- Antara
Mengapa di Pemakaman Ali Khamenei Surah Ali Imran Ayat 13 Bergema saat Delegasi Arab Saudi Berikan Penghormatan Terakhir?
tvOnenews.com – Prosesi pemakaman kenegaraan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang berlangsung sejak Jumat lalu benar-benar menyita perhatian geopolitik dunia.
Namun, dari sekian banyak rangkaian acara di Grand Mosalla, Teheran, ada satu momen super langka bernuansa ketegangan tinggi yang paling menjadi sorotan kamera internasional, yakni saat delegasi Arab Saudi maju memberikan penghormatan di hadapan peti jenazah Khamenei.
Tepat ketika para pejabat tinggi Arab Saudi berdiri di depan peti mati, lantunan ayat suci Al-Qur'an yang menggema di seisi ruangan mendadak membuat atmosfer berubah drastis.
Ayat yang sengaja dibacakan oleh qari Iran saat itu adalah Surah Ali Imran ayat 13.
قَدْ كَانَ لَكُمْ اٰيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِ الْتَقَتَاۗ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَاُخْرٰى كَافِرَةٌ يَّرَوْنَهُمْ مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِۗ وَاللّٰهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ
"Sungguh, telah ada tanda (bukti kekuasaan Allah) bagimu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat dengan mata kepala mereka bahwa jumlah orang Muslim dua kali lipat mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati)."
Bukan sembarang ayat, surat tersebut secara spesifik mengisahkan tentang keajaiban Perang Badar.
Sebuah memori sejarah tahun 624 Masehi—yang kini wilayahnya masuk teritorial Arab Saudi—di mana pasukan Muslim yang berjumlah mini dan bersenjata terbatas sukses menghancurkan pasukan kafir Quraisy yang jauh lebih masif atas izin Allah SWT.
Banyak pengamat menilai pemilihan ayat ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Muncul pertanyaan besar di kalangan analis: apakah pembacaan ayat Perang Badar ini merupakan bentuk penghormatan, sindiran diplomatik yang menusuk, atau justru gabungan dari keduanya?
- Antara
Kode Keras Iran untuk Sikap 'Muka Dua' Arab Saudi
Jika ditafsirkan secara positif, ayat tersebut memang mengingatkan pada kemenangan monumental perdana umat Islam sekaligus menjadi pengikat memori peradaban yang sama-sama dimiliki oleh Teheran dan Riyadh.
Namun, jika dibedah dari sudut pandang konflik teranyar di Timur Tengah, maknanya menjadi terasa jauh lebih tajam dan mengerikan.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa selama eskalasi perang berkecamuk, Arab Saudi dinilai secara diam-diam tetap bermain aman di ketiak Amerika Serikat (AS).
Bahkan, santer beredar laporan intelijen yang menyebut Riyadh diduga ikut melancarkan operasi serangan rahasia untuk melemahkan Iran.
Melalui lantunan ayat tersebut, Iran seolah mengirim pesan menohok: saat Israel dan AS mencoba menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam jurang kehancuran, Arab Saudi justru memilih tiarap dan berkhianat.
Sebaliknya, Iran digambarkan sebagai representasi "pasukan sedikit" yang sukses bertahan, melawan, dan justru keluar dari konflik dengan posisi yang jauh lebih kuat, termasuk keberhasilan mereka yang kian nyata dalam mencengkeram kendali Selat Hormuz.
Arab Saudi sendiri bukan satu-satunya negara yang hadir dalam prosesi kolosal tersebut. Tercatat ada lebih dari 30 delegasi dari berbagai belahan dunia yang datang menerobos barikade untuk memberikan penghormatan terakhir.
Kehadiran para pejabat tinggi lintas negara ini langsung dimanfaatkan Iran sebagai panggung unjuk kekuatan (show of force) diplomatik.
- Anadolu via Antara.
Teheran sukses membuktikan kepada dunia bahwa mereka masih sangat jauh dari kata terisolasi, sekaligus menampar ambisi besar yang selama ini digelorakan oleh Washington dan Tel Aviv.
Skenario pembacaan ayat Al-Qur'an yang berbeda bagi setiap delegasi disinyalir sengaja dirancang oleh otoritas Iran.
Ayat-ayat tersebut menjadi indikator hierarki, bagaimana cara Teheran menguliti dan mencatat dengan saksama posisi serta keterlibatan masing-masing pemerintah negara asing terhadap isu regional mereka.
Sebagai pengingat, Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan udara brutal gabungan antara Israel dan Amerika Serikat yang menghantam kediaman pribadinya di pusat kota Teheran pada 28 Februari lalu.
Agresi keji tersebut juga merenggut nyawa cucunya yang masih balita berusia 14 bulan, beserta menantu laki-laki dan menantu perempuannya.
Disemayamkan selama tiga hari di Grand Mosalla—kompleks raksasa simbol bertemunya otoritas agama dan negara—pemakaman ini bukan lagi sekadar ritual duka keagamaan. Ini adalah panggung politik absolut.
Iran berhasil mengirimkan empat pesan tegas: kepada rakyatnya bahwa rezim tetap kokoh bersatu; kepada sekutunya bahwa mereka tidak akan pernah menyerah; kepada negara adidaya bahwa Iran mustahil dipatahkan; dan kepada para rivalnya bahwa setiap jengkal sikap mereka telah dicatat dalam buku hitam Teheran.