- Antara
Konflik Semakin Panas! Rusia Tembak Jatuh Serangan Puluhan Ribu Drone Tempur Ukraina
Jakarta, tvOnenews.com - Ketegangan perang antara Rusia dan Ukraina masih terus meningkat. Rusia mengklaim berhasil menggagalkan hampir sekitar 28 ribu serangan menggunakan pesawat tak berawak atau drone milik Ukraina sepanjang Oktober 2026.
Di tengah tingginya aktivitas serangan udara tersebut, militer Rusia juga dilaporkan melebarkan kegiatan operasi. Hal itu menyasar sejumlah infrastruktur yang disebut memiliki keterkaitan dengan kepentingan militer Ukraina.
Target yang diserang oleh Rusia mencakup, di antaranya fasilitas transportasi, kapal pengangkut logistik, hingga pusat pengolahan data.
Dikutip dari Sputnik, Selasa (3/11/2026), berdasarkan laporan Kementerian Pertahanan Rusia, sistem pertahanan udara negara tersebut berhasil melakukan intersepsi terhadap hampir 28.000 drone Ukraina. Jumlah tersebut berlangsung dalam kurun waktu 1-31 Oktober 2026.
Selain mengungkap jumlah drone yang berhasil dicegat, Moskow turut melaporkan sejumlah operasi militer terhadap jalur distribusi perlengkapan tempur Ukraina. Serangan tersebut disebut dilakukan menggunakan pesawat tak berawak pada malam hingga Minggu.
Rusia Serang Jalur Kereta Api dan Kapal Pengangkut Logistik Ukraina
- ANTARA/Anadolu
Salah satu sasaran operasi militer Rusia adalah fasilitas pengendalian perjalanan kereta api di Stasiun Konotop, wilayah Sumy, Ukraina. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim lokasi tersebut mempunyai peran dalam mendukung pengiriman persenjataan dan perlengkapan militer dari kawasan barat Ukraina menuju pasukan Angkatan Bersenjata Ukraina.
Sebagaimana dikutip dari Al Mayadeen, Minggu (1/11/2026), pihak kementerian menyampaikan alasan penetapan fasilitas tersebut sebagai target serangan, "Fasilitas kontrol lalu lintas di stasiun kereta api Konotop di wilayah Sumy, yang memfasilitasi transfer senjata dan peralatan militer ke Angkatan Bersenjata Ukraina dari Ukraina barat."
Tidak hanya jalur perkeretaapian, operasi militer Rusia juga menyasar sebuah kapal kargo yang berada di perairan sekitar 69 kilometer sebelah barat daya Odessa.
Berdasarkan dari laporan Kementerian Pertahanan Rusia, kapal tersebut diduga membawa berbagai kebutuhan logistik untuk mendukung pasukan militer Ukraina.
Pusat Data Ukraina Dilaporkan Menjadi Target Serangan
Operasi Rusia sepanjang Oktober 2026, juga mencakup sejumlah fasilitas teknologi informasi. Berdasarkan penghitungan Sputnik terhadap laporan resmi Kementerian Pertahanan Rusia, terdapat lima pusat data di Ukraina, yang menjadi sasaran dalam enam kesempatan serangan.
Salah satu lokasi yang masuk dalam daftar tersebut adalah pusat data ATM milik UkrSibbank di Kiev. Rusia mengklaim fasilitas itu dimanfaatkan untuk menghimpun, mengolah, serta menyimpan informasi intelijen. Hal ini mendorong lokasi tersebut dilaporkan telah dihajar dua kali.
Fasilitas pusat data lainnya yang turut disebut menjadi sasaran berada di Odessa. Lokasi ini diklaim memiliki fungsi untuk memproses, mengirimkan, dan menyimpan berbagai informasi.
Selain itu, Rusia melaporkan serangan terhadap fasilitas DataGroup di Kiev dan wilayah sekitarnya. Pusat data RX-NAME di Nikolaev juga masuk dalam daftar target.
Menurut klaim Moskow, fasilitas tersebut untuk mengolah data sekaligus menjadi tempat penyimpanan dan pengelolaan situs web milik militer bersenjata Ukraina.
Sementara itu, pusat data Hosting Ukraina yang berlokasi di Odessa turut dilaporkan terkena serangan. Rusia menyebut fasilitas tersebut untuk mengelola informasi intelijen serta data operasional yang berkaitan dengan aktivitas unit militer Ukraina.
Di sisi lain, laporan mengenai keberhasilan mencegat hampir 28 ribu drone memperlihatkan intensitas penggunaan pesawat tak berawak dalam konflik kedua negara semakin tinggi sepanjang Oktober 2026.
Jumlah tersebut merupakan hasil penghitungan Sputnik berdasarkan data yang diumumkan Kementerian Pertahanan Rusia untuk periode 1-31 Oktober 2026.
Meski demikian, angka tersebut merupakan klaim dari pihak Rusia dan belum dapat dipandang sebagai verifikasi independen atas seluruh operasi udara selama periode tersebut.
Rentetan laporan mengenai pencegatan drone dan serangan terhadap fasilitas pendukung militer menunjukkan bahwa penggunaan teknologi nirawak serta perebutan kendali atas infrastruktur strategis masih menjadi bagian penting dalam konflik Rusia-Ukraina.
(hap)