- Gambar ilustrasi AI
Risiko Keselamatan di Gudang Bahan Kimia Mudah Terbakar, Ini yang Harus Diperhatikan Saat Konstruksi
tvOnenews.com - Pekerjaan konstruksi di kawasan industri tidak selalu bisa dilakukan dengan prosedur yang sama seperti pembangunan gedung biasa.
Ketika sebuah fasilitas menangani bahan kimia mudah terbakar, aktivitas yang tampak rutin, mulai dari pemindahan material hingga penggunaan peralatan konstruksi, perlu memperhitungkan potensi kebakaran, paparan zat berbahaya, dan gangguan terhadap kegiatan operasional.
Risiko tersebut juga berlaku pada pekerjaan lantai gudang. Pengecoran beton memang tidak identik dengan pekerjaan yang menghasilkan api atau percikan, tetapi seluruh aktivitas di sekitarnya tetap perlu dievaluasi berdasarkan kondisi fasilitas.
Keberadaan bahan kimia, kemungkinan kebocoran, jalur kendaraan, dan aktivitas produksi dapat memengaruhi cara pekerjaan direncanakan serta dilaksanakan.
Karena itu, keselamatan tidak cukup dipahami sebagai penggunaan helm, sepatu pelindung, dan perlengkapan keselamatan lainnya. Pengelola fasilitas dan kontraktor perlu memastikan bahwa metode kerja, kondisi lapangan, pengendalian mutu, serta prosedur menghadapi keadaan darurat telah dipertimbangkan sebelum pekerjaan dimulai.
Pendekatan ini menjadi penting agar kegiatan konstruksi tidak menambah risiko bagi pekerja maupun operasional pabrik.
Standar Negara Maju Menekankan Pencegahan Kebakaran Sejak Perencanaan
Melansir dari berbagai sumber, pengelolaan risiko bahan kimia mudah terbakar menjadi perhatian dalam regulasi keselamatan kerja di sejumlah negara maju. Di Inggris, misalnya, terdapat Dangerous Substances and Explosive Atmospheres Regulations 2002 (DSEAR), yang mengatur pengendalian bahaya kebakaran dan ledakan akibat zat berbahaya di tempat kerja.
Panduan Health and Safety Executive (HSE) Inggris menekankan perlunya mengidentifikasi zat berbahaya, menilai risiko, dan menerapkan langkah pencegahan yang sesuai.
Pengendalian tersebut mencakup penanganan kebocoran, pencegahan terbentuknya atmosfer yang mudah terbakar, pengendalian sumber penyalaan, serta pengaturan penyimpanan bahan yang berpotensi menimbulkan reaksi berbahaya.
Di Amerika Serikat, perhatian terhadap bahaya pekerjaan konstruksi di fasilitas industri juga terlihat dalam rekomendasi U.S. Chemical Safety and Hazard Investigation Board (CSB). Lembaga ini menyoroti risiko hot work, seperti pengelasan dan pemotongan logam, yang dapat memicu kebakaran atau ledakan apabila dilakukan di lingkungan dengan bahan mudah terbakar.
Langkah pencegahan yang disoroti mencakup penerapan izin kerja, pemeriksaan kondisi atmosfer jika diperlukan, pengawasan kontraktor, dan identifikasi material mudah terbakar di sekitar lokasi.
Pengecoran beton dan aplikasi floor hardener tidak otomatis termasuk pekerjaan hot work. Namun, prinsip keselamatan yang sama relevan dalam perencanaan aktivitas konstruksi di fasilitas berisiko. Jenis pekerjaan, peralatan yang digunakan, kondisi lingkungan, dan kemungkinan interaksi dengan proses produksi harus dinilai terlebih dahulu.
Dalam praktiknya, pengendalian dapat mencakup pembatasan akses ke area tertentu, pemeriksaan potensi kebocoran, penentuan jalur pergerakan peralatan, penggunaan alat pelindung diri, serta penerapan izin kerja sesuai hasil penilaian risiko.
Prosedur yang diterapkan harus disesuaikan dengan karakteristik bahan kimia dan ketentuan keselamatan fasilitas.
Mengapa Mutu Beton dan Ketahanan Lantai Tetap Penting?
Di luar persoalan keselamatan, lantai gudang industri harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan operasional. Beban penyimpanan, lalu lintas forklift, kondisi tanah dasar, ketebalan pelat, serta kebutuhan kerataan permukaan menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi spesifikasi dan metode pengerjaan.
Pengecoran lantai tidak hanya bergantung pada mutu beton dan volume material. “Fungsi bangunan, beban penyimpanan, pergerakan forklift, kondisi tanah dasar, ketebalan pelat, serta kebutuhan kerataan permukaan turut menentukan spesifikasi dan metode pelaksanaan,” ujar Direktur Utama PT Delfa Indonesia Madani, Delik Iskandar.
Pertimbangan tersebut tercermin dalam pekerjaan lantai gudang PT Lautan Luas Tbk di Bandung, yang mencakup area sekitar 890 meter persegi dengan kebutuhan beton kurang lebih 180 meter kubik. Spesifikasi yang disebutkan dalam proyek tersebut adalah beton K-300 dengan target slump 12 sentimeter.
Dalam sistem penamaan mutu beton yang umum digunakan di Indonesia, K-300 merujuk pada kuat tekan karakteristik nominal 300 kg/cm². Sementara itu, slump merupakan indikator kelecakan beton segar yang membantu menilai kemudahan pengerjaan dan penempatannya.
Keduanya mengukur aspek berbeda sehingga harus diperiksa berdasarkan persyaratan teknis yang berlaku.
Kualitas lantai juga ditentukan oleh persiapan dasar, ketepatan elevasi, pemadatan, proses penyelesaian permukaan, dan perawatan beton atau curing. Pengaturan tahapan pengecoran serta kesinambungan pasokan material turut membantu menjaga konsistensi hasil pekerjaan.
Lantai gudang juga dapat menggunakan floor hardener, yakni material pengeras permukaan yang diaplikasikan pada beton segar sesuai metode yang ditentukan. Material ini berfungsi meningkatkan ketahanan permukaan terhadap abrasi atau keausan akibat aktivitas operasional.
Meski demikian, penggunaan floor hardener tidak otomatis membuat lantai tahan terhadap seluruh jenis bahan kimia atau memiliki sifat antistatik. Apabila fasilitas membutuhkan ketahanan kimia khusus maupun pengendalian listrik statis, spesifikasi tambahan perlu ditentukan berdasarkan kondisi dan fungsi ruang.
Koordinasi Keselamatan Menjadi Bagian dari Metode Kerja
Salah satu tantangan dalam pekerjaan konstruksi di lingkungan industri adalah memastikan aktivitas kontraktor tidak menimbulkan bahaya baru atau mengganggu proses produksi. Karena itu, pembagian tanggung jawab antara pengelola fasilitas dan pelaksana konstruksi perlu dilakukan sebelum pekerjaan dimulai.
Koordinasi tersebut mencakup penentuan area kerja, jalur keluar-masuk pekerja dan peralatan, identifikasi potensi bahaya, serta pemahaman terhadap prosedur evakuasi. Jika pekerjaan berlangsung berdekatan dengan area penyimpanan bahan kimia, pengendalian akses dan pemisahan aktivitas harus mengikuti penilaian risiko di lokasi.
Pengawasan juga diperlukan selama pekerjaan berlangsung. Kondisi lapangan dapat berubah akibat pergerakan kendaraan, perubahan jadwal produksi, atau ditemukannya potensi bahaya yang sebelumnya tidak teridentifikasi. Oleh sebab itu, pekerja perlu mengetahui mekanisme pelaporan dan penghentian pekerjaan ketika situasi dinilai tidak aman.
Pendekatan tersebut tidak hanya berlaku pada proyek berskala besar. Pekerjaan dengan lingkup terbatas pun tetap membutuhkan perencanaan yang sesuai dengan karakteristik lokasi. Luas area dan volume beton tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menentukan tingkat risiko suatu pekerjaan.
Kebutuhan tersebut berkaitan dengan pekerjaan pengecoran dan aplikasi floor hardener pada area seluas 890 meter persegi. Namun, informasi mengenai lingkup proyek saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa suatu pekerjaan telah memenuhi seluruh standar keselamatan. Penilaian itu membutuhkan data pelaksanaan, prosedur yang diterapkan, serta hasil pengawasan di lapangan.
Pada akhirnya, pekerjaan lantai di fasilitas yang menangani bahan kimia mudah terbakar menuntut keseimbangan antara kebutuhan teknis dan perlindungan keselamatan. Mutu beton dan ketahanan permukaan harus direncanakan bersamaan dengan pengendalian bahaya kebakaran, koordinasi kerja, serta perlindungan pekerja.
Prinsip inilah yang membuat konstruksi di lingkungan industri memerlukan pendekatan lebih menyeluruh dibandingkan sekadar menyelesaikan pekerjaan sesuai ukuran dan spesifikasi material. (udn)