- Istimewa
Eks Menag Sebut Ponpes Gontor Muliakan Presiden Prabowo
Jakarta, tvOnemews.com - Eks Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin meluruskan narasi yang mengaitkan pembacaan Surat Al-Ahzab ayat 70–73 dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dengan teguran khusus kepada Presiden Prabowo Subianto.
Alumnus Gontor tahun 1983 itu menegaskan, ayat tersebut ditujukan kepada seluruh peserta yang hadir dalam momentum satu abad Gontor, bukan secara khusus kepada Presiden.
Menurut Lukman, pesan tentang amanah yang terkandung di dalamnya bersifat umum dan relevan bagi para alumni Gontor yang mengemban berbagai tanggung jawab di tengah masyarakat.
“Kalau dikaitkan dengan pilihan ayat Al-Qur’an yang dibacakan, apakah itu secara khusus ditujukan kepada Pak Prabowo? Tentu tidak. Karena itu berlaku, ditujukan bagi kita semua yang hadir di situ,” kata Lukman, Selasa (29/9/2026).
Lukman menjelaskan, acara tersebut merupakan reuni akbar yang mempertemukan berbagai generasi alumni Gontor, mulai angkatan 1950-an hingga 2000-an. Karena itu, menurut dia, pembacaan ayat mengenai amanah harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.
“Jadi pilihan ayat itu, tiga ayat itu, Al-Ahzab 70, 71, 72, 73, adalah mengingatkan kita semua. Jadi semua kita yang hadir itu, dan ayat itu berlaku umum, berlaku kepada semua kita bahwa tanggung jawab itu harus diemban dengan sebaik-baiknya, kepercayaan itu harus dijaga dengan sebaik-baiknya,” jelas Lukman.
Lukman mengatakan konteks lain yang perlu diperhatikan ialah bagaimana Gontor menerima Presiden selama kunjungan tersebut. Menurut dia, rangkaian penyambutan justru menunjukkan penghormatan kepada Prabowo sebagai Kepala Negara.
“Gontor itu sangat menghormati Bapak Presiden. Bahkan ekspresi disampaikan oleh Kiai Hasan Abdullah Sahal. Semua Presiden itu diundang secara terhormat oleh Gontor,” ujar Lukman.
Ia mencontohkan penyambutan yang diberikan kepada Prabowo sejak memasuki lingkungan pondok. Ribuan santri turut menyambut kedatangan Presiden dalam momentum satu abad Gontor tersebut.
“Lihat saja penyambutan Presiden itu. Penyambutan dari sisi protokoler ke Gontor, yaitu protokoler nomor satu, yang tertinggi. Disambut sejak masuk ke jalan wilayah Gontor oleh santri-santri yang berbaris. Tidak semua orang disambut seperti itu, hanya Presiden yang disambut seperti itu,” katanya.
Karena itu, menurut Lukman, tidak tepat apabila pembacaan Al-Ahzab kemudian dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa Gontor sedang menunjukkan sikap tidak hormat kepada Presiden.
“Jadi kalau dikatakan Gontor tidak menghormati Presiden, tidak benar. Presiden dimuliakan, bahkan Pak Kiai meminta Presiden lebih lama makan siang di sana dan seterusnya,” ungkapnya.
Lukman juga menyebut permintaan Presiden untuk berbicara secara tertutup diterima oleh pimpinan Gontor dan dilanjutkan dengan pertemuan terbatas seusai acara.
“Jadi tidak benar dengan pilihan ayat itu Gontor lalu kemudian seakan-akan ingin tidak menghormati Presiden, tidak. Bagaimanapun, Gontor sadar betul bahwa Presiden Indonesia adalah Presiden kita semua yang harus dihormati keberadaannya,” tegas Lukman.
Penghormatan tersebut juga terlihat ketika pimpinan PMDG menyerahkan Mushaf Al-Qur’an Gontor dan buku Gontor untuk Indonesia kepada Presiden. Catatan resmi Gontor menyebut keduanya diserahkan pada puncak resepsi satu abad pondok.
Lukman mengingatkan bahwa sebuah peristiwa memang terbuka untuk ditafsirkan dari berbagai perspektif. Namun, interpretasi publik tidak dengan sendirinya dapat diposisikan sebagai maksud ataupun sikap resmi Gontor.
“Jadi tafsir itu memang bisa macam-macam. Kita serahkan saja kepada publik, kepada para pihak, untuk kemudian menafsiri sendiri hal-hal seperti itu, punya makna atau punya kesan seperti apa,” tuturnya.
Ia mencontohkan penyerahan Mushaf Al-Qur’an kepada Presiden. Menurut Lukman, tindakan yang sama dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda bergantung pada sudut pandang orang yang melihatnya.
“Jarang sekali, bahkan nyaris tidak ada tamu yang datang ke Gontor itu dihadiahi Al-Qur’an. Berarti Pak Presiden itu sungguh dimuliakan sekali oleh Gontor, secara khusus dihadiahi mushaf Al-Qur’an yang itu terbitan khusus Gontor yang sebelumnya belum pernah ada orang mendapatkan hadiah seperti itu. Ini kehormatan luar biasa,” jelasnya.
Lebih jauh, Lukman meminta publik memperhatikan pernyataan pimpinan Gontor KH Hasan Abdullah Sahal mengenai hubungan pondok dengan Presiden. Pernyataan tersebut, menurut dia, penting untuk memahami konteks acara secara utuh.
“Jadi yang harus digarisbawahi, Kiai Gontor itu Kiai Hasan Abdullah Sahal itu eksplisit mengatakan bahwa Gontor selalu senantiasa berhusnuzon kepada Presiden,” kata Lukman.
“Berhusnuzon itu artinya berbaik sangka, positive thinking terhadap Presiden, selama Presiden juga berbaik sangka kepada Gontor. Itu artinya apa? Artinya secara eksplisit dinyatakan tidak ada kebencian, tidak ada permusuhan, tidak ada ketidaksukaan,” tambahnya.
Bahkan apabila terdapat masukan atau kritik dari Gontor kepada pemerintah, Lukman menilai hal itu tidak semestinya serta-merta dibaca sebagai bentuk permusuhan terhadap Presiden.
“Justru andai pun ada masukan, katakanlah ada kritik, itu bentuk cintanya Gontor kepada Presiden, wujud kasih sayangnya, wujud cintanya, bentuk kepedulian Gontor terhadap Presiden. Jadi selalu positif maknanya,” pungkas Lukman.(raa)