- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Kubu Ganjar-Mahfud Deg-degan soal Keanehan Hasil Quick Count: Ini Bisa Picu Guncangan Politik
Jakarta, tvOnenews.com - Deputi Politik Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Andi Widjajanto mengatakan, hasil hitung cepat (quick count) Pilpres 2024 sarat dengan keanehan.
Andi menyebut, berbagai laporan kecurangan penggelembungan suara untuk pasangan calon (Paslon) nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Dia khawatir situasi memprihatinkan itu akan memicu terjadinya permasalahan pada hasil Pemilu 2024 dan menimbulkan guncangan politik.
Sebab, hasil quick count yang sangat anomali ditambah indikasi kecurangan pada sistem perhitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU).
“TPN Ganjar-Mahfud bersama PDI Perjuangan dan partai pengusung lainnya akan membentuk tim khusus untuk menyelidiki setiap proses dari hulu ke hilir,” kata Andi, pada Kamis (15/2/2024).
Andi menjelaskan, tujuan dari pembentukan tim khusus ini untuk memastikan bahwa Pemilu 2024 berjalan demokratis dan siapapun yang menjadi pemenang, baik pemilu presiden maupun pemilu legislatif, akan menjadi pemenang yang legitimasinya kuat.
"Ya, jangan sampai nanti hasil pemilunya akan selalu terus-menerus dipermasalahkan, sehingga akan selalu muncul guncangan-guncangan politik selama 5 tahun ke depan," jelas Andi.
Menurut dia, seluruh pihak harus mengawal hasil perhitungan suara Pemilu 2024 agar berjalan secara konstiutusional sesuai mandat dari pasal 22 (e) UUD 1945.
Jika tidak, lanjut Andi, maka Indonesia akan diperhadapkan dengan kondisi pemilu di masa Orde Baru (Orba) di mana setiap pemilu semua sudah tahu siapa yang menjadi presiden, siapa yang menjadi partai pemenang, dan akan terus terjadi protes dari masyarakat yang menginginkan tegaknya demokrasi yang diperjuangan sehingga terjadi reformasi.
"Kita harus memastikan mandat dari pasal 22 (2) UUD itu dilaksanakan dalam Pemilu 2024, kalau tidak kita akan berhadapan lagi dengan kondisi Orba di mana kita tahu siapa yang menang, kita tahu siapa yang menjadi presiden, tapi kemudian rekam politiknya menyala terus-menerus menunggu trigger-triggernya, itu yang tidak kami inginkan," tuturnya.(rpi/lkf)