- YouTube tvOnenews
Anak Down Syndrome di Surabaya Meninggal Diduga Dibully Dua Bocah Tetangganya
tvOnenews.com — Laras Abdul Wahid, seorang ayah dari anak down syndrome di Rungkut, Surabaya, Jawa Timur kini hanya bisa menyerahkan persoalan hukum kepada pihak berwajib.
Bagaimana tidak, sang anak berkebutuhan khusus (ABK) meninggal dunia di rumahnya sendiri usai diduga mengalami perundungan oleh dua anak tetangganya.
Peristiwa memilukan ini sebetulnya terjadi pada 12 September 2026 atau tepat sebulan lalu, tepatnya di sebuah rumah kawasan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur.
Seorang anak berkebutuhan khusus sedang duduk di kursi roda. Menurut pengakuan sang ayah, ia mengalami down syndrome, jantung bocor hingga alami gangguan penglihatan.
Karena hal inilah, si anak berinisial Z (10 tahun) hanya menghabiskan harinya dengan duduk di kursi roda. Saat hari nahas itu tiba, ia lagi berada di teras rumah.
Sang ayah saat itu tertidur di kamar, efek dari meminum obat penyakit ginjal yang dideritanya. Adapun ibunya berangkat ke pasar untuk berjualan sari kedelai.
Namun ketika sang ibu kembali dari pasar, betapa terkejutnya dia melihat anaknya tertelungkup dan jatuh dari kursi roda yang selama ini menopang hidupnya.
Ketika ditemukan, Z dalam kondisi tak sadar dan badannya mulai membiru. Ibunya langsung memanggil sang suami yang berada di kamar tidur.
Dengan situasi panik, kedua orang tua ini meminta bantuan orang sekitar untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Akan tetapi, nyawa Z tidak tertolong.
Konon dalam hasil pemeriksaan, ditemukan tali sepatu yang menjerat leher korban dengan sebilah besi. Mulut Z kabarnya juga dimasukkan sabun colek hingga tertelan.
Kabarnya, ada dua orang anak tetangga yang menyelinap masuk ke dalam rumah korban. Dari rekaman CCTV, terlihat jelas pelaku masuk lewat pintu yang terbuka.
Dari hasil penyelidikan dan juga gelar perkara, Polrestabes Surabaya menetapkan tiga tersangka, salah satunya anak berinisial K berusia 10 tahun.
Melansir dari informasi yang diperoleh tvOne, pelaku tidak ditahan oleh pihak kepolisian, bahkan masih sering beraktivitas di lingkungan rumah.
“Ya, menurut apa gelar perkara ataupun reka adegan itu di apa dilakukan penyiksaan itu gak ditahan masih bebas di rumah bersama orang tuanya sampai sekarang,“ kata ayah korban, Laras Abdul Wahid.