- Istimewa
Heboh Dugaan Perundungan di Universitas Telkom, Pemerhati Anak: Tanda Hilangnya Empati
Jakarta, tvOnenews.com- Beberapa waktu lalu media sosial dihebohkan dengan satu video dugaan perundungan yang terjadi di Universitas Telkom. Isu yang menjadi perhatian publik, hingga direspons pemerhati pendidikan dan anak.
Pemerhati pendidikan dan anak, Retno Listyarti, memberikan tanggapan soal viralnya seorang pria diduga lakukan perundungan atau bully ke temannya. Kondisi yang disayangkan karena tanda dari hilangnya rasa empati.
Rasa empati yang dimaksud Retno ialah, bentuk rasa sesama manusia dalam berperilaku baik dan menyenangkan. Artinya, tidak adanya unsur bully, hina atau kekerasan fisik terhadap orang lain.
- Antara
Konteks video yang viral tersebut, tertulis "Hiburan Kamar" kata hiburan yang bermaksud senang-senang atau bahagia tapi tidak diberengi dengan sikap yang menyenangkan terhadap temannya.
"Bicara kekerasan bukan bercanda disitu kan bilang penghiburan tapi kan "hiburan" itu tertawa bersama bahagia bersama, tapi kalau salah satu dari kita tidak ketawa atau terhibur itu bukan lagi bercanda tapi itu sudah bentuk pembullyan atau perundungan," katanya kepada tvOnenews.com, Senin (12/10/2026).
Kasus dugaan perundungan tersebut, ditegaskan Retno sebagai bentuk hal-hal yang seringkali dianggap sepele, berujung pada pembiasaan hingga menghasilkan hilangnya rasa empati (nir empati) sesama manusia.
"ketika ada di sekolah dan dianggap normalisasi, dan berkembang saat menyakiti orang lain itu dianggap biasa. Disinilah matinya nurani dan matinya empati," jelas Retno.
Sehubungan dengan dugaan perundungan terhadap mahasiswa di Universitas Telkom tersebut, eks Komisioner KPAI itu juga mengingatkan soal peran orang tua, dan sekolah harus mencegah segala bentuk bully atau perundungan.
Pasalnya, jika sebuah sikap tidak menyenangkan atau merugikan orang lain disepelekan. Kedepannya, bisa berkembang hingga di usia dewasa dan di fase kerja.
Dia mengajak agar setiap anak dibimbing dan juga membangun mental health. Sebab pelaku bully juga, termasuk tanda kondisi seseorang memiliki kejiwaan yang kurang sehat.
"Sehat mental itu tidak mungkin menyakiti orang lain. Jadi ketika ada orang menyakiti orang lain itu namanya tidak sehat secara mental, ini bisa dibuat "pintu utamanya" dari pengasuhan," pesan Retno.
"Jadi ini akan berkembang (buruk), ketika *pelaku jadi atasan maka akan bisa melakukan pembullyan atau perundungan ke bawahannya," sambungnya.
Respons Universitas Telkom
Sebelumnya pihak Universitas Telkom telah menyampaikan tindakan tegasnya, berupa pendampingan dan perlindungan terhadap korban. Diduga pria itu merupakan mahasiswa baru (maba).
"PPKPT tengah melakukan penanganan sesuai dengan mekanisme dan ketentuan yang berlaku. Dalam proses ini, Telkom University Bandung mengedepankan perlindungan dan pendampingan terhadap pihak yang terdampak," bunyi pernyataan resmi Telkom.
Dijelaskan Telkom langsung mendalami kasus dengan tim gabungan oleh Direktorat Kemahasiswaan, Karier, dan Alumni bersama dengan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT).
Selain itu, Telkom juga akan berupaya dalam memberikan perlindungan ke seluruh mahasiswa. Pasalnya itu prioritas untuk dilindungi dari aksi perundungan atau kekerasan semacamnya.
Kemudian juga, kabar terbarunya pihak.kampus sudah menjatuhkan sanksi berat kepada pelaku yang terlibat dalam kasus tersebut.
"Dari pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini sudah ditetapkan sanksi untuk dua orang," kata Ratri di Bandung.
"Ada satu dari dua yang telah ditetapkan satu memperoleh sanksi berat, dan satu lagi memperoleh sanksi sedang. Secara umum bahwa sanksi berat ketika itu diberlakukan di Telkom University maka sanksi berat itu adalah mengenai Drop Out (DO) dari Telkom University," katanya.(klw)