- Twitter/@LPDP_RI
Pemerintah Tambah Kuota LPDP 5.750 Kursi pada 2026, Fokus Cetak Talenta Global
Jakarta, tvOnenews.com — Pemerintah kembali memperluas akses pendidikan tinggi sebagai bagian dari strategi penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) nasional. Pada tahun anggaran 2026, kuota penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) resmi ditambah menjadi 5.750 kursi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan bahwa penambahan kuota ini menjadi wujud komitmen negara dalam memastikan generasi muda Indonesia memiliki peluang setara untuk mengembangkan kompetensi dan bersaing di tingkat global.
“Kami ingin negara hadir dalam setiap langkah anak bangsa yang ingin maju. Program LPDP terus melahirkan talenta unggul, dan pada 2026 kami menargetkan 5.750 penerima beasiswa baru,” ujar Brian di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (16/1/2026).
Menurut Brian, Indonesia setiap tahun meluluskan sekitar 1,7 juta mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari sains, teknologi, hingga ilmu sosial. Potensi besar tersebut dinilai harus dikonversi menjadi kekuatan produktif melalui dukungan pembiayaan pendidikan dan penguatan ekosistem pengembangan talenta.
Ia menegaskan, investasi negara di sektor pendidikan tinggi tidak hanya berdampak pada individu penerima beasiswa, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun daya saing bangsa di tengah dinamika global.
“Kalau kita ingin naik kelas sebagai negara maju, maka kualitas SDM harus menjadi prioritas utama. Beasiswa LPDP adalah salah satu instrumen strategis untuk itu,” jelasnya.
Rincian Kuota LPDP 2026
Dalam skema tahun 2026, pemerintah membagi kuota LPDP ke dalam beberapa jenjang pendidikan dengan fokus kebutuhan nasional, sebagai berikut:
-
1.000 kursi untuk Beasiswa Garuda jenjang S1
-
4.000 kursi untuk jenjang S2 dan S3
-
750 kursi untuk program doktor spesialis
Brian menambahkan, alokasi terbesar memang diarahkan ke jenjang magister dan doktor. Hal ini dilakukan agar pengembangan SDM selaras dengan kebutuhan industri strategis nasional serta agenda pembangunan jangka menengah dan panjang pemerintah.
“Program S2 dan S3 akan disesuaikan dengan arah pertumbuhan industri yang dicanangkan Presiden dalam Asta Cita. Kita membutuhkan tenaga ahli yang benar-benar relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional,” ungkapnya.
Pemerintah juga memastikan bahwa penyaluran beasiswa LPDP tetap mengedepankan prinsip meritokrasi, keterbukaan, serta pemerataan akses bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang sosial dan wilayah.
KIP Kuliah Tetap Jadi Jangkar Akses Pendidikan
Selain LPDP, pemerintah terus memperkuat program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) sebagai pilar utama akses pendidikan tinggi bagi masyarakat kurang mampu. Saat ini, lebih dari 1,1 juta mahasiswa aktif tercatat menerima bantuan pembebasan biaya kuliah serta bantuan biaya hidup melalui skema tersebut.
Total anggaran yang digelontorkan negara untuk program KIP-K mencapai sekitar Rp16 triliun per tahun. Kebijakan ini ditujukan untuk memastikan faktor ekonomi tidak menjadi penghambat utama bagi generasi muda dalam mengakses pendidikan tinggi, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta.
“Tidak boleh ada anak bangsa yang terhenti pendidikannya hanya karena keterbatasan biaya. Negara harus hadir untuk membuka jalan,” tegas Brian.
Dorong Produktivitas dan Daya Saing Nasional
Pemerintah menilai, percepatan pengembangan talenta melalui beasiswa dan penyelarasan kebutuhan industri merupakan kunci untuk meningkatkan produktivitas nasional. SDM yang unggul dan kompetitif diharapkan mampu mendorong inovasi, memperkuat sektor strategis, serta meningkatkan posisi Indonesia di tengah persaingan global.
Dengan tambahan kuota LPDP 2026 dan penguatan KIP Kuliah, pemerintah optimistis agenda pembangunan SDM akan semakin terakselerasi. Kebijakan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas utama dalam strategi pembangunan nasional ke depan.
Langkah tersebut juga diharapkan mampu menciptakan efek berantai, mulai dari peningkatan kualitas riset, penguatan sektor industri, hingga tumbuhnya generasi profesional dan akademisi yang siap membawa Indonesia bersaing di panggung dunia. (agr/nsp)