- Antara
Amerika Serikat Rancang Opsi Serangan Darat ke Iran, Gedung Putih: Keputusan Tetap di Tangan Trump
Sejak perang pecah pada akhir Februari 2026, situasi di kawasan Teluk telah merenggut nyawa 13 personel militer AS dan menyebabkan lebih dari 300 lainnya terluka.
Dari sisi opini publik, sebuah jajak pendapat menunjukkan mayoritas masyarakat AS (62 persen) menolak adanya serangan darat, sementara hanya 12 persen yang menyatakan dukungan.
Pakar militer Michael Eisenstadt turut memberikan peringatan keras mengenai risiko teknis di lapangan. Ia menyoroti kerentanan pasukan jika berada di area yang sempit.
"Saya tidak ingin ada di tempat sekecil itu dengan kemampuan Iran menghujani mereka dengan drone," ujar Eisenstadt.
Ia menekankan bahwa dalam situasi seperti ini, "kelincahan adalah bagian dari perlindungan pasukan."
Ketegangan hebat di Timur Tengah ini bermula dari serangan udara gabungan yang dilancarkan Israel dan AS pada 28 Februari lalu yang menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menyasar Israel serta pangkalan-pangkalan militer AS di Irak, Yordania, dan negara-negara Teluk lainnya, yang memicu gangguan serius pada stabilitas ekonomi dan penerbangan global. (ant/dpi)