- Antara
Kemenhut Perkuat Pengendalian Karhutla di Kalsel dan Sumsel, Hotspot Nasional ada 331 Titik
tvOnenews.com - Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul dinamika hotspot di sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Sabtu (26/9) pukul 21.15 WIB, secara nasional terdeteksi 331 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence, meningkat 118 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 213 titik.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa peningkatan hotspot harian menjadi dasar untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat verifikasi serta respons lapangan, terutama pada wilayah yang menunjukkan kenaikan. Pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, hotspot high confidence tercatat:
- Kalimantan Selatan: 40 titik, naik dari 6 titik sehari sebelumnya;
- Sumatera Selatan: 38 titik, naik dari 17 titik;
- Kalimantan Tengah: 30 titik, turun dari 57 titik;
- Kalimantan Barat: 2 titik, turun dari 14 titik;
- Jambi: 1 titik, sama dengan sehari sebelumnya; dan
- Riau: nihil hotspot high confidence.
Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 111 hotspot high confidence. Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih, sementara penurunan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menjadi perkembangan yang tetap harus dijaga melalui patroli, groundcheck, pemadaman dan pembasahan berkelanjutan.
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi menjadi lebih dari satu hotspot. Karena itu, jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area terbakar dan seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.
Operasi Darat dan Udara Tetap Diperkuat
Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung operasi karhutla. Armada tersebut terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing. Sebanyak 55 unit armada ditempatkan untuk mendukung enam provinsi prioritas karhutla, sementara enam unit water bombing lainnya mendukung penanganan di wilayah terdampak lainnya.
Operasi udara berjalan bersama dengan operasi darat yang melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan para pihak. Tim terus melaksanakan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, dan pendinginan.
Perhatian khusus tetap diberikan pada kebakaran di lahan gambut karena bara dapat bertahan di bawah permukaan dan berpotensi kembali menyala apabila kondisi lahan mengering dan angin menguat.
Pantauan Kondisi Udara dan Jarak Pandang
Pantauan PM2,5 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, pada beberapa wilayah di Kalimantan dan sebagian Sumatera masih terdapat area dengan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan pada lokasi tertentu terpantau kategori berbahaya.
Pantauan meteorologi penerbangan BMKG juga menunjukkan asap masih memengaruhi jarak pandang di beberapa wilayah. Pada pengamatan dini hari, Palangka Raya tercatat berasap dengan jarak pandang sekitar 0,6 kilometer, Banjarmasin sekitar 1,7 kilometer, Pontianak sekitar 2 kilometer, dan Jambi sekitar 4,8 kilometer. Sementara Palembang tercatat berawan dengan jarak pandang sekitar 7 kilometer. Di Pekanbaru, jarak pandang sekitar 3 kilometer dengan kondisi hujan ringan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan jumlah hotspot tidak selalu langsung diikuti perbaikan kondisi udara. Asap dapat bertahan atau berpindah mengikuti kondisi atmosfer dan arah angin. Karena itu, pemantauan hotspot, kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang terus dilakukan secara bersamaan.
Perlindungan Masyarakat dan Satwa Liar
Masyarakat di daerah terdampak diminta terus mengikuti informasi kondisi udara dan arahan pemerintah daerah. Apabila kondisi udara memburuk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi dan masker digunakan apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa kebakaran hutan tidak hanya berdampak terhadap manusia, tetapi juga terhadap satwa liar dan habitatnya. Kebakaran dapat menyebabkan satwa kehilangan habitat dan sumber pakan serta mendorong satwa keluar dari kawasan hutan.
Apabila menemukan satwa liar yang keluar dari habitat atau terdampak kebakaran, masyarakat diminta tidak melakukan penanganan sendiri. Jaga jarak, catat lokasi apabila memungkinkan, dan segera laporkan kepada Balai KSDA atau petugas kehutanan terdekat agar penanganan dapat dilakukan dengan aman.
Masyarakat dan pelaku usaha kembali diingatkan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Informasi mengenai asap, titik api, atau aktivitas pembakaran agar segera dilaporkan sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.(chm)