- Tim tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Anwar Ibrahim Kecam Norwegia usai Rudal untuk Malaysia Dibatalkan Mendadak
Malaysia, tvOnenews.com - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim melontarkan kritik keras terhadap pemerintah Norwegia setelah negara Eropa tersebut secara sepihak mencabut izin ekspor sistem rudal perang untuk kapal tempur Angkatan Laut Malaysia.
Keputusan itu langsung memicu ketegangan diplomatik antara Malaysia dan Norwegia. Anwar Ibrahim bahkan menyebut langkah Norwegia sebagai tindakan yang tidak dapat diterima karena dilakukan menjelang pengiriman sistem rudal yang sudah dibayar hampir lunas oleh Malaysia.
Polemik tersebut kini berkembang menjadi ancaman gugatan hukum dan tuntutan ganti rugi bernilai besar dari pemerintah Malaysia.
Anwar Ibrahim Sebut Keputusan Norwegia Tidak Bisa Diterima
Anwar Ibrahim secara terbuka menyampaikan keberatan pemerintah Malaysia atas pencabutan izin ekspor rudal Naval Strike Missile (NSM) buatan perusahaan pertahanan Norwegia, Kongsberg.
Menurut Anwar Ibrahim, keputusan Norwegia dilakukan secara sepihak tanpa mempertimbangkan dampak besar terhadap kesiapan pertahanan Malaysia.
Anwar Ibrahim bahkan telah berbicara langsung melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Stoere untuk menyampaikan protes resmi pemerintah Malaysia.
Dalam pernyataannya, Anwar Ibrahim menilai kontrak pertahanan internasional seharusnya dihormati dan tidak dibatalkan begitu saja.
“Kontrak yang telah ditandatangani adalah instrumen serius. Itu bukan konfeti yang bisa disebar secara sembarangan,” tegas Anwar Ibrahim.
Pernyataan Anwar Ibrahim tersebut langsung menjadi sorotan karena menunjukkan ketegangan yang semakin terbuka antara Kuala Lumpur dan Oslo.
Malaysia Sudah Bayar Hampir 95 Persen
Menteri Pertahanan Malaysia Mohamed Khaled Nordin mengungkapkan pemerintah Malaysia telah membayar hampir 95 persen dari nilai kontrak sebelum Norwegia mencabut izin ekspor rudal tersebut pada Maret 2026.
Padahal, sistem rudal NSM itu dijadwalkan segera dikirim untuk dipasang pada kapal tempur littoral combat ship (LCS) milik Angkatan Laut Malaysia.
Kontrak awal pengadaan rudal NSM diketahui bernilai 124 juta euro atau sekitar Rp2,7 triliun.
Selain kontrak utama untuk enam kapal perang LCS, Malaysia juga disebut memiliki kesepakatan lain untuk memasang sistem rudal serupa pada dua kapal tambahan.
Akibat keputusan Norwegia tersebut, Malaysia kini menghitung total kerugian dan mempertimbangkan langkah hukum internasional.