news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Konflik Memanas! Donald Trump Blak-blakan soal Nasib Iran di Piala Dunia 2026.
Sumber :
  • Reuters

Peringatan Keras dari AS Kepada Media Terkait Pemberitaan Perang Iran, Trump Ancam Cabut Izin Siaran

Baru-baru ini mencuat terkait Regulator penyiaran utama AS mengancam media massa terkait pemberitaan negatif terkait perang Iran. Peringatan tersebut
Senin, 16 Maret 2026 - 05:01 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Baru-baru ini mencuat terkait Regulator penyiaran utama AS mengancam media massa terkait pemberitaan negatif terkait perang Iran

Peringatan tersebut dikeluarkan oleh Komisi Komunikasi Federal (FCC), yang mengawasi radio, televisi, dan media internet AS, pada Sabtu (14/3/2026).

Bahkan sebelumnya, Presiden AS, Trump mengecam judul berita kritis dari media yang ia sebut dengan "Media Berita Palsu". 

Trump sejak masa jabatan pertamanya telah mencemooh media arus utama sebagai "berita palsu". 

Selain itu, Trump juga menggugat media besar terkait pemberitaan yang menurutnya tidak adil.

Ketua FCC, Brendan Carr, mengatakan bahwa lembaga penyiaran berisiko kehilangan izin mereka karena berita yang disiarkan.

"Hukumnya jelas. Lembaga penyiaran harus beroperasi untuk kepentingan publik, dan mereka akan kehilangan izin mereka jika tidak," beber Carr dikutip dari AFP, pada Senin (16/3/2026).

"Lembaga penyiaran yang menyebarkan berita bohong dan distorsi berita —juga dikenal sebagai berita palsu— sekarang memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan sebelum masa perpanjangan izin mereka berakhir," jelasnya.

Pernyataan Carr tidak menyebutkan secara spesifik media berita mana pun, tetapi menyertakan unggahan media sosial Trump. 

Dalam unggahan itu Trump mengecam sebuah berita yang menurutnya menyesatkan yakni soal lima pesawat tanker yang terkena serangan Iran di Arab Saudi.

Kemudian, Foundation for Individual Rights in Education (FIRE), sebuah organisasi advokasi kebebasan berbicara yang berbasis di AS, menilai peringatan dari Carr itu keterlaluan.

"Ketika pemerintah menuntut pers menjadi corong negara di bawah ancaman hukuman, ada sesuatu yang sangat salah," katanya.

Sejak Israel dan Amerika Serikat pertama kali melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, baik Trump maupun kepala Pentagon Pete Hegseth secara teratur menepis berita-berita kritis sebagai "berita palsu".

Pada hari Jumat, baik Pentagon maupun Gedung Putih mengecam stasiun televisi CNN usai menayangkan berita yang menunjukkan bahwa Washington telah meremehkan kemampuan Iran untuk mengganggu lalu lintas minyak global di Selat Hormuz.

"Berita ini 100% BERITA PALSU," beber Sekretaris Pers Karoline Leavitt dalam sebuah unggahan di X.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

22:32
02:38
01:37
01:55
01:48
03:02

Viral