- istimewa
Kapolri Sebut Ulama Jadi Kompas Moral Bagi Masyarakat
Jakarta, tvOnenews.com - Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyerukan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam acara 'Ngaji Kebangsaan' bersama Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha di Pondok Pesantren LP3IA Narukan, Rembang, Jawa Tengah.
Dalam sambutannya di hadapan ratusan personel Polri dan ribuan santri, Listyo menegaskan sebuah prinsip yang telah mengakar dalam tradisi kebangsaan Indonesia yakni ulama dan umara adalah dua kekuatan yang saling melengkapi.
Ulama dan umara berfungsi sebagai lentera dan kompas moral yang memberikan arah spiritual, nasihat bijak, dan landasan etika bagi seluruh elemen masyarakat.
Sementara itu, Polri sebagai aparatur negara mengemban tanggung jawab menjaga keamanan, ketertiban, dan perlindungan bagi setiap warga negara tanpa terkecuali.
Analis politik senior, Boni Hargens menyambut pernyataan Kapolri sebagai seruan moral yang tepat waktu dan penuh urgensi.
Boni menggarisbawahi bahwa dunia saat ini tengah berada dalam pusaran tantangan yang kompleks.
Perang dan konflik geopolitik telah mengguncang rantai pasok global, memicu ketidakstabilan ekonomi yang dampaknya merambat hingga ke tingkat rumah tangga di dunia, termasuk Indonesia.
Di dalam negeri, berbagai kepentingan sedang berkontestasi, baik di arena politik, ekonomi, maupun di ruang digital dan semuanya tampak kurang terkendali.
"Dunia berada dalam tantangan yang kompleks, terutama akibat perang yang mempengaruhi rantai pasok global. Di dalam negeri, kita melihat bermacam kepentingan sedang berkontestasi. Maka, seruan moral Kapolri itu semacam lonceng moral yang membangun seluruh elemen masyarakat dari tidur apatis agar bersama-sama aktif merawat persatuan dan kesatuan bangsa di tengah pluralisme identitas dan kepentingan." ujar Boni.
Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens secara khusus menyoroti pembelahan narasi yang kian mengkhawatirkan di ruang digital.
Ia menjelaskan bahwa polarisasi opini, penyebaran disinformasi, dan pertarungan kepentingan politik di dunia maya telah menciptakan fragmentasi sosial yang berpotensi merongrong sendi-sendi persatuan bangsa.
Dalam konteks inilah, kehadiran para ulama semakin fundamental sebagai kekuatan moral yang mendukung kerja aparat keamanan.
Boni Hargens juga menegaskan bahwa eksistensi para ulama sebagai tokoh moral adalah pilar fundamental dalam menjamin kesalehan sosial di ruang publik Indonesia.
“Kesalehan sosial bukan sekadar urusan ibadah pribadi, melainkan ekspresi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan solidaritas yang hidup dalam interaksi sosial sehari-hari,” tutur Boni.
Ketika kesalehan sosial tumbuh subur di masyarakat, lanjutnya, maka tugas Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban menjadi lebih ringan, karena masyarakat sendiri telah memiliki fondasi moral yang kuat untuk menolak provokasi, menghindari konflik, dan memilih jalur damai dalam menyelesaikan perbedaan.
Boni mengatakan bahwa sinergi antara Polri dan ulama sebagaimana yang ditunjukkan dalam 'Ngaji Kebangsaan' di Rembang, adalah model ideal yang harus terus diperkuat dan direplikasi di seluruh pelosok nusantara.
Keduanya tidak berdiri sebagai dua entitas yang terpisah, melainkan sebagai dua sayap dari satu burung Garuda Indonesia yang sama.
“Persatuan dan kesatuan bukan slogan kosong melainkan pilihan aktif yang harus diperjuangkan setiap hari oleh setiap warga negara dan semua elemen bangsa,” katanya.(raa)