- Reuters/Navesh Chitrakar
Detik-detik Mencekam Banjir Bandang Sapu Perbatasan China-Nepal, Rekaman CCTV Warga Berhamburan Viral
Kathmandu, tvOnenews.com - Sejumlah rekaman CCTV memperlihatkan detik-detik banjir bandang menyapu wilayah di perbatasan antara Nepal dan China viral di media sosial. Video yang beredar menunjukkan ratusan warga berhamburan dan berusaha melarikan diri.
Ketinggian gelombang air banjir bandang di perbatasan China-Nepal diperkirakan mencapai 39 hingga 48 meter atau setara 130-160 kaki. Banjir bandang super besar itu pun menghancurkan gedung-gedung dan menyebabkan ratusan orang tewas.
Dilansir tvOnenews.com dari Reuters, Kamis (27/8/2026), sebuah rekaman CCTV dari ketinggian di wilayah Gyirong memperlihatkan ratusan orang berhamburan. Mereka berusaha menyelamatkan diri saat gelombang air banjir besar menghancurkan gedung di lintas batas antara China dan Nepal.
Dalam sejumlah rekaman CCTV dan kamera warga yang beredar, mobil-mobil terparkir, para pekerja dan warga di daerah pegunungan, serta jembatan-jembatan tersapu bersih oleh debit air banjir bandang yang cukup besar.
Banjir bandang tersebut terekam tidak hanya membawa gelombang air dengan debit yang cukup besar, namun juga bercampur dengan material lumpur dengan ketinggian hampir 50 meter pada Rabu (26/8/2026).
- X @surajit_ghosh2
Merujuk dari Channel News Asia, berdasarkan dari laporan awal mengenai banjir bandang tersebut, pemicu bencana yang menghantam gedung di perbatasan China dan Nepal itu disebabkan adanya longsor gletser.
Dugaan pemicu banjir bandang membawa material lumpur tersebut juga diperkuat dengan pendapat para ahli. Pasalnya, luapan air Sungai Bhotekoshi di wilayah pegunungan Rasuwa, Nepal menyebabkan sejumlah rumah, infrastruktur, pembangkit listrik tenaga air rusak.
Dampak dari bencana ini juga menyebabkan longsor lumpur yang terjadi di Shigatse, salah satu kota besar di Daerah Otonom Tibet.
Mengacur dari laporan AFP, petugas bantuan memberikan pernyataan dampak dari banjir bandang tersebut. Seluruh permukiman yang dihantam air bercampur material lumpur telah hanyut tanpa menyisakan apa pun.
Melalui sebuah pernyataan di media sosial, Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah mengatakan, "Rasa sakit dan kehilangan yang Anda alami tidaklah kecil. Namun, saya ingin meyakinkan bahwa, Anda tidak sendirian di masa sulit ini, negara hadir bersamamu dengan segala daya dan sumber daya yang ada."
Update Terbaru Dampak Banjir Bandang China-Nepal
- Reuters/Navesh Chitrakar
Otoritas pariwisata Nepal melaporkan kabar terbaru terkait upaya penyelamatan warga dan orang-orang yang terdampak bencana super besar tersebut. Usaha ini terus berlanjut pada Kamis, 27 Agustus 2026 waktu setempat.
Berdasarkan dari laporan terbaru, Otoritas pariwisata setempat memperkirakan jumlah yang tewas lebih dari 160 orang. Sementara ratusan orang lainnya masih hilang.
Otoritas pariwisata Nepal memprediksi sekitar 590 orang dari 29 negara telah hilang akibat bencana di perbatasan Nepal dadn China pada Rabu (26/8/2026).
Berdasarkan pendapat dari otoritas dan media lokal, ratusan orang yang tewas dan hilang merupakan wisatawan asing dari sejumlah negara, seperti India, Malaysia, Inggris, dan Amerika Serikat. Adapun lima warga negara Jepang juga dilaporkan hilang.
Laporan dari Kemlu RI
Banjir bandang menghantam perbatasan wilayah kedua negara tersebut mengundang perhatian Pemerintah Indonesia. Melalui Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Heni Hamidah, Pemerintah Indonesia meningkatkan pemantauan warga negara Indonesia (WNI) di wilayah perbatasan Nepal-Tibet.
Heni Hamidah menyampaikan bahwa, perwakilan Indonesia di kawasan tersebut masih melakukan koordinasi. Hal ini bertujuan untuk memastikan apakah ada WNI terdampak dari bencana super besar tersebut.
"Kemlu melalui KBRI Dhaka dan KBRI Beijing terus memantau perkembangan situasi pasca banjir bandang yang terjadi pada 26 Agustus 2026 di wilayah perbatasan Nepal–Tibet," ujar Heni, Kamis, 27 Agustus 2026.
Pemantauan berlangsung dari koordinasi dengan jejaring komunitas WNI dan Konsulat Hnor RI di Kathmandu. Hingga kini, Kemlu RI belum mendapat laporan WNI yang terdampak atau menjadi korban bencana banjir bandang tersebut.
"Berdasarkan pemantauan dan komunikasi dengan pihak terkait, belum mendapat laporan mengenai WNI yang terdampak. Terdapat sekitar 45 WNI di Nepal dan mayoritasnya berdomisili di Kathmandu dan bekerja di sektor perhotelan," katanya.
(hap)