- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Menkes Tegaskan Kematian Pasien Super Flu di RSHS Bandung Dipicu Komorbid, Bukan Murni Virus
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, memberikan penjelasan terkait kasus kematian seorang pasien yang terinfeksi Influenza A H3N2 subclade K atau yang dikenal luas sebagai super flu di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Jawa Barat. Menkes menegaskan bahwa penyebab utama kematian pasien tersebut bukanlah infeksi virus semata, melainkan kondisi penyakit penyerta atau komorbid yang telah lama diderita.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers pada Senin (12/1). Ia menekankan pentingnya memahami konteks medis secara utuh agar masyarakat tidak salah menafsirkan informasi terkait kematian pasien yang terinfeksi virus influenza.
Menurut Menkes, keberadaan virus di dalam tubuh seseorang tidak otomatis menjadi penyebab langsung kematian, terutama jika pasien memiliki riwayat penyakit kronis yang berat. Dalam banyak kasus, komorbid justru menjadi faktor penentu yang memperburuk kondisi pasien hingga berujung fatal.
“Sebagai ilustrasi, jika seseorang sedang flu lalu mengalami kecelakaan tertabrak mobil dan meninggal dunia, maka penyebab kematiannya adalah kecelakaan tersebut, bukan flunya. Hal yang sama juga terjadi pada kasus di Bandung. Pasien tersebut meninggal karena memang memiliki riwayat penyakit lain yang cukup berat,” ujar Budi Gunadi Sadikin.
Menkes Pastikan Bukan Klaster Baru
Menkes juga meluruskan kekhawatiran publik terkait dugaan munculnya klaster baru super flu di Indonesia. Ia memastikan bahwa kasus yang ditangani RSHS Bandung bukanlah temuan baru, melainkan bagian dari data yang sudah lama berada dalam pemantauan Kementerian Kesehatan.
Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa secara nasional telah terdeteksi total 62 kasus Influenza A H3N2 subclade K di berbagai wilayah Indonesia. Dengan demikian, kasus di Bandung merupakan bagian dari rangkaian kasus tersebut, bukan lonjakan mendadak atau wabah baru.
Ia menegaskan bahwa Kementerian Kesehatan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus influenza, termasuk varian H3N2 subclade K, untuk memastikan situasi tetap terkendali.
RSHS Tangani 10 Pasien Super Flu
Sebelumnya, pihak RSHS Bandung melaporkan telah menangani 10 pasien dengan gejala infeksi Influenza A H3N2 subclade K. Dari jumlah tersebut, satu pasien dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat kondisi kesehatan yang memburuk.
Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging RSHS Bandung, dr. Yovita Hartantri, menjelaskan bahwa pemantauan terhadap pasien yang diduga terinfeksi super flu telah dilakukan sejak Agustus hingga November 2025. Berdasarkan evaluasi medis, tren kasus justru menunjukkan penurunan signifikan sejak November tahun lalu.
Meski demikian, dr. Yovita menyebutkan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium terhadap seluruh sampel baru diterima secara lengkap pada Januari 2026. Hal inilah yang membuat informasi mengenai 10 kasus positif tersebut baru diumumkan ke publik.
Menjangkiti Berbagai Kelompok Usia
Berdasarkan data medis RSHS Bandung, virus Influenza A H3N2 subclade K diketahui menyerang pasien dari berbagai kelompok usia. Dua di antaranya merupakan bayi berusia 9 bulan dan 1 tahun, sementara pasien lainnya berusia 11 tahun hingga kelompok usia dewasa, dengan mayoritas berada pada rentang 20 hingga 60 tahun.
Temuan ini menunjukkan bahwa virus tersebut tidak mengenal batas usia dan dapat menginfeksi siapa saja. Namun, tingkat keparahan penyakit sangat bergantung pada kondisi kesehatan dasar masing-masing pasien.
Kematian Akibat Komplikasi Penyakit Berat
Terkait pasien yang meninggal dunia, dr. Yovita menjelaskan bahwa pasien tersebut termasuk dalam dua pasien dengan kondisi paling berat. Satu pasien menjalani perawatan di ruang high care unit (HCU), sementara pasien yang meninggal dunia dirawat di ruang intensive care unit (ICU).
Berdasarkan catatan medis, pasien tersebut memiliki riwayat penyakit penyerta yang kompleks, mulai dari stroke, gagal jantung, infeksi sistemik, hingga gagal ginjal. Kombinasi penyakit tersebut memperparah kondisi pasien selama perawatan.
“Pasien yang dirawat di ICU akhirnya meninggal dunia akibat komplikasi komorbid yang sangat kompleks. Dengan kondisi tersebut, kami tidak dapat menyatakan bahwa kematian ini disebabkan langsung oleh virus super flu,” tegas dr. Yovita.
Imbauan Menkes kepada Masyarakat
Menkes Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik menyikapi informasi mengenai super flu. Ia menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh, terutama bagi individu dengan penyakit kronis, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala infeksi saluran pernapasan.
Pemerintah memastikan pemantauan terhadap kasus influenza tetap berjalan dan meminta masyarakat menyaring informasi dengan bijak agar tidak terjebak pada kesimpulan yang menyesatkan. (nsp)