news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Cerita dari cabin Super Puma: water bombing dan peran TNI AU menangani Karhutla..
Sumber :
  • istimewa

Cerita dari Kabin Super Puma: Perjuangan TNI AU Padamkan Karhutla Lewat Misi Water Bombing

Di balik efektivitas pemadaman kebakaran hutan lewat water bombing, TNI AU mengungkap berbagai tantangan ekstrem di udara, mulai dari medan terjal pegunungan.
Minggu, 1 November 2026 - 11:09 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) terus menunjukkan komitmen dan kesiapsiagaan penuh dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.

Salah satu metode penanganan yang dinilai paling efektif untuk menjangkau medan sulit adalah water bombing atau pengeboman air.

Berdasarkan rilis resmi TNI AU, operasi water bombing sejauh ini telah dikerahkan di lima titik karhutla utama, yakni Pekanbaru (Riau), Pontianak (Kalimantan Barat), Balikpapan (Kalimantan Timur), Gunung Lawu (Jawa Tengah), serta Gunung Ciremai (Jawa Barat).

Water bombing dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sumber :
  • istimewa

Dalam menjalankan misi ini, TNI AU mengerahkan armada andalannya, yaitu Helikopter H225M Caracal dari Skadron Udara 8 dan NAS-332 Super Puma dari Skadron Udara 6. Masing-masing helikopter dilengkapi fasilitas Bambi Bucket berkapasitas maksimal 2.950 liter air dalam sekali pengambilan (pick up).

Di balik keberhasilan misi kemanusiaan tersebut, tersimpan cerita penuh tantangan dari dalam kokpit. Komandan Skadron Udara 6 sekaligus Pilot in Command (PIC) helikopter NAS-332 Super Puma, Letkol Pnb M. Ravi Rakasiwi, S.E., M.I.Pol., membagikan pengalamannya saat memimpin misi pemadaman karhutla di Gunung Lawu, Jawa Tengah.

Meski dari luar tampak bersahabat, Gunung Lawu menyimpan medan operasional yang cukup ekstrem.

"Gunung yang terlihat friendly ternyata punya medan yang cukup sulit. Terdapat banyak obstacle [rintangan] yang harus dilalui untuk mencapai titik api maupun dalam proses perilisan air," ungkap Letkol Ravi melalui sambungan telepon kepada tim redaksi Saksi Mata Network.

Ia menjelaskan, titik api kerap berada di tengah atau dikelilingi oleh tebing-tebing curam yang menjulang tinggi. Hal ini menuntut perhitungan matang serta koordinasi tingkat tinggi agar air dapat dirilis secara tepat sasaran.

Letkol Ravi juga menekankan bahwa keberhasilan setiap misi water bombing sangat bergantung pada kekompakan tim di dalam kabin.

Sedikitnya ada lima awak yang bertugas di dalam helikopter: pilot dan kopilot yang dituntut menjaga konsentrasi penuh dalam mengendalikan helikopter; dua operator yang bertugas memantau situasi di area target sekaligus mengontrol buka-tutup katup Bambi Bucket; serta seorang juru mesin yang bertanggung jawab penuh atas aspek teknis mesin helikopter.

"Tanpa kerjasama yang baik, juga insting dan feeling yang terlatih, mustahil misi water bombing bisa diselesaikan," imbuhnya.

Dari sisi efektivitas, metode water bombing terbukti andal untuk menjangkau titik-titik api yang mustahil ditempuh melalui jalur darat. Dalam sekali rilis, aliran air dari Bambi Bucket berkapasitas 2.950 liter mampu menyiram area seluas 300 hingga 500 meter.

Selama satu misi penerbangan, helikopter Super Puma sanggup melakukan pick up dan rilis air sebanyak 10 hingga 15 kali—sebuah data dan fakta penting bagi pengembangan strategi penanganan karhutla di tanah air ke depannya.

Cerita dari cabin Super Puma: water bombing dan peran TNI AU menangani Karhutla.
Sumber :
  • istimewa

Kendati demikian, Letkol Ravi menceritakan bahwa tidak semua misi berjalan mulus tanpa hambatan. Tantangan terbesar justru kerap muncul pada saat pengambilan air.

"Risiko terbesar yang kami hadapi di lapangan justru ketika pick up air," kata Letkol Ravi.

Salah satu kendala yang sering ditemui adalah sumber air yang sempit dan terbatas, yang menuntut tingkat stabilitas tinggi agar Bambi Bucket dapat terisi penuh. Selain itu, tantangan berat juga dirasakan ketika waduk atau sumber air berada di dalam cekungan yang dikelilingi perbukitan.

Dalam situasi tersebut, kelihaian pilot dan kopilot benar-benar diuji untuk memperhitungkan tenaga (power) helikopter saat membawa beban maksimal air, terutama ketika harus terbang naik melewati bukit yang elevasinya lebih tinggi dari posisi helikopter.

Kendala lainnya muncul ketika sumber air berada di dekat pemukiman warga.

"Kami harus benar-benar menentukan arah approach jauh dari pemukiman penduduk, karena angin yang dihasilkan sangat kencang dan bisa membahayakan," jelasnya.

Water bombing dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sumber :
  • istimewa

Setiap misi penyelamatan tentu menyisakan cerita tentang perjuangan, tantangan, dan pengorbanan para patriot udara. Seluruh langkah taktis dan adaptif ini sejalan dengan jargon pengabdian TNI AU, yakni "AMPUH" (Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis). Melalui operasi water bombing yang presisi, TNI AU berharap dapat mewujudkan visi "Udara untuk Nusantara Bebas Asap" demi kenyamanan, kesehatan, serta keselamatan seluruh rakyat Indonesia.


 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:21
14:13
09:50
04:54
08:02
14:03

Viral