- Istimewa
Etika dan Integritas: Kunci Profesi Humas Menghadapi Disrupsi AI
Jakarta, tvOnenews.com - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa pergeseran signifikan bagi dunia hubungan masyarakat (humas).
Di satu sisi, teknologi ini menawarkan efisiensi, namun di sisi lain, ia menciptakan tantangan besar terkait kebenaran informasi.
Praktisi humas kini tidak hanya dituntut mahir secara teknis, tetapi juga harus menjadi garda terdepan dalam menjaga akurasi dan etika komunikasi di tengah maraknya potensi disinformasi serta manipulasi data.
Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS), Boy Kelana, menyoroti bahwa kemajuan teknologi tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pemahaman antarmanusia.
Dalam Konvensi Humas Indonesia di Solo, Sabtu (17/10), ia menegaskan bahwa kecepatan algoritma digital dalam menyebarkan narasi tidak menjamin kebenaran atau rasa tanggung jawab.
“Artificial Intelligence telah menghadirkan peluang luar biasa bagi peradaban manusia. Namun, pada saat yang sama, AI juga meningkatkan kemampuan menciptakan disinformasi, deepfake, manipulasi persepsi, dan berita palsu dalam skala serta kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan,” ungkap Boy.
Menurut Boy, untuk menavigasi kompleksitas tersebut, praktisi humas harus memadukan penguasaan teknologi dengan kecerdasan emosional, empati, serta kebijaksanaan.
Teknologi hanyalah alat bantu, sementara kendali atas keputusan etis dan verifikasi fakta harus tetap berada di tangan manusia untuk menjaga kepercayaan publik.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menyoroti adanya perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
Publik saat ini cenderung mendapatkan informasi mengenai reputasi atau kinerja organisasi melalui mesin pencari berbasis AI, alih-alih berinteraksi langsung dengan lembaga terkait.
Hal ini menuntut praktisi humas untuk lebih proaktif dalam menyediakan data yang kredibel dan berkualitas.
“Sekarang ini kalau kita lihat kekuatan humas sebetulnya bagaimana kita memproduksi data-data itu menjadi data-data yang trusted. Namun hari ini publik tidak lagi mengakses data-data dari korporasi, dari lembaga, dari institusi yang langsung berhubungan dengan humas, tapi lewat Artificial Intelligence,” ujar Nezar.
Nezar menekankan bahwa tantangan utama di era ini bukan lagi sekadar aksesibilitas informasi, melainkan kedalaman dan kualitas konten itu sendiri.
Dengan demikian, profesi humas dituntut untuk tetap memegang teguh prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Inovasi teknologi harus dipandang sebagai mitra, namun integritas tetap menjadi fondasi utama yang menentukan keberlanjutan profesi humas dalam menjaga kepercayaan masyarakat di tengah arus informasi yang semakin cepat. (dpi)