news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Bendera Iran.
Sumber :
  • Li Muzi-Xinhua

Perundingan AS-Iran Ambruk di Islamabad: Tuntutan Berubah, Ego Kekuatan Besar Jadi Pemicu Utama

Perundingan AS-Iran di Islamabad gagal usai 21 jam. Perubahan tuntutan, ego geopolitik, hingga faktor Trump jadi penyebab utama kebuntuan.
Senin, 13 April 2026 - 19:33 WIB
Reporter:
Editor :

Faktor Donald Trump Jadi Penentu

Sejumlah pengamat menilai faktor Presiden AS Donald Trump berperan besar dalam kegagalan perundingan ini.

Trump disebut kerap mengubah posisi dan tuntutan secara mendadak, sehingga menimbulkan ketidakpastian dalam proses negosiasi. Bahkan, ancaman blokade Selat Hormuz yang muncul di tengah perundingan dinilai sebagai langkah sepihak yang memperkeruh situasi.

Selain itu, gaya negosiasi Trump yang cenderung menekan dan mengedepankan ultimatum membuat Iran semakin enggan untuk berkompromi.

Salah Persepsi Kedua Negara

Kegagalan perundingan juga dipicu oleh kesalahan asumsi dari kedua belah pihak.

Amerika Serikat menganggap Iran berada dalam posisi lemah dan dapat dipaksa menerima tuntutan. Sebaliknya, Iran merasa masih cukup kuat untuk bertahan, bahkan menilai AS tidak siap menghadapi dampak perang berkepanjangan.

Perbedaan persepsi ini menciptakan kebuntuan. Kedua pihak sama-sama merasa memiliki posisi tawar yang lebih kuat, sehingga enggan mengalah.

Pengaruh Konflik Regional dan Israel

Faktor eksternal juga turut memperumit perundingan. Iran menilai bahwa Amerika Serikat tidak mampu mengendalikan Israel, yang terus melancarkan serangan di kawasan, termasuk ke Lebanon dan Palestina.

Situasi ini membuat Iran ragu terhadap komitmen AS dalam menjaga stabilitas kawasan. Bahkan, kehadiran pejabat Iran di Islamabad disebut berisiko karena dapat dipantau oleh pihak Israel.

Ketidakpastian ini semakin memperkecil peluang tercapainya kesepakatan.

Blokade Selat Hormuz Perkeruh Situasi

Pasca kegagalan perundingan, ketegangan meningkat dengan langkah Amerika Serikat mengikuti Iran dalam memblokade Selat Hormuz.

Langkah ini dinilai bukan hanya sebagai respons militer, tetapi juga strategi untuk meningkatkan daya tawar dalam negosiasi. Namun di sisi lain, kebijakan ini justru berisiko memperluas konflik, termasuk potensi gesekan dengan China sebagai pembeli utama energi Iran.

Jika kapal-kapal China ikut terdampak, konflik berpotensi melebar menjadi krisis global yang lebih besar.

Tekanan Domestik dan Ekonomi AS

Di sisi internal, Amerika Serikat juga menghadapi keterbatasan. Presiden hanya memiliki waktu terbatas untuk mengerahkan militer tanpa persetujuan Kongres, sesuai aturan Resolusi Perang 1973.

Selain itu, tekanan ekonomi dan kekhawatiran publik terhadap kenaikan harga energi menjadi faktor yang membatasi ruang gerak Washington.

Berita Terkait

1
2
3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:30
01:12
00:54
04:58
01:08
03:22

Viral