- Netflix
Lavrov Sentil Elit Barat Lewat Dokumen Epstein: Dunia Lihat Wajah Asli Kekuasaan Tersembunyi
Moskow, tvOnenews.com — Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan dokumen yang dipublikasikan dalam kasus mendiang taipan keuangan Jeffrey Epstein telah membuka apa yang ia sebut sebagai “wajah asli” elit Barat. Pernyataan tersebut disampaikan Lavrov di tengah meningkatnya ketegangan politik antara Rusia dan negara-negara Barat, sekaligus perdebatan global soal transparansi dan akuntabilitas elite kekuasaan.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Rusia NTV pada Minggu (9/2/2026), Lavrov menilai berkas Epstein menampilkan praktik-praktik yang berada di luar nalar manusia serta mencerminkan kemerosotan moral di kalangan elite negara-negara Barat.
“Topik ini adalah tentang mengungkap wajah sebenarnya dari apa yang disebut Barat kolektif, yang mencoba memerintah seluruh dunia,” kata Lavrov dalam pernyataannya.
Ia menyebut apa yang terungkap dari dokumen tersebut sebagai sesuatu yang menurutnya tidak masuk akal secara moral dan bahkan menggambarkannya sebagai bentuk “satanisme murni”. Meski tidak merinci isi spesifik dokumen yang dimaksud, Lavrov menilai kasus Epstein menjadi simbol kerusakan nilai di kalangan elite global.
Lavrov juga mengaitkan dokumen Epstein dengan keberadaan struktur kekuasaan tersembunyi yang, menurutnya, berusaha mengendalikan kebijakan negara-negara Barat dan mempengaruhi tatanan dunia secara lebih luas. Ia menggunakan istilah “deep state”, atau yang menurutnya lebih tepat disebut sebagai “deep union”, untuk merujuk pada jaringan tersebut.
Menurut Lavrov, fenomena ini bukan sekadar soal individu, tetapi mencerminkan sistem kekuasaan yang tertutup dan minim akuntabilitas. Ia menilai praktik semacam itu berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi dan memperparah ketegangan geopolitik global.
Komentar Lavrov muncul di tengah hubungan Rusia dan Barat yang masih diliputi ketegangan, terutama sejak konflik geopolitik dalam beberapa tahun terakhir. Isu transparansi elite dan akuntabilitas kekuasaan juga menjadi topik sensitif di banyak negara, seiring meningkatnya tuntutan publik terhadap keterbukaan informasi dan penegakan hukum yang adil.
Kasus Jeffrey Epstein sendiri kembali menjadi sorotan internasional setelah sejumlah dokumen terkait jejaring sosial dan aktivitasnya dipublikasikan. Epstein, seorang taipan keuangan Amerika Serikat, meninggal dunia pada 2019 saat berada dalam tahanan federal, ketika menghadapi dakwaan serius terkait perdagangan seks anak di bawah umur.
Pada 2019, Epstein didakwa di pengadilan Amerika Serikat atas tuduhan perdagangan seks anak di bawah umur serta konspirasi untuk melakukan kejahatan tersebut. Ia terancam hukuman penjara lebih dari 40 tahun. Menurut pihak penuntut, sejak 2002 hingga 2005, Epstein melakukan hubungan seksual dengan puluhan gadis di bawah umur yang ia temui di kediamannya di New York dan Florida.
Para korban disebut menerima bayaran tunai, dan sebagian di antaranya kemudian diminta merekrut gadis-gadis lain untuk Epstein. Beberapa korban bahkan dilaporkan berusia sekitar 14 tahun. Kasus ini memicu kemarahan publik luas di Amerika Serikat dan dunia internasional karena menyentuh isu eksploitasi anak, kekuasaan, serta dugaan keterlibatan tokoh-tokoh berpengaruh.
Bagi Lavrov, publikasi dokumen Epstein bukan hanya soal mengungkap kejahatan individu, tetapi juga menjadi cermin terhadap apa yang ia sebut sebagai kerusakan moral dan krisis nilai di kalangan elite Barat. Ia menilai dunia internasional perlu lebih waspada terhadap praktik-praktik yang berlangsung di balik layar kekuasaan.
Lavrov juga menegaskan bahwa isu tersebut menguatkan pandangannya tentang adanya struktur kekuasaan global yang tertutup, yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai demokrasi dan keadilan yang selama ini diklaim oleh negara-negara Barat.
Meski demikian, pernyataan Lavrov juga memicu perdebatan internasional, terutama mengenai penggunaan istilah seperti “deep state” dan generalisasi terhadap elite Barat. Sejumlah pihak menilai kasus Epstein harus dipandang sebagai proses hukum pidana terhadap individu, bukan sebagai cerminan tunggal dari sistem politik suatu kawasan.
Namun, Lavrov menegaskan bahwa dokumen Epstein tetap memiliki makna simbolik yang besar dalam konteks geopolitik global. Menurutnya, kasus tersebut memperlihatkan sisi gelap kekuasaan yang selama ini luput dari sorotan publik.
Pernyataan Menlu Rusia itu menambah dimensi politik dalam diskursus internasional tentang transparansi elite, akuntabilitas hukum, serta hubungan antara kekuasaan, moralitas, dan kepercayaan publik di era modern. (ant/nsp)