news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Upaya evakuasi korban bencana banjir dan tanah longsor di Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Tapanuli Selatan, Jumat (28/11/2025)..
Sumber :
  • Basarnas

Ketua Komisi VIII Menduga Banjir di Sumatera Akibat Ilegal Logging, Banyak Kayu Gelondongan Hanyut

Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang menduga banjir bandang yang melanda sejumlah daerah di Sumatera akibat perambahan hutan yang dilakukan oknum tertentu.
Sabtu, 29 November 2025 - 14:29 WIB
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, buka suara soal musibah banjir bandang yang terjadi di sejumlah daerah Sumatera Utara, khususnya di Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Tapanuli Tangah (Tapteng). Dirinya menduga banjir bandang akibat terjadinya perambahan hutan yang dilakukan oknum tertentu.

Marwan mengungkapkan bahwa dalam peristiwa ini, fakta yang terjadi yakni banyaknya kayu gelondongan yang hanyut saat banjir terjadi.

“Faktanya kita lihat saat terjadi banjir bandang di Tapteng dan Tapsel, yang hanyut banyak kayu gelondongan, berarti ada perambahan hutan di hulu sungai, mengakibatkan banjir bandang," kata Marwan, dalam keterangannya, Sabtu (29/11/2025).

Kemudian Marwan meminta agar hal ini jangan dianggap sepele, sebab ada oknum tertentu yang mengambil keuntungan pribadi, yang menanggung masyarakat dan pemerintah. Akibat banjir bandang itu, tanah longsor terjadi, jalan putus, begitu juga jembatan, rumah, dan harta benda masyarakat hancur.

Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang
Sumber :
  • Abdul Gani Siregar/tvOnenews.com

 

Kemudian Marwan berharap agar pemerintah berkoordinasi dengan TNI/Polri melakukan penyelidikan terkait perambahan hutan yang terjadi di wilayah Sumut, tentunya setelah selesai menangani dampak dari bencana yang terjadi pada masyarakat. 

“Kita mendesak pemerintah serta aparat terkait supaya mengusut perambahan hutan di wilayah Sumut. Sebab kalau hal ini terus dibiarkan, bencana alam seperti ini akan terus terjadi jika perambahan hutan tidak segera diatasi,” terang Marwan.

Sementara itu Marwan mengimbau, kepada masyarakat yang terdampak agar tetap bersabar. Pemerintah sampai sejauh ini terus berupaya melakukan penanganan. Apalagi saat ini di berbagai titik jalan dan jembatan putus, sehingga bantuan logistik masih terhambat.

“Bagi keluarga kena musibah, termasuk meninggal dunia, kita ikut berduka. Bagi masyarakat yang saat ini masih mengungsi kita harapkan tetap semangat. Intinya, pemerintah tidak akan membiarkan masyarakat menyelesaikan urusannya sendiri, pasti hadir, tetapi tetap mohon kesabaran. Apalagi cuaca ini tidak bisa kita kendalikan, curah hujan yang masih begitu tinggi saat ini,” jelas Marwan.

Untuk diketahui, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat (Sumbar) melaporkan, sebanyak 61 orang tewas akibat banjir bandang dan longsor.

"Update 28 November pukul 21.00 WIB total korban meninggal dunia 61 orang," ujar BPBD Sumbar dalam laporannya, Sabtu (29/11/2025).

Korban meninggal tersebut terdiri dari satu orang di Kabupaten Pasaman Barat, 47 di Agam, tujuh di Padang Panjang, satu di Kota Solok, dan lima orang di Kota Padang.

Selain itu, tim SAR gabungan hingga kini masih terus memasifkan pencarian korban hilang akibat bencana hidrometeorologi, terutama di Kabupaten Agam.

Di Kabupaten Pasaman Barat, BPBD merekap 1.712 rumah terendam banjir, 1.248 kepala keluarga (KK), 122 hektare (Ha) lahan, empat rumah rusak, dan satu fasilitas kesehatan rusak dengan total kerugian mencapai Rp363 juta.

Di Kabupaten Agam terdapat 16 kecamatan terdampak bencana di mana 83 orang masih dalam pencarian. Sebanyak 484 jiwa mengungsi, sembilan rumah rusak, 249 meter jalan rusak, akses air bersih terputus dan beberapa fasilitas pendidikan dan lainnya ikut terdampak.

Di Kabupaten Padang Pariaman bencana hidrometeorologi terjadi di 17 kecamatan, 10.437 jiwa terdampak, 3.208 orang mengungsi, lima fasilitas pendidikan rusak, 3.530 rumah terendam banjir, serta 102 warga masih terisolir. 

Di Kota Padang banjir dan tanah longsor melanda tujuh kecamatan dengan total 17 kelurahan. Bencana merusak 150 rumah, masing-masing satu fasilitas ibadah dan kesehatan mengalami kerusakan serta 18.208 orang mengungsi ke tempat yang lebih aman. 

Secara keseluruhan bencana hampir merata terjadi di sejumlah daerah di Sumbar. Berdasarkan catatan dihimpun BPBD, total kerugian sementara diperkirakan mencapai Rp9,5 miliar. 

Angka itu bisa bertambah mengingat masih banyak daerah belum bisa diakses karena jalan putus dan tertimbun material longsor. (Ars/rpi)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:44
02:34
01:28
01:14
01:19
01:41

Viral