news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto memberikan penjelasan panjang terkait pengangkatan dirinya sebagai Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional (DPN)..
Sumber :
  • YouTube/Sabrang MDP Official

Sabrang Tegaskan Tak akan Jadi “Ayam Sayur” Usai Jadi TA DPN, Noe Letto: Tidak Mengubah Apapun!

Sabrang Mowo Damar Panuluh menjawab kekhawatiran publik atas keputusannya bergabung dalam lingkar pemerintahan sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN).
Minggu, 25 Januari 2026 - 05:00 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto menegaskan dirinya tidak akan berubah menjadi sosok yang jinak setelah jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN).

Putra budayawan Emha Ainun Najib atau Cak Nun itu menekankan, penunjukan sebagai TA DPN tidak akan memengaruhi sikap kritisnya terhadap pemerintah.

Ia menyatakan tetap akan menyampaikan kritik dan pandangan, terutama melalui forum Maiyah Kenduri Cinta yang digagas ayahnya.

Melalui video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya beberapa waktu lalu, Noe Letto tak menampik adanya kekhawatiran publik atas keputusannya bergabung dalam lingkar pemerintahan, mengingat rekam jejaknya yang kerap melontarkan kritik.

"Kalau ada yang khawatir apa saya di bawah Bahlil, di bawah Gibran, ya ora mungkin wis, gak urusan. Yang saya takuti cuma Si Mbah (Cak Nun) karo Gusti Allah,” seloroh Noe, dikutip Minggu (25/1/2026).

"Posisi saya di DPN tidak mengubah apa pun sama sekali. Maiyahan, saya tetap Maiyahan posisinya, karena itu yang primer, itu nomor satu," tegasnya.

Noe alias Sabrang juga menanggapi gelombang kritik dan keraguan publik terhadap langkahnya menerima jabatan tersebut.

Ia menilai sikap skeptis masyarakat sebagai bentuk kontrol yang wajar terhadap pejabat publik, utamanya terkait dirinya yang kini harus berpeci dan berdasi.

"Skeptisisme ini bukan serangan, ini pengawasan. Dan ini wajar dan seharusnya memang skeptis. Nanti Sabrang yang kemarin ngomongnya kayak gitu apakah jadi ayam sayur (pengecut)? Apakah terus kemudian nggak jadi ngomong lagi? Jadi letoy? Ya, sangat wajar, sangat wajar ditanyakan seperti itu," tutur dia.

Ia mengaku telah memahami sumber keresahan publik dan menyadari sejak awal bahwa pengangkatannya berpotensi memicu polemik.

Cendekiawan muda yang sering membagikan pemikiran-pemikiran kompleksnya ini lalu menjelaskan peran Tenaga Ahli DPN yang bersifat memberikan masukan, bukan menetapkan regulasi.

“Tenaga ahli itu memberi masukan kepada pemerintah, mungkin bisa diteruskan ke presiden, terhadap situasi, risiko, dan rekomendasi," ujarnya.

Menurut Sabrang, jabatan tersebut menjadi ruang eksperimental untuk menyampaikan rekomendasi strategis kepada pimpinan, yakni Ketua DPN yang dijabat langsung Presiden Prabowo Subianto serta Ketua Harian DPN yang dijabat Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.

Lewat video berdurasi lebih dari 40 menit itu, Sabrang memaparkan secara rinci berbagai gagasan dan perspektifnya, termasuk terkait isu pertahanan negara.

Ia juga menguraikan kompetensinya sebagai Tenaga Ahli DPN dan menegaskan bahwa perannya tidak berkaitan dengan strategi perang bersenjata.

Fokus kerjanya berada pada ranah kognitif, seperti pola pikir, pengelolaan informasi, analisis risiko, dan perumusan rekomendasi kebijakan.

Budayawan yang sekaligus musisi berusia 46 tahun ini berpandangan bahwa konsep pertahanan negara tidak bisa dibatasi pada konflik fisik semata.

Menurutnya, banyak negara justru melemah akibat ancaman non-fisik, seperti perang ekonomi dan perang kognitif.

"Perang kognitif itu berhubungan dengan yang kamu pakai sehari-hari. Yang mempengaruhi otak, yang seperti kita ini, pecah belah satu sama lain," ujarnya.

Dalam konteks ini, Sabrang menyebut memiliki latar belakang riset dan analisis strategis yang selama ini kurang terekspos ke publik.

Memang bukan rahasia lagi jika Sabrang aktif sebagai pembicara dan peneliti isu strategis lebih dominan dibandingkan kariernya di dunia musik.

Sebagai contoh, pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, Noe pernah menyusun kajian mendalam mengenai dampak media sosial terhadap persatuan bangsa, lengkap dengan rekomendasi kebijakan setebal 44 halaman.

Kajian tersebut, katanya, sempat diuji oleh 12 profesor di Yogyakarta, meski tidak berlanjut ke tahap implementasi.

"Meskipun dalam perjalanannya tidak menghasilkan apa-apa karena kemudian (pemerintah) punya banyak kepentingan lain," ujarnya. Dari pengalaman itu, ia memilih bergerak secara independen melalui platformnya sendiri.

Sebagai informasi, Dewan Pertahanan Nasional merupakan lembaga nonstruktural yang dipimpin langsung Presiden RI dan dibentuk melalui Peraturan Presiden Nomor 202 Tahun 2024.

Lembaga ini bertugas memberikan pertimbangan serta merumuskan kebijakan strategis di bidang pertahanan negara.

Ruang lingkup tugas DPN meliputi penyusunan kebijakan terpadu pertahanan, pengerahan komponen pertahanan dalam mobilisasi dan demobilisasi, penilaian risiko kebijakan, serta integrasi pemeliharaan alat utama sistem persenjataan secara berkelanjutan.

Pelantikan Sabrang alias Noe sebagai Tenaga Ahli DPN dilakukan oleh Menhan sekaligus Ketua Harian DPN Sjafrie Sjamsoeddin pada Kamis, 15 Januari 2025.

Selain dirinya, sebanyak 11 tokoh lainnya turut dilantik dalam kesempatan tersebut termasuk putra pengacara Hotman Paris Hutapea, yakni Frank Hutapea yang digadang berkaliber tinggi di bidang hukum. (rpi)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:11
01:16
05:22
07:46
02:27
01:56

Viral