news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

ILUSTRASI - Uang.
Sumber :
  • Antara/Aprillio Akbar

Kisah Nyata WNI Eks Pekerja Scam di Laos, Tidur Sekamar dengan Anjing, Sulit Menenggak Air Putih hingga Rela Bayar Ratusan Juta Rupiah Demi Nyawa

Inilah kisah Nanda WNI eks pekerja scam di Laos. Dia tak menyangka akhirnya bisa kembali menikmati Teh Botol dan nasi uduk di bawah terik matahari di Indonesia.
Senin, 26 Januari 2026 - 09:02 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Nanda tak menyangka akhirnya dia bisa menikmati Teh Botol dan nasi uduk di bawah terik matahari di sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta. 

Pria berusia 30 tahunan itu lantas berjanji ke dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal aneh dan akan melanjutkan hidup sebaik-baiknya. 

Tahun 2022 merupakan tahun yang berat untuk Nanda. Dia harus membiayai biaya pengobatan nenek dan omnya yang tak murah.

Kerjaan tak punya, cari kerja susah meskipun sudah mengantongi ijazah S1, lamar sana sini hanya dijanjikan “nanti dihubungi lagi ya” hingga pinjaman online pun dipilihnya sebagai jalan pintas untuk mengisi dompetnya yang semakin hari semakin menipis. Ditambah lagi, Covid-19 masih merebak. 

Ngelamar guru ngaji ditolak sampai jadi office boy juga ditolak. Semua gue lamar. Jadi tukang delivery Pizza Hut pun gue lamar,” katanya kepada tvOnenews.com, Minggu (25/1/2026). 

Kesulitan Nanda di tahun itu mencapai klimaksnya saat putus dengan tunangannya. Tunangannya selingkuh. Hubungan dengan keluarganya pun merenggang.

Dia tak tahu lagi harus ke mana dan berbuat apa. Rasanya ingin menghilang saja dari Indonesia. 

“Temen gue bilang, ‘Lu katanya mau menghilang? Nih, ada lowongan jauh’. Ya gue ambil. Gue enggak peduli kerjanya apa yang penting gue berangkat keluar Indonesia. Bodo amat enggak mikirin orang mau bawa gue ke mana karena dulu bener-bener diambang batas ya udah pengen mati ajalah,” ungkapnya. 

Di samping sikapnya saat itu yang sudah tak peduli lagi, Nanda menilai persyaratan yang dibutuhkan untuk kerja di luar Indonesia sangat mudah. Syaratnya hanya perlu bisa komputer. Bisa bahasa Inggris hanya nilai tambah.

Baginya, dua persyaratan itu sudah dikantonginya. Interview pun dijalaninya dengan mudah hingga langsung diterima bekerja.

Sekitar bulan Maret 2022, Nanda akhirnya berangkat setelah dokumen, paspor hingga tiket pesawat dikantonginya. Akhirnya dia berangkat dari Jakarta menuju Vientiane, Laos

“Sampai sana gue dijemput. Kalau setelannya preman ya gue pasti enggak mau ikut. Gue pilih beli tiket pulang lagi lah. Cuma waktu itu yang jemput gue semacam officer gitu. Dia escort gue ke van. Mobil tentara,” ujarnya.

Karena percaya, Nanda masuk ke van itu. Dia dibawa ke sebuah hotel hingga keesokan harinya dia kembali diterbangka ke Luang Namtha. Menurut dia, jarak dari Vientiane ke Luang Namtha seperti Jakarta ke Semarang. 

Sesampainya di Luang Namtha, dia tidak lagi ditemani “tentara” yang pertama kali menyambutnya di Vientiane. Kini dia hanya seorang diri. 

Kala itu, Nanda hanya mendapatkan arahan via telepon dari seseorang yang katanya dari tempat kerjanya yang baru.

Dia diarahkan untuk naik mobil travel menuju Golden Triangle—perbatasan Laos, Myanmar dan Thailand. 

Sekitar pukul 1 siang dia berangkat. Sepanjang jalan dia hanya bisa melihat gunung dengan jalan yang meliuk-liuk. Sinyal pun sudah tidak ada. 

“Jalannya semacam Alas Roban,” ucapnya.

Akhirnya dia sampai di tujuan sekitar pukul 9 malam. Dia kembali diarahkan untuk menginap di hotel sebelum besoknya diarahkan lagi menuju tempat yang menurutnya seperti perbatasan antarnegara.

“Jadi ada dua trek. Yang satu buat mobil, yang satu buat jalan kaki. Gue disuruh jalan kaki. Kondisinya kayak di perbatasan USA-Mexico. Ada pager tinggi-tinggi,” katanya. 

Karena saat itu “musim” Covid-19, Nanda harus di-swab dan dikarantina terlebih dahulu hingga dinyatakan aman dari virus usai melewati pagar itu. 

Setelah dinyatakan lolos, dia diperintahkan untuk jalan kaki. Entah tujuannya ke mana, dia belum tahu. Saat itu ada banyak orang yang Nanda sendiri tak tahu siapa dan dari mana asalnya.

“Besoknya ada mobil jemput gue. Dijemput orang China gitu. Sepanjang jalan kondisinya kayak Las Vegas tapi versi KW. Terus gue dibawa masuk ke apartemen. Gue bodo amat. Belum mikir apa-apa waktu itu,” ungkap dia. 

Nanda akhirnya mulai bekerja. Anehnya, kerja di sana dimulai pukul 10 malam. Dia membaca peraturan kerjanya.

Ternyata kerjanya harus chatting layaknya laki-laki dan perempuan hendak pendekatan atau PDKT yang ujung-ujungnya scam

Tempat kerjanya juga tak seperti meja kantoran pada umumnya. Tempat kerjanya berupa aula besar dimana ada sekitar 300 orang dan meja plus komputer di sana. 

“Kayak di warnet gitu. Isinya scammer semua. Intinya gue masuk sindikat love scamming,” katanya.

Nanda mengatakan tugasnya hanya untuk membuat korbannya percaya hingga mau menginvestasikan uang ratusan hingga ribuan dolar AS. 

Gain trust mereka. Ibaratnya ini investasi buat kita berdua (korban love scamming). Lu simpan 100 dolar AS nanti dapat another 100 dolar AS. Awal-awal memang benar,” katanya. 

Tak hanya love scamming, phishing pun dilakukan di “kantor” tersebut dengan target orang bule.

Menurut Nanda, cara kerja di sini hampir sama seperti di Film No More Bets (2023). Namun, baginya, faktanya lebih mengerikan dari yang diceritakan di film itu. 

Alhamdulillah gue enggak disiksa. Tapi tiap hari lihat orang disiksa. Ada orang baru dari Myanmar ketiduran langsung disetrum pakai setruman gajah. Depan gedung gue itu ada tembok. Cewek-cowok berjejer hadap tembok terus kepalanya dijedotin satu-satu. Yang pingsan didiemin. Orang udah enggak ada harganya,” ungkapnya. 

Nanda mulai mengenali lingkungan di sana setelah beberapa hari bekerja. Saat dia bilang dibawa ke sebuah apartemen, memang benar tempat tersebut adalah apartemen pada umumnya. 

Apartemen itu memiliki beberapa tower. Dia mengira-ngira saat itu tempat kerjanya berada di lantai 30, sedangkan kamarnya berada di lantai 18. 

Menurut Nanda, kamarnya sangat tidak manusiawi. Dia ditempatkan di kamar sempit bersama delapan orang lainnya dan tidur di bunk bed. 

Yang paling diingat Nanda adalah dia tidur satu kamar dengan anjing juga. Anjing golden retriever itu merupakan peliharaan bosnya. 

Bayangin tempat tidur bertingkat, lu kebangun bawahnya ada anjing. Anjingnya bos. Peliharaan bos ya gimana maunya dia di situ. Ber*k di kolong kasur. Gue beresin lagi. Di atas kasur orang lagi gitu (berhubungan badan). Di kasur kanan-kiri cowok sama cowok lagi gitu. Neraka banget,” terangnya. 

Kamar mandinya juga tidak bisa Nanda lupakan hingga sekarang.

“Kamar mandi ada. Yang rame-rame ada, yang satu bilik ada. Kadang gue juga mandi sama anjing,” sambungnya.  

Menurut dia, apartemen itu “hidup” seperti apartemen yang normal. Ada minimarket, spa, bahkan tempat hotpot. 

Namun, bedanya, di basement ada pabrik sabu dan dia tidak boleh melintasi pagar apartemen satu langkah pun. 

Enggak boleh keluar apartemen. Kalau gue lewatin pager, ada security yang bakal gebukin. Sekitarnya enggak ada orang. Jalan kaki semua. Makin malam, makin gelap, security malah makin banyak,” katanya. 

Bukan hanya soal fasilitas, Nanda masih mengingat soal makanan dan minuman yang disajikan di sana. 

Dia menyebut makanan di sana disajikan di nampan besi seperti di penjara. Di sana dia diberi makan dua kali sehari. 

“Seringnya dikasih chinese food. Babi ada. Gue jadi makan babi, padahal gue muslim, karena enggak ada makanan lain,” kata dia. 

Untuk minumannya, Nanda mengaku jarang menemukan air putih karena rata-rata orang di sana minum minuman keras seperti arak. 

Kalaupun dia mau minum air putih, maka dia harus membelinya sendiri di minimarket. Namun, harganya sangat mahal. Satu botol kecil air mineral saja harus ditukar dengan uang senilai Rp20.000. 

Nanda teringat pernah berusaha kabur di hari ketujuh. Saat itu, dia hendak meminta pertolongan ke sesama pekerja yang juga tidak tahu kalau pekerjaan di sana adalah scam. 

Namun, sayangnya, sangat sulit menemukan orang yang fasih berbahasa Inggris. Hingga pada akhirnya ada satu orang Myanmar yang mengajaknya untuk kabur. Nanda dan orang itu berkomunikasi hanya bermodalkan Google Translate. 

Gue izin pura-pura sakit. Akhirnya diizinin enggak kerja. Gue ke bawah apartemen sama dia. Dia ditangkap karena enggak izin, digebukin. Gue mundur. Gue coba hubungi dia lagi enggak ada kabar. Hilang,” ungkapnya. 

Nanda menyebut HP hanya boleh digunakan saat jam istirahat. Di jam-jam itulah dia menghubungi banyak pihak agar dibebaskan mulai dari keluarga–meskipun hubungannya masih renggang—, KBRI, NGO hingga korban-korbannya sendiri. 

Gue hapalin nomor victim gue. Gue bilang gue scammer. Please sebarin ke kantor media. Beberapa ada yang kecewa, beberapa ada yang support, bahkan korban gue ada yang sampai sekarang jadi teman ngobrol,” katanya. 

Pada akhirnya Nanda dipanggil karena bosnya tahu Nanda menghubungi KBRI. 

“Bos gue tahu. Itu fu*ked *p banget. Kamar gue dipindah jadi sendiri, dijagain dua security, dikurung. Enggak disiksa sih. Mereka masih berharap gue nurut,” katanya. 

Sekitar bulan Oktober/November 2022, Nanda diberi pilihan. Kalau dia mau bebas, dia harus membayar 10.000 dolar AS. Awalnya dia tak mau, namun dia tak punya pilihan. 

Akhirnya dia menggunakan seluruh uang yang dia punya mulai dari kartu kredit hingga pinjaman online kembali untuk menukarnya dengan nyawanya. 

“Sekitar Rp160 juta gue ngasihinnya,” ucap Nanda. 

Setelah membayar, tiba-tiba datang sejumlah “tentara” dan menargetkan senapan ke arahnya. Nanda pikir dia tetap akan mati di sana meskipun sudah menebus nyawanya dengan uang. 

Jiper gue. Gue mati, dibuang ke Sungai Mekong,” ucapnya. 

Namun, pada akhirnya, dia diantar ke perbatasan. Kala itu, dia diberi pilihan mau diantar pulang ke Vientiane lagi atau ke Chiang Rai, Thailand. 

Gue beli tiket dan pilih pulang dari Thailand. Enggak mau lagi ke Vientiane harus naik travel lewat jalan itu. Takut diculik di tengah jalan,” kata dia. 

Pada akhirnya, meskipun boncos ratusan juta rupiah, Nanda akhirnya bisa kembali lagi ke Indonesia tanpa bantuan siapapun setelah delapan bulan lamanya berada di tempat yang menurutnya seperti neraka. 

Nanda masih ingat saat itu dia dijanjikan upah Rp17 juta. Namun, gajinya terus-menerus dipotong hingga menjadi Rp5 juta saja per bulan. 

“Digaji. Tapi lama-lama uangnya balik lagi ke mereka. Bulan pertama Rp17 juta. Katanya lu baru datang dikasih setengahnya aja. Bulan kedua full. Bulan ketiga dipotong karena gue enggak hasilin apa-apa. Dipotong, dipotong, dipotong sampai gaji gue 5 jutaan doang kalau di-rupiah-in,” jelasnya. 

Kini, Nada sudah memulai hidupnya yang baru. Saat ini dia bekerja sebagai Social Media Specialist ponsel ternama. 

Kemlu Wanti-Wanti

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengimbau seluruh calon pekerja migran Indonesia untuk selalu mengikuti prosedur resmi dan peraturan yang berlaku baik itu bekerja di Indonesia maupun di negara tujuan.

Lagi-lagi Kemlu menegaskan bahwa kepatuhan terhadap prosedur resmi sangatlah penting untuk menghindari risiko penipuan, eksploitasi hingga permasalahan hukum yang merugikan baik diri sendiri maupun keluarga di tanah air. (nsi)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:26
04:58
07:37
08:43
02:27
01:02

Viral