news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Terungkap Protokol Darurat di Global Sumud Flotilla, Jurnalis Republika Sudah Siapkan Video SOS Sebelum Dicegat Israel.
Sumber :
  • Istimewa

Terungkap Protokol Darurat di Global Sumud Flotilla, Jurnalis Republika Sudah Siapkan Video SOS Sebelum Dicegat Israel

Dua jurnalis Republika di Global Sumud Flotilla jalani protokol darurat sebelum dicegat Israel, termasuk rekam video SOS hingga buang ponsel ke laut.
Senin, 18 Mei 2026 - 22:15 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Gaza kembali menghadapi situasi mencekam setelah dua kapal mereka, Borales dan Osgurluk, dicegat otoritas Israel di perairan internasional Laut Mediterania, Senin (18/5/2026).

Di antara para relawan dan awak kapal tersebut, terdapat dua warga negara Indonesia yang juga merupakan jurnalis Republika, yakni Bambang Noroyono atau Abeng dan Thoudy Badai atau Ody.

Sebelum kapal dicegat, para peserta GSF ternyata sudah menjalani sejumlah prosedur keamanan dan protokol darurat yang disiapkan khusus menghadapi kemungkinan intersepsi tentara Israel. Protokol itu bukan hal baru, karena skenario serupa juga pernah terjadi dalam misi GSF pada 2025 lalu.

Jurnalis Sudah Dilatih Hadapi Intersepsi Israel

Wakil Pimpinan Redaksi Republika, Stevy Maradona, mengungkapkan bahwa sejak dini hari, komunikasi dengan para jurnalis di kapal sudah mengarah pada situasi siaga tinggi.

Menurut Stevy, sekitar pukul 03.00 hingga 04.00 dini hari, para peserta GSF mendapat informasi bahwa kapal mereka telah memasuki perairan internasional Laut Mediterania, wilayah yang dinilai rawan terhadap pencegatan cepat oleh militer Israel.

“Dari tim Global Sumud Flotilla internasionalnya bilang kalau sudah di perairan internasional di Laut Mediterania, itu besar kemungkinan kapal Israel bisa intercept lebih cepat,” kata Stevy.

Situasi itu membuat seluruh relawan menjalankan protokol keamanan yang sebelumnya sudah dilatih oleh tim internasional GSF.

Salah satu prosedur penting yang dilakukan adalah merekam video SOS sebelum insiden terjadi. Video tersebut bukan direkam spontan saat penangkapan berlangsung, melainkan sudah dipersiapkan lebih awal sebagai bagian dari protokol darurat apabila kapal dicegat atau peserta ditahan.

Pada pukul 14.00 WIB, Bambang Noroyono mengirim video SOS yang berisi pesan bahwa dirinya berada dalam situasi penahanan otoritas Zionis Israel dan meminta bantuan pemerintah untuk membebaskannya.

Stevy menegaskan video itu memang bagian dari skenario antisipasi.

“Jadi memang ada protokolnya yang sudah dilatih dari Global Sumud Flotilla Internasional,” ujar dia.

Namun hingga kini, Republika mengaku masih menunggu video SOS dari Thoudy Badai dan beberapa peserta lain yang berada di kapal berbeda.

Protokol Ekstrem: Relawan Buang Ponsel ke Laut

Situasi serupa ternyata pernah terjadi dalam misi GSF tahun 2025. Saat itu, kapal-kapal relawan kemanusiaan juga diintersep oleh tentara Israel di tengah laut.

Dari video dokumentasi yang beredar di YouTube, terlihat bagaimana suasana berubah mencekam ketika kapal perang Israel mendekat sangat dekat ke armada GSF.

Dalam video tersebut dijelaskan bahwa seluruh kru dan relawan diperintahkan membuang ponsel mereka ke laut demi alasan keamanan.

Langkah ekstrem itu dilakukan karena perangkat elektronik dianggap bisa menjadi celah penyadapan maupun alat infiltrasi digital.

“Setiap perangkat bisa jadi mata-mata,” ungkap salah satu peserta misi dalam video tersebut.

Bagi para relawan, ponsel yang biasanya menjadi alat komunikasi utama justru berubah menjadi ancaman ketika berada di wilayah operasi yang rawan intersepsi militer.

GSF menilai perangkat elektronik berpotensi disusupi untuk melacak posisi kapal, menyadap komunikasi, bahkan mengganggu sistem navigasi.

Karena itu, ketika radar mendeteksi kapal tak dikenal mendekat, para relawan langsung menjalankan prosedur darurat, termasuk mematikan komunikasi dan membuang perangkat pribadi ke laut.

Kronologi Mencekam Intersepsi GSF Tahun 2025

Insiden pada 2025 menjadi salah satu pengalaman paling dramatis yang membentuk prosedur keamanan ketat GSF saat ini.

Berdasarkan kronologi yang beredar, situasi mulai memanas sejak dini hari ketika radar kapal mendeteksi 10 hingga 12 kapal tak dikenal mendekat ke armada.

Berikut kronologi singkat intersepsi tersebut:

  • 00.23–00.55: Radar mendeteksi kapal asing, alarm berbunyi, kamera mulai terganggu dan kru membuang ponsel ke laut.

  • 01.01–01.31: Kapal Israel semakin dekat hingga kurang dari satu mil laut dari kapal Alma dan Florida.

  • 02.17–02.32: Kontak dengan kapal Sirius hilang lebih dari 40 menit.

  • 03.01–04.39: Sejumlah kapal diserang meriam air hingga kamera pengawas lumpuh.

  • 04.52–06.27: Kapal lain dipaksa berhenti dan intersepsi meluas.

Sejumlah relawan internasional juga dilaporkan sempat ditahan dalam operasi tersebut.

Pengalaman itu membuat setiap peserta GSF tahun 2026, termasuk Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, harus memahami prosedur keselamatan sebelum berlayar.

Keluarga dan Pemerintah Diminta Bergerak

Di tengah situasi yang masih belum jelas, grup komunikasi internal peserta GSF juga menyebarkan pesan darurat kepada keluarga, rekan, hingga pemerintah masing-masing negara.

Pesan tersebut meminta seluruh pihak mendesak intervensi diplomatik untuk memastikan keselamatan para relawan.

“Contact your embassies, consulate, elected officials, and governments. Demand urgent intervention to protect the participants, crew, and volunteers,” kata Stevy membacakan pesan dari grup tersebut.

Hingga kini, posisi pasti Bambang Noroyono dan Thoudy Badai masih belum dapat dipastikan.

Republika menyebut belum diketahui apakah para peserta masih berada di kapal, dipindahkan ke kapal perang Israel, atau dibawa menuju wilayah tertentu.

Pihak Republika juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI guna mencari kepastian terkait kondisi kedua jurnalis tersebut.

Di sisi lain, intersepsi terhadap armada kemanusiaan GSF kembali memunculkan sorotan internasional terhadap keselamatan relawan sipil yang membawa bantuan menuju Gaza di tengah konflik yang terus memanas. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:47
09:31
02:23
02:56
07:21
03:23

Viral