- Antara
Indonesia dan Makau Perkuat Kerja Sama Ekonomi, 120 Business Matching Digelar
“Kami menyambut perusahaan, termasuk dari Indonesia, untuk secara aktif mempertimbangkan Makau sebagai platform untuk memasuki pasar Tiongkok dan memperluas bisnis internasional mereka,” katanya.
Dari sisi pariwisata, Direktur Macao Government Tourism Office (MGTO) Maria Helena de Senna Fernandes mengatakan hampir 88.000 wisatawan Indonesia berkunjung ke Makau pada semester I 2026. Ini menempatkan Indonesia dalam 10 besar pasar wisatawan internasional Makau.
“Pada paruh pertama tahun ini, Makau menerima hampir 88.000 pengunjung dari Indonesia, yang mencerminkan kuat dan meningkatnya minat terhadap destinasi kami,” ujar Maria.
Makau mencatat lebih dari 40 juta kunjungan wisatawan pada 2025 dan menargetkan 41 juta kunjungan pada 2026. Untuk memperkuat pasar Indonesia, MGTO meningkatkan promosi melalui seminar, business matching, roadshow, pameran pariwisata, platform digital, kreator konten, serta pengembangan destinasi ramah Muslim.
MGTO juga memproduksi konten berbahasa Indonesia, termasuk serial mikro-drama yang memperkenalkan destinasi ikonik, wisata komunitas, dan pengalaman ramah Muslim. Potensi budaya, festival, kuliner, serta MICE turut dikembangkan, sementara kerja sama dengan pelaku industri perjalanan diperkuat melalui nota kesepahaman dengan Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo).
Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi menyampaikan Makau memiliki reputasi internasional melalui stabilitas, keterbukaan, dan konektivitas. Indonesia melihat peluang kerja sama luas, terutama pada produk halal, industri farmasi tradisional, dan interkonektivitas.
Edi menyebut hubungan perdagangan dan pertukaran masyarakat kedua wilayah telah berkembang, termasuk investasi perusahaan Makau di sektor konstruksi dan transportasi. Wisatawan Indonesia ke Makau pada tahun sebelumnya juga mencapai lebih dari 200.000 orang. Indonesia telah menerapkan bebas visa bagi pemegang paspor Daerah Khusus Makau untuk mendorong mobilitas masyarakat.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Daerah Khusus Makau Tsang Ho-Fai menilai pelaksanaan Rencana Lima Tahun ke-15 China dan Rencana Lima Tahun ke-3 Daerah Khusus Makau akan membuka peluang baru bagi hubungan ekonomi Indonesia-Makau. Menurutnya, kedua wilayah memiliki posisi penting dalam konektivitas Jalur Sutra Maritim sehingga ruang kerja sama masih sangat besar.
Xie menegaskan Makau bukan hanya kota wisata, melainkan platform penting China untuk memperkuat keterbukaan dan kerja sama internasional. IPIM berharap hubungan dengan perusahaan dan lembaga dari berbagai negara semakin erat sehingga lebih banyak proyek internasional dapat direalisasikan.