- Antara
Terus Gempur Lebanon karena Tak Punya perjanjian, Pakar Strategi PPAU Nilai Israel Geer akan Dimanjakan AS
Jakarta, tvOnenews.com - Pakar Strategi PPAU, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati menyoroti serangan Israel terhadap Lebanon. Gempuran itu masih terjadi usai Amerika Serikat (AS) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Iran.
Agung melihat poin pertama dari perdamaian AS dengan Iran yang menyapakati penghentian operasi militer dari semua front. Akan tetapi, Israel justru tetap pilih menyerang wilayah Lebanon.
Agung mengulik alasan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu tak menghalangi operasi militer menyerang Lebanon. Keputusan tersebut tentu menghancurkan perdamaian AS dan Iran.
"Saya enggak tahu kepandaian, kecerdasan ataupun kebodohan dari Netanyahu, dia tidak menghalangi serangan ke Beirut. Tujuan dia jelas menghalangi tanda tangan daripada atau perjanjian dealnya," ujar Agung dalam program Apa Kabar Indonesia tvOne, Sabtu (20/6/2026).
Menurut Agung, upaya dari Netanyahu tentu memicu kekhawatiran bagi AS, terutama Presiden Donald Trump. Situasi tersebut akan merubah dari strategi mencapai tujuan perdamaian dengan Iran.
Dalam perjanjian dengan Iran, AS harus menarik pasukannya. Tak hanya itu, sekutunya termasuk Israel juga wajib mundur dari wilayah Lebanon.
"Kalimatnya bahwa Amerika dan Iran sepakat untuk menjaga kedaulatan dan integritas Lebanon. Artinya apa? Setelah ini ditandatangani, kalau sampai nanti masih Israel menduduki Lebanon selatan, berarti akan berhadapan dengan Amerika dan Iran," terangnya.
Kenap Israel Melawan Kesepakatan Perdamaian AS-Iran?
- Reuters/Zohra Bensemra
Ia memahami kesepakatan tersebut menimbulkan pertentangan dari Netanyahu. Menurutnya, sang Perdana Menteri merasa bahwa Israel dan AS tidak memiliki perjanjian apa pun.
Di sisi lain, Israel juga merasa telah menyatu dengan AS. Maksudnya, Israel menganggap pihaknya sangat dimanjakan oleh Amerika.
"Sekarang kita lihat Amerika dan Israel itu enggak punya perjanjian apa pun, tapi orang Israel geer banget beranggapan bahwa mereka adalah pasangan yang sehidup semati kayak diikat perjanjian pernikahan suci, sehingga apa pun akan dibela. Akan tetapi, nyatanya tidak," jelasnya.
Menurutnya, pola pikir tersebut tidak sesuai realita. AS justru lebih memilih Iran sehingga menyepakati belasan poin tercantum dalam nota kesepahaman ditandatangani secara jarak jauh di Prancis.
"Tidak ada perjanjian Israel, perjanjian yang ada sekarang dengan Iran. Perjanjian ini kalau kita baca sekarang isinya semacam pemberian untuk Iran karena isinya banyak sekali memenuhi keinginan Iran," bebernya.
Dalam sejumlah poin yang tercantum, Pakar Strategi PPAU itu tentu terkejut dengan keputusan AS. Trump menyetujui pencabutan sanksi terhadap Iran.
Selain itu, perdamaian AS-Iran juga berpotensi memperkuat stabilitas dan memfasilitasi perdagangan global. Dialog damai ini membuka jalan bagi potensi sanksi dan integrasi lebih luas ke dalam ekonomi global.
"Langsung kita memikir hal ini. Apa yang terjadi? Jangan-jangan dijadikan switch pikirannya di Washington. Iran menjadi partner karena apa? Kalau Iran sampai dekat dengan China dan lain-lain, lebih bagus juga dekat dengan Amerika," katanya.
Menurutnya, langkah ini tentu bukan sekadar perdamaian, tetapi juga memberikan keuntungan besar bagi Amerika.
Ia kembali berbicara Israel. Keputusan tersebut tentu membuat Israel patah hati kepada AS.
"Yang mereka kira, mereka sangka bahwa mereka berada di bawah payung perlindungan kecintaan, kesayangan Amerika, ternyata itu impian pada saat kepentingan nasional Amerika bertabrakan dengan kepentingan nasional Israel," tukasnya.
(hap)