- Istimewa via VIVA
Kenapa Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Baru Digelar setelah Empat Bulan Meninggal?
Rute panjang tersebut dimulai dari Grand Mossala Teheran sebagai pusat kekuasaan, bergeser ke Qom sebagai jantung ulama Syiah, lalu menyeberang ke Irak menuju kota kemartiran Karbala serta kota suci Najaf.
Perjalanan spiritual ini nantinya akan berakhir di kota kelahiran Khamenei, Mashhad, untuk dimakamkan selamanya di dekat makam suci Imam Reza.
Jeda panjang selama empat bulan antara kematian dan pemakaman—yang sangat tidak lazim dalam tradisi Islam—menjadi bukti autentik betapa situasi di Iran sempat luar biasa genting akibat gempuran bom yang terus terjadi selama berminggu-minggu.
Namun, Teheran berhasil mengemas ulang narasi lewat lambang kepalan tangan berslogan "Kita harus bangkit" sebagai simbol persatuan nasional dan kompetensi birokrasi di bawah tekanan musuh.
Imbas dari megahnya prosesi berkabung ini, Amerika Serikat terpaksa harus menelan pil pahit. Washington yang sudah tidak sabar untuk menyudahi perang kini dipaksa gigit jari dan menunggu di luar pintu negosiasi.
Pembicaraan lanjutan dipastikan tertunda total dan baru akan digelar setelah seluruh rangkaian pemakaman tuntas pasca-9 Juli 2026.
Melalui mediator dari Qatar dan Pakistan, Iran juga menutup rapat ruang tawar dan tetap menolak keras untuk duduk satu meja secara langsung dengan utusan Gedung Putih.
- Antara
Tensi Memanas: Israel Tebar Ancaman Pembunuhan ke Pemimpin Baru
Di tengah situasi berkabung yang emosional, percikan perang baru justru kembali diletupkan oleh Israel.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz secara provokatif melontarkan ancaman pembunuhan terbuka yang membidik Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, sebagai target operasi militer selanjutnya.
Ancaman maut tersebut langsung direspons secara keras oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Araghchi langsung menagih komitmen kesepakatan internasional kepada Amerika Serikat agar mampu mengontrol tindakan liar sekutunya di Tel Aviv tersebut selama masa gencatan senjata berlangsung.
Melalui lautan manusia dan prosesi kolosal enam hari di dua negara ini, Iran sukses mengirimkan pesan berdarah dan terang-benderang ke Washington dan Tel Aviv: Kepala boleh saja tumbang, namun tubuh rezim tetap berdiri tegak, berduka, dan sama sekali tidak akan bertekuk luthut.