- Tangkapan Layar Siaran YouTube BI
Rupiah Bakal Kembali Menguat, Bos BI Beberkan Indikatornya
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo meyakini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memiliki kecenderungan untuk terus menguat ke depannya.
Sejumlah hal yang menopang keyakinan tersebut diakui Perry antara lain seperti rendahnya inflasi, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik.
Meski demikian, Perry menjelaskan bahwa pada Desember 2025, nilai tukar rupiah berada di level Rp 16.675 per dolar AS, melemah 3,48 persen dibandingkan akhir tahun 2024.
Pelemahan itu berlanjut hingga 23 Januari 2026, dimana kurs rupiah tercatat di 16.815 per dolar AS atau melemah 0,83 persen dibandingkan dengan level akhir Desember 2025.
"Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing, akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global," kata Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK I Tahun 2026, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.
Faktor lain yang menyebabkan pelemahan rupiah diakui Perry adalah adanya kenaikan permintaan valas oleh perbankan dan korporasi domestik, yang sejalan dengan kegiatan ekonomi.
Ke depan, Perry pun menegaskan komitmen BI untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, melalui intervensi terukur di transaksi non-deliverable forward (NDF) pasar luar negeri maupun domestik.
Tak hanya itu, Perry menegaskan bahwa BI juga akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di pasar spot dalam negeri, serta memperkuat strategi operasi moneter yang pro market.
Dengan berbagai upaya dan strategi tersebut, Perry meyakini bahwa ke depan kinerja nilai tukar rupiah diprediksi akan kembali stabil, bahkan cenderung menguat.
"Ke depan, nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujarnya.
Mohammad Yudha Prasetya