- Antara
Viral Taksi Elektrik Seruduk Warung Makan, Pakar Safety Ungkap Kesalahan Fatal Sang Sopir
Jakarta, tvOnenews.com - Insiden kecelakaan yang melibatkan sebuah taksi elektrik hingga menabrak kios rumah makan menjadi sorotan tajam pengamat keselamatan berkendara.
Kejadian taksi tersebut dinilai menjadi bukti nyata bahwa kemahiran menyetir saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan stabilitas emosi dan pemahaman teknis kendaraan yang mumpuni.
Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menegaskan bahwa setiap pengendara wajib mengendalikan ego dan emosinya.
Menurutnya, kondisi psikologis yang tidak stabil saat berada di balik kemudi dapat memicu tindakan ceroboh yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Peristiwa kendaraan yang tiba-tiba mundur tanpa kendali hingga menghantam bangunan, menurut Sony, adalah cermin pentingnya menjaga ketenangan dalam situasi apa pun.
Selain itu, ia menyoroti urgensi bagi setiap pengemudi mobil elektrik maupun konvensional bertransmisi otomatis untuk benar-benar menguasai sistem operasional kendaraan mereka.
Ia menekankan bahwa risiko ini tidak hanya menghantui mobil listrik (EV), tetapi juga kendaraan bermesin bensin (ICE) yang menggunakan sistem transmisi otomatis.
"Pada kasus ini jelas pengemudi gagal paham terkait sistem operasional yang benar atau terburu-buru dalam bertindak,” ungkap Sony Susmana, Jumat (16/1).
Sony mengingatkan adanya protokol keselamatan baku yang haram untuk dilanggar; pengemudi dilarang keras meninggalkan kendaraan dalam posisi mesin atau sistem masih aktif.
Sebelum turun, pengemudi wajib memastikan tuas transmisi berada di posisi P (Park) dan menarik rem tangan (handbrake) dengan sempurna.
Menganalisis video taksi yang beredar di media sosial, Sony menduga adanya kelalaian prosedur akibat faktor terburu-buru atau emosi yang sedang meluap.
"Yang viral di medsos kemungkinan besar posisi gear R dan tidak di-release ke P oleh drivernya. Hal ini bisa terjadi kelupaan akibat emosi atau terburu-buru dalam operasional. Nah, ini harus menjadi perhatian buat pengemudi yang sistem selected gearnya model tombol/soft touch atau rotater,” jelas Sony.
Belajar dari kecelakaan ini, Sony menyarankan agar setiap perusahaan penyedia jasa transportasi lebih selektif dan rutin memberikan pelatihan keselamatan.