news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi pengeras suara.
Sumber :
  • tim tvOne

Media Asing: Azan di Jakarta, Kesalehan Atau Kebisingan

AFP, media internasional yang berpusat di Paris, Prancis mempublikasikan artikel berjudul,"Piety or noise nuisance? Indonesia tackles call to prayer volume backlash,"
Minggu, 17 Oktober 2021 - 08:59 WIB
Reporter:
Editor :

-Simbol kebesaran-

Di seluruh dunia Islam, siaran azan dan khotbah melalui pengeras suara eksternal dianggap sebagai pilar utama identitas Muslim, tetapi masalah ini sangat memecah belah.

Pada bulan Juni, pihak berwenang di Arab Saudi memerintahkan masjid untuk membatasi volume pengeras suara eksternal mereka hingga sepertiga dari kapasitas maksimum mereka, dengan alasan kekhawatiran akan polusi suara. Ada reaksi langsung.

Ada sekitar 750.000 masjid di seluruh Indonesia --sebuah masjid berukuran sedang bisa memiliki setidaknya selusin pengeras suara eksternal yang mengumandangkan azan lima kali sehari.

Bagi Rina, gangguan malam hari memengaruhi kesehatannya.

"Saya mulai mengalami insomnia, dan saya didiagnosa mengalami gangguan kecemasan setelah selalu terbangun. Sekarang saya berusaha membuat diri saya lelah mungkin, sehingga saya bisa tidur di tengah kebisingan," jelasnya.

Ketua Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla memperkirakan sekitar separuh masjid di Indonesia memiliki akustik yang buruk, yang memperburuk masalah kebisingan.

“Ada kecenderungan untuk menyetel volume tinggi agar azan dapat didengar oleh jamaah sebanyak mungkin dari jarak jauh karena mereka menganggapnya sebagai simbol keagungan dalam Islam,” jelas koordinator program DMI Azis Muslim.

Organisasi tersebut berjuang untuk meminimalkan ketegangan masyarakat dengan layanan gratis dari pintu ke pintu untuk memperbaiki sistem suara dan menawarkan pelatihan --sekitar 7.000 teknisi bekerja pada proyek tersebut dan telah memperbaiki audio di lebih dari 70.000 masjid.

Meski program tersebut tidak wajib, Ketua Masjid Al-Ihkwan Jakarta Ahmad Taufik memanfaatkannya karena ingin memastikan keharmonisan sosial. "Suaranya sekarang lebih lembut. Dengan begitu tidak akan mengganggu orang-orang di sekitar, apalagi kami memiliki rumah sakit di belakang masjid," katanya.

-'Melaporkannya membawa bencana'-

Tapi itu sudah lama menjadi masalah kontroversial.

Kemudian wakil presiden Boediono, yang seperti kebanyakan orang Indonesia menggunakan satu nama, menghadapi kecaman ketika dia menyarankan volume adzan dibatasi pada tahun 2012.

Lima tahun lalu, ratusan pengunjuk rasa membakar hampir selusin candi Buddha di Tanjung Balai Sumatera Utara setelah Meiliana, yang merupakan keturunan Tionghoa dan juga memiliki satu nama, mengkritik kerasnya azan.

Berita Terkait

1
2
3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:10
08:13
08:52
02:17
01:33
03:09

Viral