- Antara/Aprillio Akbar
Kisah Nyata WNI Eks Pekerja Scam di Laos, Tidur Sekamar dengan Anjing, Sulit Menenggak Air Putih hingga Rela Bayar Ratusan Juta Rupiah Demi Nyawa
Karena percaya, Nanda masuk ke van itu. Dia dibawa ke sebuah hotel hingga keesokan harinya dia kembali diterbangka ke Luang Namtha. Menurut dia, jarak dari Vientiane ke Luang Namtha seperti Jakarta ke Semarang.
Sesampainya di Luang Namtha, dia tidak lagi ditemani “tentara” yang pertama kali menyambutnya di Vientiane. Kini dia hanya seorang diri.
Kala itu, Nanda hanya mendapatkan arahan via telepon dari seseorang yang katanya dari tempat kerjanya yang baru.
Dia diarahkan untuk naik mobil travel menuju Golden Triangle—perbatasan Laos, Myanmar dan Thailand.
Sekitar pukul 1 siang dia berangkat. Sepanjang jalan dia hanya bisa melihat gunung dengan jalan yang meliuk-liuk. Sinyal pun sudah tidak ada.
“Jalannya semacam Alas Roban,” ucapnya.
Akhirnya dia sampai di tujuan sekitar pukul 9 malam. Dia kembali diarahkan untuk menginap di hotel sebelum besoknya diarahkan lagi menuju tempat yang menurutnya seperti perbatasan antarnegara.
“Jadi ada dua trek. Yang satu buat mobil, yang satu buat jalan kaki. Gue disuruh jalan kaki. Kondisinya kayak di perbatasan USA-Mexico. Ada pager tinggi-tinggi,” katanya.
Karena saat itu “musim” Covid-19, Nanda harus di-swab dan dikarantina terlebih dahulu hingga dinyatakan aman dari virus usai melewati pagar itu.
Setelah dinyatakan lolos, dia diperintahkan untuk jalan kaki. Entah tujuannya ke mana, dia belum tahu. Saat itu ada banyak orang yang Nanda sendiri tak tahu siapa dan dari mana asalnya.
“Besoknya ada mobil jemput gue. Dijemput orang China gitu. Sepanjang jalan kondisinya kayak Las Vegas tapi versi KW. Terus gue dibawa masuk ke apartemen. Gue bodo amat. Belum mikir apa-apa waktu itu,” ungkap dia.
Nanda akhirnya mulai bekerja. Anehnya, kerja di sana dimulai pukul 10 malam. Dia membaca peraturan kerjanya.
Ternyata kerjanya harus chatting layaknya laki-laki dan perempuan hendak pendekatan atau PDKT yang ujung-ujungnya scam.
Tempat kerjanya juga tak seperti meja kantoran pada umumnya. Tempat kerjanya berupa aula besar dimana ada sekitar 300 orang dan meja plus komputer di sana.