- Antara
BRIN Perkuat Dialog Indonesia-Jepang soal Jaminan Sosial, Penuaan Penduduk, dan Pembiayaan Sektor Produktif
tvOnenews.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempertemukan akademisi, praktisi serta pemangku kepentingan Indonesia dan Jepang dalam forum Global Research Reconnect : Knowledge, Collaboration & Impact bertajuk The Economic Landscape of Insurance, Social Protection and Agricultural Finance : Perspectives from Indonesia and Japan.
Forum ini membahas satu persoalan besar dari beberapa sisi sekaligus bagaimana masyarakat menghadapi risiko, bagaimana sistem perlindungan sosial dapat menjangkau pekerja secara berkelanjutan serta bagaimana lembaga keuangan perlu dirancang agar sesuai dengan karakter kelompok yang dilayani.
Kegiatan dibuka oleh Dr. Agus Eko Nugroho, Kepala Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat. Acara tersebut menghadirkan Swartoko dari Anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan serta keynote dari Eko Yuyulianda, Deputi Pengawasan dan Pemeriksaan BPJS Ketenagakerjaan.
Diskusi kemudian menghadirkan Prof. Shigenori Ishida dari Tokyo Keizai University, Dr. Yoshihiko Ono dari Japan Federation of Sharoushi serta Dr. Agus Hadiarto dari Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler BRIN. Salah satu benang merah forum adalah bahwa perluasan perlindungan tidak cukup hanya dengan menyediakan program.
Prof. Shigenori Ishida menunjukkan bahwa keputusan mengikuti program pensiun juga sangat dipengaruhi oleh perilaku. Dalam paparannya mengenai persepsi risiko dan asuransi pensiun di Jepang, beliau membahas penggunaan nudging, automatic enrollment, insentif pajak serta framing dalam mendorong partisipasi pada pensiun swasta.
Ishida juga menyoroti bahwa perilaku tidak berhenti pada keputusan untuk menabung. Cara seseorang memandang manfaat pensiun ketika memasuki masa pensiun sama pentingnya.
Pemberian informasi, literasi keuangan dan cara membingkai risiko menjadi bagian penting dari desain kebijakan pensiun. Perspektif jangka panjang datang dari Dr. Yoshihiko Ono, yang mengangkat perubahan demografi Jepang dan Indonesia.
Jepang saat ini menghadapi populasi yang menua dan menyusut, sementara Indonesia masih berada dalam fase populasi yang relatif muda. Dr. Ono menyebut kondisi Jepang dapat menjadi gambaran mengenai persoalan yang kelak semakin relevan bagi Indonesia.
Ia sekaligus melihat adanya peluang kolaborasi dua arah : Jepang membutuhkan tenaga kerja dan kapasitas dibidang pelayanan sosial, sementara Indonesia dapat memperoleh pengalaman kelembagaan, keahlian dan pengetahuan mengenai jaminan sosial serta layanan lansia. Dari sisi Indonesia, Swartoko menempatkan jaminan sosial ketenagakerjaan bukan semata sebagai program perlindungan sosial, tetapi sebagai peredam guncangan ekonomi.