- Ilustrasi
Bukan Sekadar Chatbot, AI Mulai Buka Akses Pendidikan untuk 1.500 Pelajar di Wilayah 3T
tvOnenews.com - Kecerdasan buatan atau AI mulai mengubah cara siswa belajar di berbagai negara. Namun, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah AI bisa menjawab soal, melainkan apakah teknologi tersebut benar-benar membantu siswa belajar.
Di tengah semakin mudahnya akses terhadap chatbot, dunia pendidikan justru menghadapi tantangan baru: bagaimana memastikan AI tidak hanya menjadi mesin pemberi jawaban.
Fenomena itu terlihat di negara-negara maju. Data PISA 2025 yang dirilis OECD menunjukkan 46 persen siswa di negara-negara OECD menggunakan chatbot AI setidaknya setiap minggu untuk membantu belajar.
Namun, OECD juga menemukan bahwa penggunaan AI secara intensif tidak otomatis menghasilkan pembelajaran yang lebih baik. Penggunaan AI secara terarah dan moderat justru memiliki hubungan yang berbeda dengan capaian belajar dibanding penggunaan yang sekadar untuk menyelesaikan tugas.
Eksperimen di Amerika Serikat memberikan gambaran yang lebih konkret. Penelitian National Bureau of Economic Research (NBER) pada 2026 terhadap siswa di 18 sekolah menengah Tennessee menemukan bahwa penggunaan Khanmigo, tutor AI dari Khan Academy yang dirancang untuk membimbing siswa alih-alih memberikan jawaban langsung, meningkatkan capaian matematika sekitar 0,06-0,08 standar deviasi dalam satu tahun.
Namun, penelitian itu juga menemukan persoalan penting: akses terhadap AI saja belum cukup. Tantangan besarnya justru membuat siswa benar-benar menggunakan teknologi tersebut secara aktif.
AI Pendidikan Bukan Sekadar Mesin untuk Menjawab Soal
Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang terhadap AI dalam pendidikan. Teknologi seharusnya tidak hanya digunakan untuk menghasilkan jawaban instan, tetapi menjadi pendamping yang membantu siswa memahami materi, menemukan kesalahan, berlatih, dan membangun kemampuan belajar secara mandiri.
Singapura menjadi salah satu contoh menarik. Pemerintahnya mengembangkan Student Learning Space (SLS), platform pembelajaran nasional yang dilengkapi sejumlah fitur berbasis AI. Salah satunya adalah Adaptive Learning System yang menggunakan machine learning untuk menyesuaikan jalur pembelajaran berdasarkan kemampuan dan perkembangan masing-masing siswa.
Sistem tersebut dapat memberikan rekomendasi materi, latihan, serta umpan balik sesuai tingkat pemahaman siswa. Jika jawaban salah, sistem dapat memberikan petunjuk atau penjelasan sebelum siswa mencoba kembali. Guru tetap berada dalam sistem karena umpan balik AI dapat diperiksa dan disesuaikan oleh pengajar.
Pendekatan ini penting karena memperlihatkan bahwa AI tidak harus menggantikan guru. Teknologi justru dapat mengambil sebagian pekerjaan yang bersifat repetitif, sementara guru tetap berperan dalam memahami konteks siswa, memberikan pendampingan, dan mengambil keputusan pedagogis.
OECD melalui Digital Education Outlook 2026 juga memberikan peringatan serupa. GenAI dapat membantu sebagai tutor, mitra belajar, maupun asisten guru, tetapi penggunaannya harus memiliki prinsip pedagogis yang jelas. Menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas belum tentu menghasilkan proses belajar.
Tantangan Terbesarnya Justru Ketika AI Harus Menjangkau Semua Siswa
Persoalan menjadi lebih kompleks ketika teknologi pendidikan dibawa ke negara dengan kesenjangan akses yang besar.
Di Indonesia, tantangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kualitas materi atau kemampuan guru. Infrastruktur digital, konektivitas internet, perangkat, kemampuan literasi digital, hingga kondisi geografis turut menentukan apakah seorang siswa dapat menikmati teknologi pendidikan.
Karena itu, konsep pendidikan berbasis AI menjadi lebih relevan jika dikaitkan dengan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Dalam konteks tersebut, Muhamad Fahriza Novriansyah, Co-Founder dan CEO Terang AI, membawa pengalaman Indonesia dalam forum One Young World ASEAN Leadership Forum 2026* di Yogyakarta. Forum yang berlangsung 1-3 Oktober tersebut mempertemukan pemuda dari berbagai negara untuk membicarakan tantangan pembangunan dan solusi yang dapat diterapkan di kawasan ASEAN.
Dalam sesi bertajuk Learning Together, Leading Together: Youth Shaping Education's Future, Fahriza membagikan pengalaman mengembangkan solusi pembelajaran berbasis AI sekaligus persoalan akses pendidikan yang ditemui di Indonesia.
Salah satu pendekatan yang disorot adalah penyediaan akses pembelajaran gratis bagi lebih dari 1.500 pelajar di berbagai wilayah 3T.
Terang AI sendiri mendeskripsikan fokusnya sebagai upaya memperluas akses terhadap perangkat pembelajaran berbasis AI yang berkualitas dan personal. Platform tersebut mencakup pembelajaran mandiri dengan asisten belajar AI serta solusi persiapan wawancara yang memungkinkan pelajar berlatih melalui simulasi interaksi dengan AI.
Yang menarik, pendekatan ini tidak berhenti pada penyediaan teknologi. Kolaborasi dengan komunitas dan mitra pendidikan merupakan bagian dari upaya menjangkau pelajar di wilayah dengan akses yang lebih terbatas.
Dari Akses AI Menuju Pendidikan yang Lebih Personal
Skala penggunaan AI di dunia pendidikan menunjukkan bahwa teknologi ini kemungkinan akan menjadi bagian permanen dari proses belajar. Khan Academy, misalnya, mencatat **2 juta siswa, pendidik, dan orang tua menggunakan Khanmigo sepanjang tahun ajaran 2024-2025**. Hampir separuh pengguna Khanmigo pada periode tersebut merupakan guru yang menggunakan akses gratis di lebih dari 70 negara.
Di Arizona, Amerika Serikat, lebih dari 170.000 siswa atau sekitar 16 persen siswa sekolah negeri telah menggunakan layanan tutoring berbasis AI pada 2025. Pemerintah negara bagian tersebut sebelumnya mengalokasikan US$1,5 juta untuk membantu sekolah mengakses Khanmigo.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan AI sebagai pendamping belajar bukan lagi eksperimen kecil. Namun, pengalaman negara maju juga memberikan pelajaran penting bagi Indonesia: teknologi yang canggih tidak otomatis menciptakan pendidikan yang lebih baik.
AI perlu ditempatkan dalam ekosistem yang memperhatikan kemampuan siswa, kualitas materi, peran guru, keamanan data, literasi digital, serta kemampuan memahami informasi yang dihasilkan mesin.
Bahkan OECD menemukan bahwa kesempatan siswa untuk belajar mengevaluasi kualitas informasi yang dibuat AI belum terdistribusi secara merata.
Siswa dari latar belakang sosial-ekonomi yang lebih diuntungkan cenderung lebih sering mendapatkan kesempatan tersebut di sekolah. Ini menunjukkan potensi munculnya kesenjangan baru: bukan lagi sekadar siapa yang punya akses AI, tetapi siapa yang mampu menggunakan dan mengkritisi AI dengan benar.
Di titik inilah gagasan yang dibawa Fahriza menjadi relevan. Pendidikan berbasis AI tidak cukup berhenti pada penyediaan chatbot gratis atau aplikasi pembelajaran. Teknologi harus dihubungkan dengan kebutuhan lokal, komunitas, guru, serta mekanisme pembelajaran yang berkelanjutan.
Inti gagasannya adalah AI seharusnya bukan sekadar alat untuk membuat siswa mendapatkan jawaban lebih cepat, tetapi menjadi sarana memperluas kesempatan belajar yang personal dan berkualitas.
Akses pembelajaran gratis bagi lebih dari 1.500 pelajar di wilayah 3T menunjukkan arah tersebut: tantangan terbesar pendidikan berbasis AI bukan hanya membuat teknologinya semakin pintar, melainkan memastikan kecerdasan itu benar-benar sampai kepada siswa yang paling membutuhkan. (udn)