- ist
Eks Utusan Khusus AS Soroti Posisi Indonesia di Tengah Memanasnya Konflik Rusia–NATO
Jakarta, tvOnenews.com - Mantan Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Ukraina, Kurt Volker, menegaskan bahwa dinamika geopolitik global saat ini menempatkan Indonesia pada posisi yang tidak lagi memungkinkan untuk bersikap benar-benar netral.
Menurut Volker, hubungan antara Amerika, sekutu Eropa, dan NATO mengalami gesekan yang cukup signifikan. Penyebabnya mulai dari pernyataan politik Washington hingga isu tarif terhadap negara-negara Eropa.
Ia menyebut kedatangan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, ke Munich akhir pekan lalu sebagai upaya meredakan ketegangan.
“Rubio datang untuk menenangkan situasi dan menegaskan bahwa AS masih melihat sekutu Eropa sebagai mitra penting dalam menghadapi tantangan bersama,” katanya di sela gelaran Munich Security Conference 2026, Selasa (18/2/2026).
Di saat yang sama, perang yang dilakukan Russia di Ukraina terus berkecamuk. Volker menyebutnya sebagai perang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.
“Rusia tetap menyerang. Ribuan orang tewas. Banyak negara seperti Estonia, Lituania, dan Polandia takut menjadi target berikutnya,” tambahnya.
Volker menegaskan bahwa Presiden Vladimir Putin masih percaya dirinya bisa meraih kemenangan, sehingga perang belum mendekati akhir. Ia menyoroti pendanaan Rusia sebagai elemen kunci.
“Perlu lebih banyak tekanan pada Kremlin, terutama sisi finansial. Selama Rusia bisa menjual minyak dan gas di pasar global, perang akan berlanjut," katanya.
Ketika ditanya tentang dampak konflik tersebut terhadap Asia, terutama Indonesia, Volker memperingatkan kemungkinan berkurangnya fokus keamanan Barat di kawasan Indo-Pasifik.
“Jika perhatian NATO tersedot ke Eropa, akan ada ruang bagi China untuk terus mendorong ambisi regionalnya,” katanya.
Untuk itu, upaya negara-negara Eropa meningkatkan belanja pertahanan dianggap penting agar Amerika Serikat tidak harus memikul beban ganda.
Volker juga menegaskan bahwa ambisi Rusia tidak berhenti di Eropa. Ia merinci bagaimana Moskow pernah atau masih memiliki pengaruh di Timur Tengah, Amerika Latin, hingga Asia.
Rusia, kata Volker, terlibat di Suriah, Iran, Venezuela, Kuba, bahkan bekerja sama dengan Korea Utara.
“Semua ini menunjukkan bahwa negara seperti Indonesia tidak bisa lagi berpikir bahwa netralitas adalah opsi yang realistis,” ujarnya.
Menurutnya, keputusan Indonesia dalam kebijakan energi dan hubungan internasional memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas global.
Dalam sudut pandang yang cukup berbeda dari sebagian pengamat Barat, Volker tidak melihat Cina secara strategis membantu Rusia dalam perang Ukraina.
“Cina memikirkan Cina. Jika mereka bisa membeli energi Rusia dengan murah, mereka lakukan. Jika bisa berdagang dengan Ukraina, mereka juga lakukan. Mereka hanya berbisnis.”
Volker menyebut Beijing memandang Rusia sebagai negara yang lemah secara ekonomi dan demografi, namun tidak keberatan jika kelemahan tersebut membantu melemahkan tatanan global demokratis.
Rekomendasi untuk Indonesia: Perkuat Kapabilitas Sendiri dan Pilih Komunitas Global yang Tepat
Menurut Volker, negara non-blok seperti Indonesia tetap harus mengambil posisi strategis agar tidak terjebak dalam perebutan pengaruh kekuatan besar.
“Jika saya Indonesia, hal pertama yang saya lakukan adalah berinvestasi pada kemampuan keamanan sendiri — terutama udara dan laut,” ujarnya.
Hal kedua adalah memahami perbedaan antara negara yang mendukung tatanan global stabil dan negara yang memiliki ambisi ekspansionis.
“Indonesia harus melihat dirinya sebagai bagian dari komunitas yang ingin membangun keamanan global," ucapnya.