- Antara
Praktisi Kesehatan Masyarakat Soroti Kasus ISPA yang Tinggi di Kalimantan, Ingatkan Ada Kelompok Rentan Perlu Dilindungi
Jakarta, tvOnenews.com – Praktisi kesehatan masyarakat, dr. Ngabila Salam, MKM, menyoroti tingginya kasus ISPA di Kalimantan. Isu ini mencuat di tengah kabar kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan masih dalam pengendalian dan pengoptimalan pemadaman. Ada dampak kesehatan yang muncul seiring berjalannya waktu, yaitu ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut.
Sejauh ini, tercatat data sementara regional Kalimantan untuk luas karhutla sebesar 38.310,86 hektare di Kalimantan Barat, 8.019,63 hektare di Kalimantan Selatan, 7.634,46 hektare di Kalimantan Tengah, 2.715,76 hektare di Kalimantan Timur, dan 400,62 hektare di Kaltara.
- Dokumentasi BNPB
dr. Ngabila Salama tidak secara spesifik menyebutkan jumlah kenaikan kasus ISPA di Kalimantan. Namun, data dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan bahwa di Kalimantan Barat, penderita ISPA menembus 165.747 kasus sejak 1 Januari hingga awal Agustus 2026.
Sementara itu, di Kalimantan Selatan, tercatat 18.423 kasus ISPA, disusul Kalimantan Tengah yang mencatat lebih dari 3.000 kasus hanya dalam rentang 10 hingga 16 Agustus.
Angka tersebut mengkhawatirkan karena ISPA bisa menyasar berbagai usia. dr. Ngabila pun mengingatkan adanya kelompok rentan perlu dilindungi dalam kondisi ini.
"Prioritasnya adalah melindungi balita, lansia, dan masyarakat dengan komorbid. Penanganan ISPA tidak cukup reaktif mengobati pasien, tetapi harus proaktif mengendalikan faktor risiko dan mencegah penularan di masyarakat," katanya kepada tvOnenews.com, Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, masyarakat Kalimantan perlu menjaga kesehatan, menerapkan PHBS, serta mengenakan masker untuk meminimalkan risiko terkena ISPA.
"Butuh sinergi pemerintah, fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat, dan sektor swasta sangat penting, tetapi harus diwujudkan dalam langkah konkret, dengan penguatan surveilans, edukasi etika batuk dan kebersihan tangan, penggunaan masker saat sakit atau berada di lingkungan berpolusi, serta pengendalian asap dan kualitas udara," jelas dr. Ngabila Salama.
Untuk diketahui, puncak musim kemarau yang diprediksi BMKG terjadi pada Juli hingga September 2026 juga dapat memicu tingginya risiko karhutla.
Kemenkes menyebutkan bahwa ancaman terbesar dari situasi ini adalah paparan partikel halus berbahaya atau PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun yang mampu menembus sistem pernapasan dan peredaran darah tanpa batasan ruang.
Sehubungan dengan hal ini, berikut layanan call center dan darurat kesehatan bisa membantu masyarakat. Khususnya di wilayah Kalimantan, yang dirangkum tvOnenews.com dari ChatGPT, antara lain:
-Layanan Darurat Nasional (Kemenkes): Hubungi Halo Kemenkes di 1500-567 atau 119 (Public Safety Center/PSC untuk kegawatdaruratan medis).
-Kalimantan Selatan (Banjarmasin): Hubungi Call Center Darurat 112 (gratis untuk ambulans dan darurat medis) atau Call Center Dinas Kesehatan Kalsel di 0821-5771-8672 / 0821-5771-8673.
-Kalimantan Timur (Balikpapan): Hubungi PSC 119 Dinas Kesehatan Kota Balikpapan di 0822-2558-1119 atau NCC 119 Ext 1.
-Kalimantan Timur (Tarakan): Hubungi Call Center Darurat 112 atau Dinas Kesehatan Tarakan di 0811-5432-453.
-Kalimantan Tengah: Pengaduan layanan kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng melalui WhatsApp di 0822-5428-7834.
-Kalimantan Utara (Tanjung Selor): Hubungi Dinas Kesehatan Kaltara di 0811-4111-2700.
(klw)