung pada kemampuan teknologi menjawab kebutuhan siswa, dukungan manusia di sekitarnya, dan keberlanjutan akses. Inti persoalannya bukan seberapa canggih AI yang digunakan, melainkan apakah teknologi tersebut benar-benar membantu lebih banyak anak belajar dengan lebih baik. (udn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:07
08:21
14:13
09:50
04:54
08:02

Viral